PB Jakarta’ “Infrastruktur adalah kata kunci pembangunan nasional yang sebelum ini nyaris jadi klise, karena lebih sering dibicarakan ketimbang dilaksanakan, tapi kini di Kabinet Kerja, berbagai kebuntuan pembangunan infrastruktur mulai didobrak dan pembangunannya sudah digulirkan secara masif dalam skala nasional. BUMN bekerja keras mewujudkan harapan rakyat dalam berbagai kehidupan” sekelumit kata pengantar yang disampaikan oleh Menteri BUMN, Rini Soemarno dalam laporan 1 tahun Kementerian BUMN yang bertema “BUMN Hadir Untuk Negeri”. Dibawah kepemimpinan Rini, BUMN tengah berupaya melakukan pendobrakkan-pendobrakkan untuk mengoptimalkan pembangunan infrastruktur dalam menopang kinerja dan efektifitas sistem perekonomian bangsa Indonesia. Langkah-langkah dan terobosan yang dilakukan BUMN selama 1 tahun ini adalah sebagai berikut :

Untuk mendobrak kebuntuan pembangunan jalan tol yang mandek, BUMN mengambil alih hak pengelolaan ruas tol Bekasi-Cawang-Kampung Melayu (Becakayu), yang mangkrek selama 17 tahun. Pada tahun 1997, PT  Kresna Kusuma Dyandra Marga, mendapatkan hak pengelolaan ruas tol Bekasi-Cawang-Kampung Melayu (Becakayu), namun krisis yang melanda di tahun 1997-1998 mengakibatkan pembangunan terhenti, saat ditangani Kresna selama 7 tahun, realisasinya kurang dari 5%. Kemudian proyek tersebut diambil alih PT. Waskita Karya (Persero) dan dalam 1 tahun pengerjaannya realisasi sudah mencapai 33,9% dengan penyerapan tenaga kerja sekitar 7.710 orang. Kelanjutan pengelolaan ruas tol Becakayu tersebut penting untuk mengurangi kemacetan di Jakarta dan Bekasi.

Selain itu pembangunan 4 ruas jalan tol Trans Sumatera yang digulirkan sejak tahun 2005, sempat mengalami kemandekan dikarenakan Internal Rate of Return (IRR) pertahun kurang dari 10% atau dengan kata lain secara finansial dinilai tidak laik padahal potensi wilayah tersebut cukup besar. Dan melalui Perpres No. 100/2014, PT. Hutama Karya mengambil alih dan melakukan ground breaking pada tahun 2015. Dalam hal ini Rini mengapresiasi sinergi Hutama Karya yang tengah merealisasikan sejumlah proyek infrastruktur.  tol Bakauheni-Palembang yang ditargetkan tersambung pada Juni 2018. Selain itu ada pula jalan tol Medan-Binjai sepanjang 17 kilometer yang ditargetkan selesai pada Maret 2017.

Masalah kebuntuan proyek pembangunan transportasi massal diwilayah Jakarta, sejak 2004 PT. Adhi Karya (Persero) tbk, melalui skema right issue, mendapat suntikan modal dari pemerintah dan publik sebesar Rp 2,74 T. Dan Adhi Karya secara finansial mampu mampu menjadi kontraktor moda kereta ringan (Light Right Transit) yang lebih fleksibel dan efisien.

Perjalanan panjang pembangunan Transportasi Publik Jakarta dari tahun 2004 hingga tahun 2015 dialami BUMN. Juni 2004 proyek monarail diresmikan dan pada Juni 2005 konsorium PT. Jakarta Monorail and Omico Singapura gagal menyetor modal uang yang telah disepakati. Pada bulan Oktober 2015, Monorail kembali digulirkan tetapi kembali mangkrak, hingga pada Januari 2015, PT. Adhi Karya menawarkan monorail ke Pemprov DKI dengan route baru. Di bulan Februari 2015, Adhi Karya dipastikan mendapat PMN untuk mengerjakan transportasi massal. Pada Maret 2015 Adhi Karya merombak konsep monorail menjadi LRT dikarenakan design yang lebih fleksibel dan efisien, dengan daya angkut 24.000 PPHD dan kecepatan operasi 60-80 km/jam. Hingga pada bulan September 2015, Pembangunan LRT diresmikan, dengan nilai proyek sebesar 24 T dan diharapkan rampung pada tahun 2018.

