Jakarta – Ternyata Walhi dalam mendalami kasus pembakaran hutan tidak hanya menemukan perusahaan yang harus bertanggung jawab, terkait pembakaran hutan dan lahan yang merenggut nyawa manusia.

Walhi menemukan indikasi berupa klaim asuransi akibat pembakaran hutan, “ bukan hanya land clearing, penyiapan lahan juga mengklaim asuransi, ini modus baru,” Anton P Wijaya, Direktur Eksekutif Walhi Kalimantan Barat.

Modus ini masih dalam tahap penyidikan oleh pihak Walhi, “ Ketika kebun dibuka dalam hitungan ekonomi tak produktif, maka dihanguskan agar mendapatkan asuransi, uangnya diapaki untuk membuka lahan baru diwilayah lain,” ujar Anton, namun dirinya belum bersedia memberikan nama-nama perusahaan, Anton hanya mengatakan jika grup perusahaan besar terlibat.

Berapa besaran diterima jika perusahaan ajukan klaim asuransi ? dalam brosur salah satu perusahaan asuransi yang bergerak di bidang kehutanan, PT. IBS Insurance Broking Service, beralamat di Indonesia Stock Exchange Building Tower II lantai 27 Jalan Ienderal Sudirman Jakarta.

Pihaknya memberikan ganti rugi lahan gulma atau semak belukar yang terbakar sebesar US$ 2.500.000 untuk setiap kejadian, dan untuk pemadaman juga mendapatkan ganti rugi sebesar Rp. 250 juta setiap kejadian.

Dalam brosur juga menyatakan batas maksimum tanggung jawab ganti rugi sebesar US$ 10 juta dan apabila kebakaran menimpa lebih dari satu perusahaan maka maksimum jaminan asuransi mencapai US$ 20 juta dolar untuk setiap kejadian. 

Sementara itu Walhi Kalbar sedang membuka posko untuk mendapatkan dukungan dari masyarakat, terkait dengan rencana gugatan kepada penyelenggara Negara, “ kita sedang siapkan gugatan melalui Citizen Law Suit” da nada tujuh posko pendaftaran gugatan,” ujar Anton yang berharap masyarakat mau ikut memberikan dukungan untuk mendapatkan hak-hak masyarakat dari tanggung jawab Negara.

Data yang berhasil dihimpun oleh Walhi, masyarakat yang terserang Infeksi Saluran Pernapasan Akut, atau yang biasa disingkat ISPA, untuk Daerah Jambi sebanyak 20.471 orang, Kalimantan Tengah 15.138 penderita, Sumatera Selatan 28.000, dan Kalimantan Barat 10.010 orang. (jall/sumber)

loading...