Sejak beberapa hari ini, Menteri BUMN Rini Soemarno menjadi sosok yang ramai diberitakan. Banyak pihak yang mendesak Presiden Jokowi untuk mengganti Rini Soemarno dari kursi Menteri BUMN.

Desakan itu datang dari berbagai pihak mulai dari partai PDIP, para anggota DPR dari KMP, sampai masyarakat banyak. Rini sendiri menangkis segala tuduhan kepadanya dengan sebuah pertanyaan lugas: “Apa kesalahan saya? Mengapa saya terus dirongrong? Apakah ada dosa yang saya buat?” Atas dasar pertanyaan Menteri Rini itu, maka saya tertarik untuk meramu 7 kesalahan Rini Soemarno terkait dengan jabatannya sebagai Menteri BUMN.

Pertama, sejak menjadi menteri, Rini menjauh dari PDIP. Rini Soemarno adalah menteri perdagangan dan perindustrian di era Presiden Megawati. Sebelum menjadi Menteri BUMN, Rini sangat dekat dengan Megawati.

Namun setelah menjadi menteri Jokowi, Rini bersikap profesional dan tidak lagi mengikuti maunya partai PDIP apalagi si nyonya besar Megawati. Rini belajar dari pengalaman sebelumnya bersama Megawati. Banyak BUMN dijual dan kebijakan pemutihan dana BLBI bermasalah sampai sekarang. Sebagai seorang menteri BUMN, Rini harus profesional mengelola aset negara sebesar 4.600 triliun rupiah.

Dalam kacamata Rini, BUMN harus memberikan keuntungan bagi negara. Untuk mengelolanya harus benar-benar mandiri, lepas dari gangguan partai apalagi jika adanya intervensi partai. Tentu saja sikap Rini ini membuat PDIP marah, berbalik menyerangnya tanpa lelah dan mencapnya sebagai pengkhianat.

Kedua, mengangkat direksi dan komisaris jajaran BUMN dari relawan Jokowi. Sebagai seorang Menteri BUMN yang memimpin sederet perusahaan negara terkemuka seperti Pertamina, PLN, Pelindo, Garuda, Angkasa Pura, Pelindo, PT Pos, PT Kereta Api, Pelni dan sejumlah bank BUMN, Rini mempunyai wewenang untuk merombak jajaran direksi di setiap perusahaan BUMN tersebut di atas. Masalahnya, Rini mengangkat direksi dan komisaris jajaran BUMN itu kebanyakan dari relawan Jokowi sebelumnya. Ini tentunya sebagai tanam jasa dan diamini oleh Presiden Jokowi.

Tentu saja tindakan Rini itu membuat elit PDIP dan sejumlah pihak lain cemburu. Mereka yang tadinya mengharapkan jabatan dari Rini, namun setelah menunggu sekian lama, mereka dan keluarga mereka tidak mendapat jatah  di lahan yang basah. Jelas situasi ini membuat PDIP marah besar.

Ketiga, Rini mendapat dana penyertaan modal negara (PMN) yang sangat besar. Menteri BUMN Rini Soemarno adalah  satu-satunya menteri yang mencetak sejarah. Tidak ada seorang pun menteri yang mendapat kucuran dana dari APBN yang mencapai Rp 104 triliun Rupiah.  Jumlah itu yang terbesar dalam sejarah.

Sebagai perbandingan, di zaman SBY dari tahun 2010-2014, dana PMN yang dianggarkan dari APBN hanya sebesar Rp 24 triliun. Sementara Rini, dana PMN yang dia peroleh dalam  APBN 2015 saja sebesar Rp 64.8 triliun dan meminta PMN pada anggaran 2016 sebesar Rp 39 triliun. Tentu saja para anggota DPR cemburu kepada Rini atas dana PMN sebesar itu.

PDIP juga cemburu karena Jokowi membiarkan Rini memperoleh dana sebesar itu. Gara-gara PMN itu, anggota DPR berseteru lelah membahasa RAPBN 2016 di Senayan. Para anggota DPR pun marah karena Rini ngoto meminta dana PMN itu sebagai modal usaha BUMN dalam menjalankan kegiatan bisnisnya. Salah satu di antaranya akan digunakan oleh PLN untuk membangun listrik 35 ribu MW.

Keempat, BUMN di tangan Rini tak bisa kompromi. Sejak dipimpin oleh Dahlan Iskan dan sekarang diteruskan oleh Rini, semua BUMN diperintahkan untuk menolak apapun bentuk permintaan dana dari DPR, partai dan dari pihak mana saja. Rini sekarang telah membuat BUMN menjadi perusahaan yang profesional dan ke depan dapat lebih menguntungkan negara. Rini tidak bisa lagi membiarkan BUMN menjadi ‘sapi perah’ para anggota DPR. Proposal permintaan  dana dari DPR ditolak mentah-mentah oleh Rini. Tentu saja hal itu membuat anggota DPR tidak menyukai Rini, apalagi  partai PDIP.
1
Kelima, Rini terlalu dekat dengan Jokowi. Rini adalah salah satu menteri favorit Jokowi. Sejak awal kampanye Jokowi, Rinilah yang berjuang mencari dana kampanye dari pengusaha. Karena Rini sudah melalang buana memimpin berbagai perusahaan besar, maka Rini tidak kesulitan menghimpun dana besar dari pengusaha bagi kampanye Jokowi. Tentu saja setelah Jokowi menang,  maka Rini dianggap Jokowi sebagai orang yang sangat berjasa mengantar dirinya menuju RI-1.