Untuk menopang Ketahanan Energi, 3 BUMN (PLN, PGN, dan Pertamina) telah mengambil langkah terobosan untuk memastikan terwujudnya ketahanan energi nasional. PLN bergerak cepat membangun pembangkit tenaga listrik dalam program 35.000 MW dan 7.000 MW (sisa pemerintah sebelumnya). Sedang PGN terus memperluas infrastruktur pipa gas, termasuk mengambil alih yang mangkrak, sedang Pertamina menambah jumlah kilang minyak secara organik dan non organik (akuisisi).

Tanggung jawab terberat dalam pembangunan infrastruktur ada di kelistrikan dan bahan bakar, dan pekerjaan tersebut dilakukan oleh dua BUMN, yakni PT PLN (Persero) dan PT Pertamina (Persero). Rini mengatakan, tanpa listrik yang cukup tidak mungkin perekonomian bisa maju. “Di bawah Pak Sofyan (Dirut PLN-red) ini sudah banyak perbaikan, terutama memperbaiki list pelanggan. Sehingga pada 2016 nanti sudah bisa menurunkan subsidi listrik Rp 30 triliun,” ungkap Rini. Sedangkan untuk PT Pertamina (Persero), Rini sangat mengapresiasi upaya BUMN energi tersebut untuk meningkatkan produksi bahan bakar, salah satunya adalah dengan mengakuisisi kilang TPPI di Tuban, Jawa Timur. Serta upaya Pertamina dalam merevitalisasi kilang Cilacap, dikarenakan hal tersebut dapat menurunkan impor bahan bakar minyak dalam bulan-bulan mendatang sampai 30 persen.

“Yang paling utama, sekarang Pertamina sudah bisa memproduksi avtur, setelah sekian lama”. ucap Rini. Ucapan selamatpun diberikan kepada Dwi Soetjipto oleh Menteri.

Namun Rini juga mengakui kalau ada dua perusahaan plat merah yang masih belum melakukan sinergi BUMN.  “PGN dan Pertagas ini belum berhasil sinerginya. Mengenai pipa-pipa. Kemarin Pak Presiden menyinggung kita semua, masih kurang sinergi di perpipaan,” ungkap Rini. Rini pun meminta, ke depan, Pertagas dan PGN lebih bisa menjalin sinergi.

Untuk mewujudkan BUMN sebagai Jangkar dalam Infrastruktur Maritim, BUMN akan mengerjakan proyek strategis infrastruktur maritim di 45 lokasi dilima proyek pelàbuhan utama yakni terminal Multi-Purpose Kuala Tanjung, Makasar New Port, New Priok, Teluk Lamong dan Sorong dengan total nilai investasi Rp 109,3 T. Dalam Perencanaan Nilai Proyek Pelabuhan BUMN  2015-2019, Pelindo II membutuhkan investasi terbesar yaitu Rp 45,5 T dakam jangka waktu lima tahun, kemudian New Priok 24,8 T dan Pelabuhan Sorong Rp 3T.

Progres pembangunan infrastruktur strategis juga dilakukan BUMN mulai dari bandara, pelabuhan, pembangkit listrik, pelabuhan sampai pasar rakyat.

Beberapa pembangunan yang telah dilakukan di Indonesia Timur yaitu

– Jayapura,  Pembangunan Pasar Pharaa Sentani seluas 4.500 meter persegi di Jayapura dengan total investasi Rp 119M untuk pasar dengan daya tampung 1.114 kios dan an Rp 15M untuk terminal.

