PB, Cianjur – Lagi kecurangan yang dilakukan pasangan calon nomor urut dua, Irvan-Herman, mengemuka ke publik.

Setelah beredar video Bupati Cianjur Tjetjep Muchtar Soleh yang memerintahkan seluruh Ketua dan pengurus RT se-Cianjur selatan beberapa waktu lalu agar memenangkan anaknya menjadi bupati.

Kini beredar lagi video kecurangan pemilihan kepala daerah (Pilkada) serentak Kabupaten Cianjur 2015 melalui media sosial youtube dengan alamat

 https://m.youtube.com/watch?v=zUeft_RvO1I&feature=youtu.be.

Namun, kali ini bukan bupati, melainkan video tentang penyelenggara pilkada, yakni Ketua PPK kecamatan Sindangbarang, Kabupaten Cianjur.

Dalam potongan video yang cukup singkat berdurasi 55 detik itu, Ketua PPK Sindangbarang secara terang-terangan mengkampanyekan pemenangan paslon nomor urut dua.

Dalam video tersebut, seseorang yang memakai topi hitam-kuning dan baju kaos garis merah hitam abu-abu serta dengan postur tubuh tinggi langsing tengah berdiri di depan sejumlah hadirin.

Kemudian, ia pun memberikan sedikit sambutan yang pada intinya berupa ajakan.

“Saksi sudah dibekali. Yang penting sesuai dengan program nomor urut dua, sebelum ke orang lain, beritahu dulu istri, keluarga dan teman sekampung,” ujar laki-laki tersebut dengan menggunakan mik pengeras suara.

Selanjutnya, dengan jelas pula ia menyebutkan identitas bahwa dirinya sebagai penyelenggara pemilu di tingkatan kecamatan.

“Saya tidak akan panjang lebar. Ini mungkin juga karena materi dadakan. Tapi saya sebagai penyelenggara pemilu di tingkatan kecamatan mengucapkan terimakasih,” pungkasnya dalam rekaman video yang sudah dibubuhi dengan berbagai gambar dan kalimat kecaman karena sudah tidak netral dalam pilkada.

Berdasarkan informasi, lelaki yang berada dalam video yang juga sudah ramai dibicarakan masyarakat itu, adalah Ketua PPK Kecamatan Sindangbarang, Kabupaten Cianjur, Dede Suherman.

Sementara, dikonfirmasi berkenaan dengan beredarnya video tersebut, Dede pun tidak mengelak dan mengakui bahwa lelaki yang ada dalam video di youtube itu adalah dirinya.

“Iya itu memang saya,” aku dia, ditemui di kantor KPU Cianjur, Jalan Ir H Juanda, Senin (30/11) siang.

Namun, Dede membantah bahwa dirinya telah bersikap tidak netral dalam pilkada Cianjur dan mengkampanyekan paslon nomor urut dua yang tidak lain adalah anak bupati Cianjur.

Ia menegaskan, bahwa kegiatan itu adalah bimbingan teknis bagi saksi paslon nomor urut dua di Kecamatan Sindangbarang, beberapa waktu lalu.

“Saya datang ke situ berdasarkan undangan. Kalau di video itu saya sebagai penyelenggara pemilihan ada keberpihakan kepada salah satu paslon, itu tidak benar,” elak Dede.

Dede menambahkan, kehadirannya kala itu memang diundang sebagai pihak penyelenggara pilkada. Sedangkan apa yang ia sampaikan hanya sebatas memberikan penjelasan dan mengulas berkenaan dengan perundangan pilkada saja.

“Melihat dari sentimen politik dan situasi yang mulai memanas, apa yang saya sampaikan saat itu seakan-akan saya mengarahkan dukungan ke arah sana (kampanye paslon nomor urut dua, red),” lanjut dia.

Komisioner KPU Cianjur, Divisi Sosialisasi, Hilman Hidayat, menjelaskan, di dalam aturan perundangan, memang tidak disebutkan larangan penyelenggara pemilihan datang dalam acara yang diadakan oleh salah satu paslon. Namun, berkenaan dengan etika, itu bukan menjadi kewenangannya

“Itu wilayah panwas dan DKPP yang berhak dan menentukan,” singkat dia.

Sementara, Ketua KPU Cianjur, Anggy Sofia Wardhani, ditemui di ruang kerjanya, mengatakan tidak berkomentar banyak. Namun, pihaknya meyakinkan memanggil Ketua PPK Kecamatan Sindangbarang untuk dimintai keterangannya dan diklarifikasi.

“Hari ini, kami tegaskan, yang bersangkutan kami panggil. Seperti apa hasilnya, nanti setelah dipanggil akan kami sampaikan,” ucap dia.

Di sisi lain, Ketua Komite Independen Pemantau Pemilu, Irhan Ari Muhammad menegaskan, jika memang benar bahwa Ketua PPK Sindangbarang tidak netral, maka KPU Cianjur sudah seharusnya memberikan tindakan tegas berupa pemberhentian atau pemecatan kepada yang bersangkutan.

“Mekanismenya, bisa panwas yang membuat rekomendasi atau langsung KPU Cianjur yang memecatnya. Ini jelas pelanggaran dan kecurangan pilkada,” tegas dia.

(RUH)

loading...