PB, Cianjur – Kisah Asep (63) bersama istrinya, Dede Sumarni (43), serta ketujuh anaknya, Cera Sunari (21), Sutaci Purnata (19), Neni Sutiani (11), Ilham Nurjaman (13) Sani Widianto (10) Rita Nuraeni (8) Dio Apiano (4) Gita Purnmasari (2), warga Kampung Selakopi RT 03/03, di Desa Babakan Caringin, Kecamatan Karangtengah, Kabupaten Cianjur.

7 TAHUN TINGGAL DI KANDANG AYAM (2)-1

Mengalami pengalaman yang sangat memilukan hati, berbagai kisah yang mereka alami selama hidup di dalam kandang ayam, mejadi cerita tersendiri bagi Asep dan keluarga, bahkan semua kejadian itu terekam dalam memori mereka.

Kehidupan Asep bermula ketika mereka pindah dari kota asalnya Garut, ketika tiba di Kampung Selakopi, Asep awalnya tinggal di sebuah rumah permanen milik majikannya, berukuran 4 x 5.

Namun kondisi rumah tersebut juga sudah keropos, akhirnya, ketika musim hujan tiba, bagian atap hancur dan roboh hingga mengenai anaknya.

7 TAHUN TINGGAL DI KANDANG AYAM (6)-1

Karena tidak memiliki biaya untuk memperbaiki, Asep terpaksa pindah ke sebuah bangunan di samping kandang ayam, namun itupun tidak berlangsung lama, dikarenakan bangunan yang ditempati hancur diterpa angin.

Tidak punya pilihan lagi Asep memboyong keluarganya ke kandang ayam milik majkannya.

Asep sendiri sebenarnya bertugas menjaga semua milik majikannya, namun itu tanpa mendapat gaji, “ kadang majikan datang dikasiin duit, kadang ada tetangga yang ngasih duit Rp. 20-30 ribuan,” ujar Asep, kalau musim panen padi, Asep kadang juga diminta warga bantu untuk ikut panen.

Tinggal bersama ayam mengharuskan Asep membuat tempat tidur yang sedikit tinggi, namun itupun masih menyimpan masalah, “karena alasnya sudah tidak kuat, aktifitas di atas Cuma dilakukan untuk tidur dan shalat,” Asep.

7 TAHUN TINGGAL DI KANDANG AYAM (10)-1

Bahkan pengalaman tidur di “lantai dua” menjadi kisah buat Asep, ketika beberapa kali anaknya yang masih balita terjatuh ketika tidur, sementara Asep sendiri tidur di bawah, dikarenakan tidak kuat menahan beban.

Bagaimana pihak Pemerintah daerah ? Asep dengan wajah tanpa ekspresi berkata, jika selama mereka hidup baru pertama kali mendapatkan bantuan, PSKS sekali ini selama hidup, “ itupun karena Kades sudah ganti,” ujar Asep yang tidak menunjukkan ekpresi apapun di wajahnya, seakan-akan memperlihatkan bagaimana kerasnya hidup yang dialaminya hingga untuk tersenyum ataupun menangis sudah tidak ada gunanya lagi.

(Ruh)

loading...