Jakarta – Pengakuan mengejutkan datang dari seorang mantan Medical Representative atau biasa disingkat Medrep yang bercerita bagaimana kenakalan pihak dokter dan perusahaan farmasi terhadap pasien yang berobat.

Banyak masyarakat yang tidak begitu mengerti dengan jenis resep yang ditulis oleh dokter, “ pihak apoteker tertawa lucu karena obat yang seharusnya untuk anak-anak juga diresepkan oleh dokter untuk orang dewasa,” ujar mantan Medrep menceritakan pengalaman lucunya.

Pengalaman ini terjadi sekitar tahun 2008 lalu, ketika dirinya menjalin kerjasama dengan seorang dokter paru-paru yang bekerja di sebuah Rumah Sakit pinggiran Kota Jakarta, kerjasama ini hanya secara lisan berupa obat antibiotik cair, dan dokter yang membutuhkan dana untuk berlibur ke Bali mengajukan pinjaman sebesar Rp. 20 juta.

Usai berlibur setiap pasien yang memeriksakan dirinya mendapatkan resep dari Dokter berupa antibiotik cair, tanpa terkecuali dewasa ataupun anak-anak, untuk mengembalikan utangnya kepada pihak farmasi, dan dalam waktu enam bulan dokter berhasil melunasi sebesar Rp. 100 juta sesuai dengan perjanjian.

“ banyak orang menjadi resisten terhadap antibiotik golongan rendah, gara-gara dokter mengdakan kerjasama hanya untuk melunasi kewajibannya,” ujarnya di sebuah gerai fastfood di bilangan Sutera Alam Tagerang Selatan Banten.

Pernyataan Medrep, yang dikutip dari media kesehatan, memberikan penjelasan bagaimana ketika dirinya harus berhadapan dengan dokter anak ketika salah seorang anknya sakit demam, dan diberi resep antibiotik golongan dua.

Merasa mengerti dirnya meminta Amoxicilin untuk anak-anak, sambil mengatakan jika dirinya adalah Medrep, dan demam anaknya turun dalam dua hari menggunakan Amoxicilin. Mengaku sebagai orang farmasi menjadi peluru untuk tidak menjadi korban resep nakal dari dokter.

(jall/sumber)

loading...