PB, Cianjur-Tiga motif batik sekolah asal Cianjur yang sudah dipatenkan dipalsukan. Diduga ada pabrik yang memroduksi batik secara ilegal tanpa izin dari pemilik hak cipta. Atas pemalsuan ini, angka kerugian ditaksir mencapai Rp2,3 miliar.

Ketiga batik yang dipalsukan yakni motif Gurisa yang dikenakan siswa sekolah dasar, Kinanti bagi siswa sekolah menengah pertama dan Pangkur yang membalut pelajar sekolah menengah atas. Ketiganya merupakan bagian dari batik khas Cianjur, yakni Beasan.

Pemalsuan ini pertama kali dicurigai saat puluhan ribu batik tidak kunjung terserap oleh sekolah meski telah memasuki tahun ajaran baru.

Menurut Ketua Lembaga Pengkajian, Pengembangan, Pemberdayaan Ekonomi Masyarakat (LP3EM) Hibar, Harry Mulyana Sastrakusumah, karena itu, pihaknya pun lantas merasa ada kejanggalan.

“Ada 54.000 batik yang masih ada saja tidak terserap. Dugaan awal mungkin karena sekolah belum menerima bantuan operasional siswa,” ujar yang selama ini mengelola hak cipta Batik Beasan Cianjur, Jumat (6/11).

Diungkapkan Harry, kecurigaan itu menguat dengan adanya laporan dari sejumlah sekolah soal pengiriman batik tanpa pemesanan. Motif batik tersebut mirip dengan aslinya namun dengan nama pengirimnya berbeda.

“Guru itu tanya ‘Pak Harry, ini barang Pak Harry? Kenapa yang mengirimnya beda?’ kata saya ya jelas bukan. Ternyata ada yang memproduksi tanpa hak cipta,” jelas dia.

Menurut pria yang dikenal sebagai penggiat dan pelestari batik Cianjuran itu, distribusi batik hanya dilakukan setelah mengajukan pemesanan. Sedangkan mereka yang diduga memalsukan, mengirim batik tanpa dipesan sebelumnya.

Harga batik palsu ini pun relatif lebih murah yakni Rp35.000. Sedangkan, harga batik asli yakni Rp42.500 untuk motif SD dan Rp45.000 untuk motif SMP dan SMA.

Temuan batik palsu ini didapat di sejumlah kecamatan di Cianjur Selatan. Seperti di Agrabinta, Tanggeung, Cibinong, Pasirkuda, Naringgul dan Leles.

“Hitung saja satu kecamatan bisa lima sampai enam sekolah. Yang banyak dipalsukan batik SD yang Gurisa,” kata dia.

Berbeda dengan daerah lain, batik sekolah Cianjur menggunakan motif hasil perlombaan yang diikuti para pelajar. Dengan kata lain, batik yang digunakan pelajar merupakan buah tangan pelajar itu sendiri.

Hak ciptanya pun dimiliki pemenang perlombaan yang juga pelajar. Dengan pemalsuan ini, kata Harry, pelaku mencederai nilai warisan budaya serta merampas hak dari pencipta.

“Pemilik hak cipta ini anak pelajar, batik SD dibuat oleh anak SD, batik SMP dibuat anak SMP dan begitu juga anak SMA. Dari satu pakaian, pemilik hak cipta mendapat Rp1.000. Otomatis dengan pemilik hak cipta kehilangan penghargaan atas hasil karyanya,” ujar dia.

Berdasarkan kesepakatan para pengrajin, batik Cianjur harus dibuat oleh Cianjur dan dibuat di Cianjur. Pemalsuan ini, lanjut dia, sudah dilaporkan ke kepolisian dengan tuduhan melanggar Undang-undang 22 tahun 2014 tentang Hak Cipta.

Kepala Kepolisian Resor Cianjur AKBP Asep Guntur Rahayu membenarkan adanya laporan tersebut. Dari hasil keterangan pelapor, kasus ini masuk dalam kategori pelanggaran hak cipta.

“Laporan sudah diterima dan sedang ditindaklanjuti. Dari hasil keterangan sementara, kasus ini melanggar hak atas kekayaan intelektual,” kata Asep.

Diungkapkan Asep, tujuan dari pemalsuan ini untuk memperoleh keuntungan dari barang yang tengah dibutuhkan masyarakat. Untuk tindak lanjutnya, kepolisian akan meminta keterangan pelapor sebelum terjun memeriksa barang bukti.

Berdasarkan undang-undang yang dikenakan, pelaku dapat dikenai hukum penjara selama 5 tahun dan denda Rp5 miliar. Sedangkan pembeli barang akan diminta mengembalikan barang dan diwajibkan mengganti jumlah transaksi hingga sepuluh kali lipat.

“Sedangkan barangnya, seluruhnya disita,” pungkas dia.(ruh)

loading...