PB,  JAKARTA :  Ketua Pansus Pelindo II Rieke Diah Pitaloka membeberkan hasil rapat Pansus Angket Pelindo II bersama Brigjen Pol. (purnawirawan) Victor Edi Simanjuntak (Mantan Direktur Tindak Pidana Ekonomi Khusus), yang digelar di Ruang Panja Paripurna, Gedung Nusantara II Lt. 2 DPR RI, Rabu (21/10/2015). 

Rapat yang dimulai  pukul 10.46 WIB ini menghasilkan 9 poin atau kesimpulan terkait kasus Pelindo II.

” Teman-teman, kami ingin umumkan hasil rapat hari ini terkait kasus Pelindo II,” kata Rieke.

Berikut 9 poin kesimpulannya :

Pertama, terdapat tiga kasus yang diselidiki yaitu, pengadaan mobil crane, QCC dan Simulator Mobil Crane. Akan tetapi, bukti yang mencukupi untuk dilanjutkan menjadi penyidikan hanya pengadaan mobil crane.

Kedua, pengadaan 10 unit mobil crane dilakukan oleh Pelindo II dengan perencanaan yang tidak benar. Berikutnya, 10 unit mobil crane diperuntukkan bagi pelabuhan tanpa melakukan peninjauan kebutuhan pelabuhan terlebih dahulu. Akibatnya, pelabuhan menolak unit yang diserahkan oleh Pelindo, karena merasa tidak butuh unit tersebut dan Selain itu pelabuhan merasa tidak pernah mengajukan unit-unit tersebut.

Ketiga,  kesepakatan seharusnya dilakukan antara Pelindo II dengan masing-masing General Manager pelabuhan. Namun, karena General Manager pelabuhan menolak, kesepakatan yang ada dilakukan antara Pelindo dengan manajer teknik pelabuhan.

Kelima,  terjadi penunjukan perusahaan pengadaan barang yang tidak memenuhi standar minimal lelang. Standar minimal perusahaan yang mengikuti lelang pengadaan barang yakni pengalaman lima tahun. 

Kronologisnya, tender dilakukan dua kali. Tender pertama diikuti oleh lima perusahaan dan digugurkan karena PT. Guangxi Narishi Century Equipment sebagai salah satu perusahaan peserta lelang memberikan penawaran melampaui harga perkiraan sendiri (HPS). Pada tender kedua hanya PT. Guangxi Narishi Century Equipment yang mengikuti tender. Syarat minimal tender diadakan oleh tiga peserta perusahaan.

Keenam, tanggal 28 Juni 2015 ada laporan informasi penyelidikan nomor 163. Ketika melakukan penyelidikan, Bareskrim melakukan wawancara terhadap 8 orang. 8 orang tersebut kemudian menjadi saksi kunci dari pendalaman kasus ini.

Ketujuh, ada tiga kali gelar perkara: yyaitu pada 15 Juni 2015: sudah ada dua alat bukti, tapi Bareskrim memutuskan untuk mencari alat bukti tambahan.Lalu pada 15 Juli 2015: diadakan gelar perkara kedua, kemudian Bareskrim melakukan wawancara saksi lagi. Dan pada 26 Agustus 2015: karena alat bukti sudah tiga alat bukti, maka Bareskrim menyatakan untuk melanjutkan penyidikan.

Delapan, penggeledahan dilakukan pada 28 Agustus 2015 dengan berkas administrasi yang memenuhi persyaratan dan dapat dipertanggungjawabkan. Bareskrim sempat dihalang-halangi oleh Dirut Pelindo. Setelah dinyatakan akan dilakukan penangkapan, baru dipersilahkan. 

Sembilan, dalam penggeledahan ke kantor RJ Lino, Bareskrim menemukan audit dari BPK yang berisi pelanggaran-pelanggaran oleh Pelindo. Yaitu ada alat bukti yang disita, antara lain: surat audit BPK, CPU data-data QCC, simulasi mobil crane dan log book. Unit mobil crane diberikan police line,” tandasnya. (Lus)

loading...