PB, Sumedang – Pecun atau lomba balap perahu di Sungai Cimanuk, merupakan sebuah budaya masyarakat Desa/Kecamatan Tomo Kabupaten Sumedang untuk memperingati hari Kemerdekaan RI, 17 Agustus.

Para peserta mengikuti  lomba ini hanya untuk hiburan semata, tidak terpokus kepada hadiahnya.

Akan tetapi, pemerintahan Kecamatan Tomo selalu menyediakan hadiah berupa, domba, ayam, pakaian, payung dan lain sebagainya yang bersipat menghibur.

Peserta pecun biasanya dari desa-desa yang ada di kecamatan Tomo, bisa dikatakan pula sebagai turnamen antar desa. Satu Desa bisa mengirimkan 2 sampai 3 tim dengan pemenang terakhir sebagai juara. Pada pelaksanaannya, tidak hanya peserta tersebut yang menjadi juara, akan tetapi seluruh tim dari desa menjadi bagian dari pemenangnya.

Saat pecun digelar, tepi sungai yang nmenjadi arena selalu ramai dikunjungi para penonton, bahkan dari Jakarta dan Bandung pun datang, bahkan Gubernur Jawa Barat sebelumnya, R. Nuriana, datang hanya khusus untuk menonton dan memberikan hadiah berupa domba jantan.

Lomba balap perahu ini menggunakan perahu khusus untuk mengambil ikan di sungai Cimanuk, dengan panjang sekitar 4 sampai 5 meter.

Sementara alat untuk mendayungnya disebut welah, dan ujung perahu dijadikan sebagai  penunjuk arah dari perahu diberi nama Caruk, untuk harga sebuah perahu mencapai Rp 1,5 sampai 2 juta.

Kelas yang dilombakan terdiri dari putra dan putri. Peserta harus menempuh lintasan sepanjang 150 sampai 200 meter.

Satu perahu dinaiki oleh 2 orang, di depan sebagai tenaga utama dengan posisi jongkok, sementara di belakang sebagai juru kemudi berposisi duduk, untuk menentukan arah perahu dengan cara melihat caruk.

Uswati, seorang warga Dusun Cikalong, Desa Tomo, mengatakan dirinya pernah menjuarai lomba ini merasa bangga. Apalagi, waktu itu hadiah diberikan langsung oleh Gubernur Jawa Barat, R Nuriana.

“Saya waktu itu diberi hadiah berupa domba jantan dari Gubernur Jabar. Dombanya sangat besar,” katanya di kediamannya belum lama ini.

Uswati menerangkan jika dirinya menjadi juru kemudi dan duduk di belakang, ” Supir (juru kemudi) harus pintar-pintar mengarahkan perahu. Kadang-kadang, peserta saling menghalangi karena ingin saling mendahului,” jelasnya.

Sebelum berangkat, sebut Uswati, masih ada kepercayaan dalam masyarakat jika ingin menjadi juara,  Misalnya, harus berangkat jam berapa dan darimana.

“terkadang, kami harus bertanya dulu ke orang dianggap pintar jika mau berangkat,” terangnya.

Menurutnya, selama pelaksanaan pecun setiap tahun, tidak pernah ada kecelakaan ataupun kekhawatiran akan terjadi kecelakaan.

“Selama ini tidak ada kekhawatiran akan terjadi kecelakaan, karena tidak pernah terjadi, disamping itu, sungai pun tidak dalam keadaan pasang dan para peserta ahli berenang,” tandasnya.

Uswati mengharapkan budaya ini terus dipertahankan, karena ini merupakan budaya khas Tomo, tidak ada di daerah lain, Selain itu, pecun juga bisa menjadi potensi pariwisata bagi kecamatan Tomo.

(Ariosut)

loading...