PB, Jakarta – Kementerian Maritim dan Sumber Daya mengatakan Task Force Dweeling Time atau Satuan Tugas (Satgas) Dweeling Time telah menunjukkan hasil positif dengan beberapa langkah strategis yang telah tercapai, terkait dengan perizinan perdagangan, kepabeanan dan transportasi kereta api pelabuhan.

Deputi II Bidang Koordinasi Sumber Daya Alam Deputi dan Jasa dari Kementerian Koodinator Kemaritiman dan Sumber Daya,  Agung Kuswandono mengatakan bahwa terkait dengan peraturan perizinan perdagangan, telah dilakukan deregulasi terhadap 32 peraturan di lingkungan Kementerian Perdagangan berkaitan dengan sejumlah impor yang masih terkena yang mengatur ketentuan tentang larangan dan pembatasan (lartas).

Agung menambahkan,  dari 32 peraturan mengenai lartas tersebut, sebanyak 16 aturan yang sudah berhasil dihapus, dilakukan perbaikan atau revisi dan terdapat 4 aturan lain yang terkait besi baja, gula, printer foto copy warna dan garam yang masih memerlukan negosiasi dan hitungan yang lebih rinci.

Selain itu dalam hal kepabeanan, Ditjen Bea dan Cukai melalui kantor Pelayanan Utama Bea Cukai Tipe A Tanjung Priok telah berkoordinasi dengan Kementerian Perdagangan  untuk membuka pos tersendiri di Cikarang Dry Port (CDP) untuk dipakai sebagai lokasi pelabelan merk dagang.

Dengan demikian, pelabelan atau pelekatan label/ merek dagang barang impor yang selama ini biasa dilakukan di Tempat Penimbunan Sementara yang lokasinya tersebar di kawasan pelabuhan Tanjung Priok dapat dilakukan di satu lokasi saja.

Untuk menjamin hal ini bisa dilaksanakan, Bea Cukai telah meminta kepada CDP untuk menyediakan lokasi khusus pada area penimbunan kontainer yang bisa digunakan untuk melakukan pelabelan merek dagang.

Kebijakan ini telah disosialisasikan melalui media termasuk media luar negeri dan telah dipahami oleh importir. Bila tindakan ini diambil maka diperkirakan akan mengurangi Dweeling Time 0,5-1,0 hari.

Diketahui saat ini di CDP dengan luas area 250 HA dapat menampung sebanyak 7,2 juta Kontainer.

Adapun untuk transportasi kereta barang ke dalam pelabuhan Tanjung Priok, didapat informasi bahwa  proses pengadaan lahan dan pembayarannya telah diselesaikan sejak Agustus- September 2015.

PT KAPM sebagai pelaksana Jasa konstruksi telah melakukan Aanwijzing lapangan pada kedua lokasi perpanjangan rel kereta dan telah mendapatkan kesimpulan bahwa lokasi penambahan jalur kereta Pasoso ke rencana Stasiun Dermaga 208 tidak memiliki masalah.

Namun demikian masih ada sedikit kendala pada rencana lokasi stasiun CY JICT yakni terdapat timbunan material milik Ditjen Bina Marga, Kemen PU dan Perumahan Rakyat yang masih akan menggunakan lahan tersebut hingga Oktober 2015.

Panjang rel kereta baru yang akan di bangun menuju ke dalam terminal JICT adalah sepanjang 1,2 km. Untuk menjamin adanya akses keluar masuk dari terminal JICT menuju stasiun CY JICT, PT KAI dan Ditjen Bina Marga telah sepakat untuk melakukan pergeseran/ perubahan ramp off yang sudah dibangun.

Apabila pelaksanaan kegiatan penambahan panjang rel kereta stasiun Pasoso- stasiun CY JICT berjalan baik maka ditargetkan pada Desember 2015 dan selambatnya Pebruari 2016 kereta barang khusus dengan trayek Tanjung Priok Cikarang Dry Port Bekasi sudah bisa dioperasikan

(Beby)

loading...