PB, Cianjur – Polres Cianjur masih terus mendalami dari mana asal-usul uang Rp. 300 juta yang disita dan dijadikan barang bukti dalam operasi tangkap tangan terhadap oknum seorang pegawai negeri sipil (PNS) berinisial AM dan seorang anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kabupaten Cianjur berinisial AZ.

Untuk itu, sudah beberapa saksi yang dipanggil untuk dimintai keterangannya di Mapolres Cianjur Jalan KH Abdullah bin Nuh, Cianjur.

Kapolres Cianjur AKBP Asep Guntur Rahayu, ditemui di ruang kerjanya, Senin (7/12), mengatakan, salah satu saksi yang sudah dipanggil adalah atasan langsung AM yang juga sesama PNS. Dalam keterangannya, saksi tersebut mengakui bahwa uang Rp300 juta itu adalah dari dirinya.

“Kepada kami, saksi itu mengaku memang uangnya berasal dari dirinya, Tapi itu adalah pinjaman AM kepada atasannya secara pribadi,” ungkap Kapolres.

Asep Guntur menambahkan, pengakuan atasan AM kepada pihaknya itu dinilainya memiliki argumen kuat. Pasalnya, saksi tersebut juga bisa menunjukkan bukti peminjaman uangnya oleh AM.

“Jadi ini uang pribadi dari pinjaman AM kepada atasannya yang berinisial OZ. Tapi kami masih terus kembangkan,” lanjut dia.

Selain memeriksa atasan AM, sejumlah PNS lainnya pun turut diperiksa untuk mendapatkan data tambahan dan pembanding.

Dari hasil pemeriksaan, uang Rp300 juta tersebut diserahkan AM kepada AZ untuk kepentingan pilkada salah satu pasangan calon.

“Berdasarkan pengakuan para ASN yang dimintai keterangannya, uang tersebut diperuntukkan bagi saksi-saksi, koordinator kecamatan dan koordinator kelurahan/desa bagi pemenangan salah satu paslon,” terang Asep Guntur yang enggan menyebutkan paslon dimaksud.

Meski begitu, perwira Polri yang pernah berdinas sebagai penyidik di Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) itu menegaskan, pihaknya masih berusaha untuk mencari bukti-bukti tambahan lainnya. Hal itu dilakukan agar bisa mengugkap kasus tersebut secara terang-benderang.

Keseriusan pihaknya untuk mengungkap aktor intelektual di balik kasus tersebut, Polres mengeluarkan surat Perintah Penyidikan guna mencari bukti-bukti tambahan lainnya.

“Kalau memang betul diketahui ada uang negara yang dipergunakan, maka akan ada proses hukum lebih lanjut,” tegas Asep.

“Ini baru tahap penyelidikan, artinya belum ada yang berstatus saksi maupun tersangka,” tambahnya.

Kapolres menyebut, terungkapnya kasus ini sekaligus bisa menjadi peringatan bagi semua pihak untuk tidak melakukan pelanggaran pidana pemilu.

Pasalnya, berawal dari adanya kecurangan dan pelanggaran, diyakininya bakal berpengaruh terhadap keamanan dan ketertiban jalannya pilkada.

“Ada untungnya juga ini terungkap. Soalnya pihak lain yang akan melakukan kecurangan pasti pikir-pikir lagi. Kami tidak akan main-main!” ancam Kapolres.

(RUH)

loading...