PB, Sumedang – Pembangunan monumen mangga di Pertigaan Tolengas, Desa Tolengas Kecamatan Tomo hingga kini masih menjadi pertanyaan. Pasalnya, pembangunan monumen mangga itu dianggap belum selesai.

Lambang buah mangga di ujung monumen belum terwujud. Hingga kini, hanya terdapat besi beton sebagai cikal bakal rangka patung buah mangga.

Ketua Asosiasi Petani Mangga (APM) Kabupaten Sumedang, Rohendi mengatakan Kecamatan Tomo merupakan salah satu penghasil utama buah mangga di Kabupaten Sumedang.

Lambang buah mangga sangat dibutuhkan sebagai ciri khas daerah itu penghasil buah mangga, terutama sebagai penghasil mangga jenis gedong gincu.

“Jadi apabila tidak ada lambang buah mangga, percuma saja monumen itu dibuat. Pembuatan monumen itu dimaksudkan sebagai tanda Kecamatan Tomo khususnya dan Kabupaten Sumedang umumnya mempunyai produksi buah mangga yang cukup potensial,” kata Rohendi, kemarin.

Rohendi menambahkan, biaya yang dikeluarkan untuk pembangunan itu cukup besar. Sebutnya, apabila pembangunan menggantung dan tidak selesai, biaya yang dikeluarkan akan seakan terbuang percuma.

“Seharusnya, pembangunan monumen itu diselesaikan. Jangan sampai biaya yang sudah dikeluarkan seakan tidak berarti,” tambahnya.

Rohendi menegaskan, apabila pembangunan tidak diselesaikan secepatnya, dirinya bersama warga akan menggalang swadaya untuk menyelesaikan monumen itu. Menurutnya, monumen itu akan dirapihkan dan akan difungsikan sebagaimana mestinya.

“Keadaannya tidak akan semrawut seperti sekarang ini. Saya bersama warga akan menata monumen dan lingkungan sekitarnya menjadi lebih rapih. Baru-baru ini, saya bersama warga sudah melakukan penambalan pada bagian monumen yang rusak,” jelasnya.

Hal itu, sambungnya, akan berimbas pula pada wisata Waduk Jatigede. Pasalnya, pertigaan Tolengas ini merupakan salah satu pintu masuk ke Waduk Jatigede. Sehingga, apabila tidak tertata rapih akan mengganggu kelancaran lalu lintas ke arah waduk Jatigede.

“Banyak pengunjung dari daerah lain yang melintasi pertigaan ini. Kondisi yang semrawut akan mengganggu lalu lintas. Selain itu, juga akan mengganggu keindahannya sebagai pintu gerbang ke Waduk Jatigede,” terangnya.

Senada dengan Rohendi, Adeng Sujana, seorang warga setempat mengatakan, lalu lalang kendaraan yang mengarah ke Waduk Jatigede semakin meningkat semenjak dibendung. Menurutnya, hal itu harus dimanfaatkan sebaik mungkin oleh warga. Terutama untuk meningkatkan perekonomian warga.

“Warga harus memanfaatkan keadaan ini untuk meningkatkan taraf hidupnya. Misalnya, dengan membuat lapak dagangan, tetapi harus tertata rapi sehingga tidak mengganggu lingkungan sekitarnya,” kata Adeng.

Adeng juga menjelaskan, banyak manfaat yang akan didapat bila pertigaan ini ditata ulang. Diantaranya, kesemrawutan di sekitar pertigaan dan monumen akan hilang, meningkatnya perekonomian warga dan lainnya.

“Seharusnya, penataan ulang segera dilakukan secepatnya,” tandasnya.
(ariosut)

loading...