– Makassar New Port yang dirancang untuk membangun konektivitas, berkaitan dengan hal ini, Pelindo IV telah menandatangani kesepakatan kerjasama dengan BUMN konstruksi PT PP (Persero) tbk. Target penyelesaian diperjirakan akan selesai pada tahun 2018 dan progres hingga Oktober 2015 pengerjaan telah mencapai 5,56%.

– PLTU dan PLTA Jayapura, PLN hampjr menyelesaikan beberapa proyek pembangkit listrik di wilayah PLTU Jayapura dan PLTA Ora-Genyem Papua. Untuk PLTU Jayapura dapat menampung kapasitas 2x10MW, diharapkan target operasi dapat dilaksanakan pada Desember 2015, dan saat ini Status Pembangunan sudah mencapai 95%. Sedangkan untuk PLTA Ora-Genyem Jayapura dapat menampung 2x10MW, dengan target operasi di bulan Oktober 2016, Status Pembangunan sudah mencapai 93%.

– Sulawesi Selatan, PLN sudah menandatangani perjanjian pembelian listrik dari pembangkit listrik tenaga terbarukan di Sulawesi Selatan pada PLTB Sidrap. PLTB Sidrap mempunyai kapasitas 70MW, Status Pembangunan Groundbreaking 19 Oktober dengan target penyelesaian pada tahun 2017 mendatang.

– Pengembangan Bandara Syamsudin Noor Banjarmasin, yang dilakukan oleh Angkasa Pura dengan 2 paket pengerjaan yaitu : Paket 1 pengerjaan proyek terminal dengan perkembangan sudah mencapai pelelangan dan Paket 2 pengerjaan Proyek Infrastruktur yang sedang dilakukan persiapan lelang.

Dalam pembangunan di Kawasan Ekonomi Sumatera, BUMN melakukan sinergi untuk merevitalisasi, menggerakkan dan menghubungkan Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Sei Mangkei dengan kawasan industri baru di Kuala Tanjung. Ketiadaan akses di 3 sektor vital (energi, telekomunikasi dan transportasi ) menjadi kendala di kawasan ekonomi Sumatera, untuk mengatasinya BUMN menyediakan akses yang menghubungkan Sei Mangkei dengan Kuala Tanjung.

KEK Sei Mangkei telah dirintis sejak tahun 2006 dan dikelola oleh PTPN III dengan tenant yang telah beroperasi dari PT. Unilever Olechemical Indonesia dengan komitment investasi Rp 2T, merupakan pabrik kelapa sawit dan Pabrik Pengolahan Palm Kernel Oil. Sedangkan Kuaka Tanjung yang luasnya 3.000 Ha, terdapat industeri Alumunium Terintegrasi yang akan dibangun oleh PT Pelindo 1, PTPN III, dan PT. Inalium, dengan total nilai proyek di RKAP 2015 sebesar USD2.424, 18 juta dan mampu menyerap tenaga kerja sebanyak 2.244 orang. Dimana  PT. Inalum bekerjasama dengab ANTAM tbk akan membangun pabrik pemurnian Alumina, Pabrik Kaisinasi Kokas, Pabrik peleburan Aluminium, Pabrik produksi turunan aluminium serta pabrik diversifikasi produk aluminium.

Pembangunan Koridor Ekonomi Jakarta-Bandung, bukan hanya sekedar kereta api cepat,  namun merupakan High Speed Rail (HSR) yang terintegrasi dengan pengembangan kawasan terpadu (Transit Oriented Development, TOD) untuk menciptakan sentra ekonomi baru yakni Kota Baru Wallini seluas 2.995 ha. Nilai investasi untuk Koridor Ekonomi Terpadu tersebut diperkirakan akan menelan dana sebesar USD5,58 M. yang diperuntukkan 7% akan dikeluarkan untuk pembangunan sarana berupa rolling stock dan 93% untuk pengembangan sarana TOD. Tahap pertama pembangunan Jalur HSR dan lokasi TOD akan dilakukan di Halim, Karawang, Walini dan Gedebage.

