Jakarta – Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (WALHI) merilis daftar perusahaan besar (Korporasi) di balik kebakaran hutan dan lahan di Indonesia wilayah Riau, Jambi, Sumatera Selatan, Kalimantan Barat, dan Kalimantan Tengah, “Hasil analisis menunjukkan mayoritas titik api di dalam konsesi perusahaan, 5.669 titik api, perkebunan sawit 9.168,” kata Edo Rahkman, Manajer Kampanye Walhi Nasional di Jakarta, pekan lalu.

Adapun Wilayah Kalimantan Tengah Sinar Mas dengan 3 anak perusahaan, di Wilayah Riau Perusahaan dengan nama Wilmar dengan 14 perusahaan, dengan anak usaha Asia Pulp and Paper (APP) 6, Sinar Mas 6, APRIL 6, Simederby 1, First Resources 1 dan Provident 1 perusahaan.

Untuk wilayah Sumatera Selatan ada 8 grup Sinar Mas dan 11 Wilmar, PT. Sampoerna 4 perusahaan, PTPN 3 perusahaan, Simederby 1 perusahaan, Cargil 1 perusahaan, dan 3 perusahaan milik Marubeni, sementara di Kalimantan Barat Sinar Mas 6, RGM/ APRIL 6. Dan untuk wilayah di Jambi Sinar Mas 2 dan Wilmar 2 perusahaan.

“Kebakaran, karena pola penguasaan lahan korporasi terlalu luas, dari 15,3 juta hektar luas Kalteng, 12,7 juta hektar (78%) dikuasai investasi,” tutur Arie Rompas Direktur Eksekutif Walhi Kalteng, meliputi usaha HPH, Sawit dan Pertambangan.

Untuk lahan Gambut Kalimantan Tengah memiliki lahan paling luas 3,1 juta hektar, dan sudah habis untuk investasi perkebunan sawit, “ pembukaan lahan gambut di jaman orde baru sebesar satu juta hektar yang menjadi titik api, sementara gambut itu ekosistim basah yang ketika kering mudah terbakar,” ujar Arie.

Dari seluruh perusahaan yang didapat datanya, menurut Walhi baru 30 perusahaan yang disidiki, 10 disegel, namun semuanya belum jelas tindakan selanjutnya, “ anehnya yang ditetapkan mabes Polri hanya 3 perusahaan kecil,” ujarnya kesal, dikarenakan perusahaan besar sama sekali tidak tersentuh.

Yang dimaksudkan perusahaan besar masing-masing Grup Wilmar, Best Agro International, Sinar Mas, Musimas, Minamas, dan Julong Grup, yang melakukan akumulasi mulai dari pemilik lahan, membeli CPO dari perusahaan kecil dan menengah, dan akhirnya mendapatkan keuntungan dari hasil pembakaran hutan dan lahan.

Anton P Wijaya, Direktur Eksekutif Walhi Kalbar menjelaskan untuk wilayah Kalimantan Barat tidak berbeda jauh, “ sudah habis untuk konsesi,” ujarnya keras, dari data Walhi Kalteng sebanyak dari 14.680.700 hektar, konsesi perkebunan sawit 5.387.610,41 hektar dikuasai 550 perusahaan, pertambangan 6,4 juta hektar 817 IUP, dan HTI 2,4 juta hektar 52 perusahaan.

Sementara lahan gambut ada 2.383.227,114 hektar, di dalamnya, perkebunan sawit 153 perusahaan seluas 860.011,81 hektar, HTI 27 perusahaan seluas 472.428,86 hektar, dengan totoal konsesi seluas 1.302.498,92 hektar. “Data tak kami berikan kepada Kepolisian. Kami berikan kepada KLHK dengan harapan segera ditindak serius. Kami kecewa progres penegakan hukum kepolisian,” ujar Anton dengan nada kecewa.
(jall/sumber)

loading...