Washington – Tim ilmuwan yang dipimpin, Joshua Schiffman, seorang dokter ahli kanker anak di Huntsman Cancer Institute di Fakultas Kedokteran Universitas Utah, dan Primary Children’s Hospital berkolaborasi dengan Kebun Binatang Hogle di Utah dan Ringling Brothers Center untuk konservasi gajah, dengan tujuan untuk penyembuhan kanker.

Mereka mengambil darah dari gajah sirkus yang ditempatkan di pusat konservasi gajah tersebut dan dengan sengaja merusak sel DNA, dengan maksud untuk memunculkan penyakit kanker.

Namun apa yang terjadi, sel-sel tersebut “bunuh diri,” menurut para peneliti, “Seolah-olah gajah-gajah itu mengatakan, ‘Kita tidak boleh kena kanker, jadi kita akan bunuh sel (DNA yang rusak) ini dan mulai dari awal,” kata Schiffman, seperti dikutip dari VOA.

“Kalau sel (DNA) yang rusak itu dimatikan, maka sel itu akan hilang, dan tidak berubah menjadi kanker. Ini mungkin pendekatan yang lebih efektif untuk mencegah kanker daripada mencoba menghentikan sel yang bermutasi membelah diri, dan sel rusak itu tidak bisa memperbaikinya sendiri,” lanjut Schiffman.

Menurut penelitian mereka, sel-sel gajah “memiliki 38 alel tambahan dari satu gen yang membentuk p53, sebuah gen penghambat tumor, dibandingkan dengan manusia, yang hanya memiliki dua alel,” kata para ilmuwan Universitas Utah dalam sebuah penelitian yang terbit di Journal of the American Medical Association (JAMA) edisi terbaru.

Di antara sel gajah yang terisolasi, sel yang rusak dan mungkin mengandung kanker dihancurkan dua kali lipat lebih cepat daripada sel-sel manusia yang sehat serta lima kali lebih cepat daripada orang-orang yang memiliki sindrom Li-Fraumeni, yaitu hanya memiliki satu gen p53 yang berfungsi. Orang-orang yang memiliki sindrom ini, memiliki resiko terkena kanker lebih dari 90 sepanjang hidupnya.

Secara logika karena gajah memiliki sel 100 kali lebih banyak daripada manusia, mereka sepertinya lebih rentan terhadap sel rusak yang berpotensi menjadi kanker 100 kali lebih banyak. Tapi kenyataannya tidak seperti itu.

“gajah semestinya mengembangkan kanker dalam jumlah besar, dan semestinya saat ini sudah punah akibat resiko terkena kanker yang tinggi,” kata Joshua Schiffman, dirinya  menduga adanya lebih banyak gen p53 pada tubuh gajah adalah cara alamiah untuk menjaga agar spesies ini tetap hidup.

(jall)

loading...