Tak heran kalau Rini adalah salah satu menteri favorit Jokowi. Ini tentu saja membuat pihak lain cemburu. Saat reshuffle kabinet Jilid I yang lalu, Rini tidak ikut dilengserkan. Rini tetap adem ayem saja kendatipun serangan dari berbagai penjuru menerpanya. Toh yang berkuasa adalah Jokowi dan bukan yang lain.

Sudah pasti Jokowi harus berhitung seribu kali untuk mengganti Rini. Rini adalah orang yang paling berjasa dalam diri Jokowi hingga menduduki jabatan presiden bersama Luhut Pandjaitan. Pantaskah orang yang berjasa disingkirkan begitu saja? Prestasi Rini juga tidak buruk-buruk amat. BUMN di tangannya masih berjalan dengan baik. Rini juga belum terbukti korupsi atau melanggar kode etik jabatan. Kinerja Rini di mata Jokowi lumayan bagus dan akan lebih bagus di masa depan. Kedekatan Rini-Jokowi inilah yang membuat pihak lain iri dan ingin merusak hubungan keduanya demi kepentingan si perusak.

Keenam, kepretan Rizal Ramli tidak mempan. Rizal Ramli masuk ke dalam kabinet Jokowi atas masukan dari PDIP sebetulnya untuk menghantam Menteri Rini yang cukup tahan banting. Terbukti hanya sehari setelah dilantik, Rizal menyerang Rini bertubi-tubi. Sampai sekarang, kepretan Rizal seakan-akan mentah di tangan Rini.

Ia tidak langsung memecat Rj Lino di Pelindo II  dan bahkan membiarkan Lino membangkang perintah Menteri Rizal. Tentu saja sikap tak bergeming Rini ini membuat PDIP semakin penasaran. PDIP bersama anggota DPR lain pun meningkatkan serangan kepada Menteri Rini di antaranya membuat Pansus yang sekarang sedang bekerja.

Ketujuh, ketakutan akan Menteri Rini yang gemar berutang. Bagi Rini untuk mempercepat pembangunan infrastruktur seperti pembangunan kereta api, jalan tol dan tol laut, butuh biaya besar. Jika menunggu dana dari APBN, atau menunggu keuntungan dari BUMN, maka butuh waktu 10 tahun lagi untuk menyelesaikan pembangunan infrastruktur itu.  Rini yang gemar berutang itu, jelas membuat rakyat Indonesia yang sudah lama terlilit utang ketakutan melihat sepak terjang Rini.

Padahal bagi Rini, berutang tidak ada masalah sejauh digunakan untuk membangun bangsa dan negara. Bagi Rini yang salah adalah jika utang digunakan untuk korupsi dan salah sasaran. Rini mengambil contoh bahwa hampir tidak ada negara di dunia ini yang tidak mempunyai utang. Bahkan Amerika Serikat, Jepang, negara yang perekonomiannya besar mempunyai utang segunung. Jika utang dapat dikelola dengan baik, dapat menjadi modal besar bagi pembangunan sebuah bangsa.

Ketujuh alasan di atas, membuat PDIP melakukan propaganda besar-besaran dan  mengerahkan segala daya upaya yang dimiliki untuk menjungkalkan Rini. Publik masih ingat  isu palsu Menteri Rini menghina Jokowi yang berbau rekayasa. Isu penghinaan itu sendiri tenggelam begitu saja.

Nampaknya propaganda PDIP yang terus-menerus menyerang dan menjelek-jelekkan Menteri Rini mulai menunjukkan hasil. Terbukti dari beberapa survei, publik memandang bahwa kinerja Menteri Rini adalah salah satu yang paling buruk di antara para menteri. Nyatanya hal itu sebetulnya hasil pemberitaan negatif terus-menerus Menteri Rini. Padahal di mata Jokowi, Rini adalah sosok menteri pekerja  dengan kinerja baik.

Melihat posisi Rini yang dekat dan telah berjasa dalam diri Jokowi, maka pertanyaannya adalah mampukah Jokowi mempertahankan Rini dalam kabinetnya dan melawan tekanan dari PDIP, anggota DPR dan masyarakat luas yang terlanjur memandang Rini sebagai public enemy?  Ataukah Jokowi tega mengorbankan Rini demi menyenangkan PDIP, DPR dan masyarakat banyak? Mari kita tunggu keputusan bijak Jokowi.

Penulis : Asaaro Lahagu (Kompasiana)

loading...