Sebagai pilar dalam menyangga ketahanan pangan dan tersedianya perumahan yang layak untuk masyarakat, BUMN berprinsip mewujudkan “Negara Hadir” bagi kesejahteraan rakyat. Untuk menjaga ketahan pangan, dalam hal ini Bulog telah menjaga harga beras/gabah ditingkat produsen melalui pembelian gabah/beras minimal seharga HPP. Volume Penyerapan beras petani pada Januari hingga Oktober 2015 telah mencapai 2,53 juta ton, ini meningkat dibanding pada periode 2014 yang hanya mencapai 2,37 juta ton.

Untuk menyediakan dan menyalurkan beras bersubsidi bagi kelompok masyarakat berpenghasilan rendah (program raskin), volume penyaluran raskin di bulan Januari hingga Oktober 2015, telah mencapai 2,28 juta ton. Dalam menjaga program Stabilisasi Pangan seperti : kedelai, daging sapi, cabai, bawang merah di tingkat konsumen, hingga per 13 Oktober 2015, untuk sapi mencapai 7.685 ekor importasi sapi hidup, 6.632 ekor untuk Stok sapi potong impor dan 390 ekor perdagangan daging sapi. Sedangkan bawang merah, pembelian bawang merah dari petani mencapai 124.782 kg, dan cabai merah sebanyak 18.511 kg. Selain itu Rini mengungkapkan bahwa peningkatan produksi gula cukup bagus, “Saya juga senang kemarin keliling-keliling pabrik gula. Saya harus berterimakasih kepada PTPN yang memproduksi gula, dulu rendemen 6,5-7, sekarang di beberapa tempat sudah ada yang 10. Setahun ini peningkatan produksi gula bagus, dan efisiensi BBM tinggi,”.

Sedangkan dalam pengadaan perumahan bagi rakyat, PP Property membuat konsep apartemen untuk warga menengah-bawah dikawasan industeri Gunung Puteri Bogor, seluas 2,1ha dan mampu menampung 1.736 unit dengan nilai proyek sebesar Rp 500M.

Berkaitan dengan terobosan pendanaan, Rini mengatakan “Peningkatan capex BUMN di tahun-tahun mendatang diproyeksikan akan terus meningkat sejalan dengan kebijakan pemerintah menambah Penyertaan Modal Negara (PMN) kepada sejumlah BUMN,”  Tahun ini 36 BUMN disetujui menerima PMN senilai Rp 41,42T yang dimanfaatkan untuk pendanaan proyek senilai Rp 271,76T, dan tahun anggaran 2016, PMN dialokasikan sebesar Rp34,23 T. “Pemberian PMN ini dalam rangka mengoptimalkan peran BUMN sebagai agen pembangunan, yang diharapkan dapat mewujudkan program-program prioritas yang berorientasi pertumbuhan ekonomi,” kata Rini menegaskan.

Di bidang perbankan, Rini juga terus mendorong sinergi antar bank-bank plat merah untuk merealisasikan Anjungan Tunai Mandiri (ATM) bersama. Menurut dia, Direktur Utama PT BRI Asmawi Syam yang juga ketua Himbara berkomitmen proyek ATM bersama ini bisa terealisasi pada akhir tahun 2016.

Dukungan dalam Strategi Nasional Inklusi Keuangan , BUMN memperluas akses keuangan masyarakat melalui perluasan jaringan, penyaluran pembiayaan dan asuransi. Penyaluran Kredit Usaha Rakyat (KUR) bagi masyarakat diberbagai sektor dilakukan melalui Bank BRI, Bank BNI dan Bank Mandiri, dengan bunga 12% dibebankan terhadap debitur dan 7% melalui subsidi pemerintah.

Ke depan, lanjut Rini, dibutuhkan terobosan-terobosan baru yang mampu mengangkat citra BUMN.

“Kami BUMN mendorong untuk bisa merubah mind set kita. Waktunya untuk bekerja, bekerja, bekerja, dan bagaimana kita bisa kerja efisien dan aktif untuk bangun negeri ini. Ke depan saya harapkan bisa ditingkatkan lagi,” imbuhnya. (Hefrizal)

loading...