JAKARTA, PEMBAWA BERITA. COM: Senior Manager Corporate Communication PT Kereta Api Indonesia Daop 1 Jakarta Bambang S Prayitno mengatakan banyaknya perlintasan sebidang pada jalur kereta api, khususnya di DKI Jakarta menimbulkan masalah yang cukup pelik. 

“Di satu sisi masih dibutuhkan masyarakat sebagai jalan pintas, di sisi lain perlintasan sebidang menimbulkan risiko cukup tinggi pada keamanan perjalanan kereta api,” kata       Senior Manager Corporate Communication PT Kereta Api Indonesia Daop 1 Jakarta Bambang S Prayitno dalam Kampanye Keamanan Perlintasan sebidang Kereta api kerja sama IRPS dan PT KAI, di Jakarta, Kamis (15/10/2015).

Menurut Bambang, data perlintasan di wilayah Daerah Operasi 1 Jakarta terdapat 533 perlintasan dengan rincian 158 dijaga PT KAI, 35 dijaga pihak luar, 106 tidak dijaga, liar 186, dan flyover/ underpass 48 lokasi.

Menurut dia, secara hukum negara telah mengatur dalam undang-undang No 22 Tahun 2009 tentang lalu lintas dan angkutan jalan. 

“Dalam Pasal 114 UU tersebut ditegaskan bahwa pada perlintasan sebidang antara jalur kereta api dan jalan, pengemudi kendaraan wajib berhenti ketika sinyal sudah berbunyi, palang pintu kereta api sudah mulai ditutup, dan/ atau ada isyarat lain,” katanya.      

Selain itu, mendahulukan kereta api dan memberikan hak utama kepada kendaraan yang lebih dahulu melintasi rel. 
“Bagi para pelanggar, dalam pasal 296 telah ditetapkan sanksi tegas, yaitu penjara paling lama tiga bulan atau denda maksimal Rp 750.000,” katanya. 

Ketua Indonesian Railway Preservation Society Budi Bahariawan Sofyan mengatakan kegiatan kampanye tersebut dilaksanakan sebagai bentuk tanggung jawab nya sebagai pecinta kereta api.

“Kami ingin ikut menyadarkan masyarakat akan bahaya menerobos perlintasan,” kata Budi.

Menurut dia, kendati sudah jatuh cukup banyak korban, masyarakat masih menganggap enteng hal ini. (Agus)          

loading...