Pembawaberita- Proses tender pekerjaan pembuatan dokumentasi Tokoh Seni Indonesia, ULP Ditjen Kebudayaan Kemendikbud dinilai tidak transparan & diduga adanya permainan antara panitia tender dengan pemenang tender.

Peserta pendaftar tender berjumlah 24 perusahaan baik berbentuk PT maupun CV. Dari ke 24 perusahaan yg mendaftar, hanya empat (4) perusahaan yg memasukan dokumen, yakni: PT. Visimedia Visualindo, PT. Gemilang Inti Cahaya, PT. Padi Padi Creative & PT. Asia Kreatif Mediatama, dan dari ke empat (4) perusahaan ini hanya dua (2) perusahaan yang dinyatakan lolos kualifikasi, adminsitrasi, teknis dan harga, yakni PT. Visimedia Visualindo dan PT. Padi Padi Creative

Tercatat bahwa ke empat (4) Perusahaan yg memasukan dokumen antara lain:

PT. Visimedia Visualindo, harga penawaran Rp. 660.415.000, dinyatakan lulus dokumen ,
PT. Gemilang Inti Cahaya, harga penawaran Rp. 700.325.000, dinyatakan tidak lulus dokumen,
PT. Padi Padi Creative, harga penawaran Rp. 725.975.000, dinyatakan lulus dokumen,
PT. Asia kreatif Mediatama, harga penawaran Rp. 776.900.000, dinyatakan tidak lulus dokumen
Ketika panitia lelang mengumumkan awal dan menetapkan PT. Padi Padi Creative sebagai pemenang tender, hal itu dinilai tidak sesuai perpres No. 54 tahun 2010 dan ketentuan-ketentuan yang berlaku sebagai tender lelang dengan system gugur, harusnya perusahaan yang harga terendah sebagai pemenang tender setelah dinyatakan lulus dokumen, baik dokumen kualifikasi, teknis, administrasi maupun dokumen harga.

Anehnya, dipengumuman kedua, hari Senin (12/10/15) pukul 14.55 melalui LPSE Kemendiknas sudah berubah penetapannya, pemenang tender masih dipegang oleh PT. Padi Padi Creative dan Pihak panitia mencoret daftar yang awalnya lulus dokumen persyaratan tender, yakni PT. Visimedia Visualindo menjadi tidak lulus dokumen persyaratan tender.

Hal ini jelas adanya indikasi dugaan tender yg tidak sehat antara pemenang dengan panitia tender LPSE Kemendiknas, ULP. Ditjen Kebudayaan Kemendikbud.

Menurut Yuslan Arif, Direktur PT. Visimedia Visualindo mengatakan, “ini sudah tidak sesuai dengan aturan maen yg mengacu pada perpers No. 54 tahun 2010 tentang pengadaan barang/jasa pemerintah. Ucap Yuslan.

Dengan mencoret PT. Visimedia Visualindo sebagai perusahaan yang awalnya lulus dokumen persyaratan tender dokumentasi Tokoh Seni Indonesia lalu pada pengumuman kedua, Senin (12/10/15) dinyatakan tidak lulus dokumen. Ini menjadi pertanyaan besar, pasalnya, PT. Visimedia Visualindo memiliki harga terendah diantara ke empat (4) perusahaan yang memasukan dokumen tender dan telah dinyatakan lulus dokumen.

Panitia ULP Ditjen Kebudayaan Kemendikbud diduga lakukan pelanggaran UU. No. 54 tahun 2010 tentang pengadaan barang/jasa dengan mencoret nama PT. Visimedia Visualindo dari daftar lulus dokumen tender, panitia lelang mengira akan aman untuk kelangsungan project tersebut.

“kami meminta pihak Inspektorat Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan serta Menteri Kemendikbud untuk ambil sikap atas kelalaian dan keteledoran sehingga diindikasikan ketidak profesionalan panitia lelang proyek dokumentasi Tokoh Seni Indonesia ULP Ditjen Kebudayaan Kemendikbud.” Tegas Yuslan.

Yuslan menjelaskan bahwa dirinya sudah ajukan sanggahan kepihak panitia lelang dokumentasi Tokoh Seni Indonesia, Sabtu (10/10/15) pukul 13.04 melalui online LPSE Kemendikbud. Jawaban yang diterimanya dari LPSE Kemendikbud sesuai No : 7685/JS/ULP/Bud/X/2015, Senin (12/10/15) pukul 09.33 yang menjelaskan alasannya bahwa, “telah terjadi kesalahan input pada system LPSE sehingga menjadi perbedaan pada berita acara hasil pelelangan dan input evaluasi. Maka Pokja pembuatan dokumentasi Tokoh Seni Indonesia akan melakukan evaluasi ulang sesuai jadwal yang ditentukan kemudian.(Pembawaberita/os/news).

loading...