Medan (PembawaBerita) – Salah satu upaya untuk perbaikan perekonomian pada 2016 adalah dengan menghidupkan industri kreatif di Sumut. Apalagi, nantinya sudah memasuki era Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA).

Untuk bisa bersaing maka generasi muda sudah saatnya untuk mengubah mindset dari job seeker (pencari kerja) menjadi job creator (pembuat lapangan pekerjaan). Ketua Bidang Industri Kreatif Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (Hipmi) Sumut Syahrul Akbar mengatakan, generasi muda saat ini harus jeli dan menyadari bahwa Indonesia sudah dijajah secara ekonomi. Jadi kalau dulu dijajah oleh Belanda dan Jepang untuk mengambil alih kekuasaan negara dengan cara perang senjata. Saat ini Indonesia sudah dijajah secara ekonomi.

“Bisa kita lihat saat ini 250 juta penduduk Indonesia sudah dominan berperilaku konsumtif, dan ini menjadi peluang negara lain untuk menjajah kita secara ekonomi. Contohnya di Tangerang Selatan sudah berdiri mall yang investasinya dari Jepang. Lalu, tenant-tenant di dalamnya juga semua dari Jepang. Sementara pengunjung mal itu adalah orang Indonesia. Bisa dibayangkan berapa banyak uang rakyat Indonesia yang diserap oleh negara lain,” ujar Syahrul yang juga mantan Ketua HIPMI Perguruan Tinggi Sumut periode 2012-2015 ini.

Untuk itulah, generasi muda harus bisa mengubah pola pikir tidak konsumtif dan harus jeli agar tidak terbuai dengan segala fasilitas yang diberikan oleh investor asing. Mulailah menjadi pencipta lapangan kerja. Mulai dari hal yang kecil sesuai dengan potensinya masing-masing, harus fokus dan jangan gampang menyerah. “Produk handphone Evercoss itu di China merupakan produk UMKM yang di China sendiri tidak laku, tapi di Indonesia produknya bisa terjual laris karena harganya yang murah. Tentu saja ini bisa menjadi contoh produk yang kita buat juga harus bisa laris di negara lain,” kata Syahrul.

Apalagi potensi generasi muda di Sumut juga besar. Mahasiswa Universitas Sumatera Utara (USU) saja sudah bisa membuat mobil. Tentu kalau diproduksi secara serius, ke depan Sumut bisa membuka industri mobil sendiri. Selain itu pada 2016, sektor industri kreatif khususnya MICE (Meeting, Incentive, Convention, and Exhibition), bidang promotor musik, sektor event organizer (EO) masih sangat berpeluang untuk dikembangkan sebagai upaya mendongkrak perekonomian Sumut. Di sisi lain, lanjut Syahrul, masih terjadi beberapa kendala yang bisa dievaluasi dan dilakukan perbaikan sehingga industri kreatif bisa berjalan dengan baik.

Seperti promotor musik, dari pengalamannya sendiri, proses perizinan masih dipersulit untuk mendatangkan artis ibukota ke Medan, apalagi internasional. “Perizinan untuk membuat konser musik itu cukup panjang mulai dari izin polsek, polda, habis itu ke Disbudpar dan Dispenda, selain sulit biaya siluman juga tinggi,” terang Syahrul.

Jika kendala ini bisa diretas, Syahrul yakin industri kreatif di Sumut bisa tumbuh dengan subur. Apalagi jika rencana Menteri Keuangan RI untuk meniadakan pajak hiburan yang 10% itu juga menjadi semangat baru bagi pengusaha industri kreatif. “Paling tidak pajak 10% ini janganlah dihitung dari pendapatan, tapi sebaiknya dari keuntungan. Karena di pendapatan itu ada modal dan biaya operasional,” paparnya. Industri kreatif juga akan menumbuhkan industri kreatif di sektor usaha kecil, seperti penjualan suvenir dan lainnya. Bahkan sektor usaha menengah hingga makro pun ikut terdorong melalui industri kreatif. Seperti gedung pertemuan, restoran, hingga perhotelan.

“Tentu efek dominonya, jika usaha promotor musik tumbuh, maka penjualan usaha kecil menengah (UKM) seperti suvenir juga tumbuh, karena biasanya anak-anak muda yang menonton konser musik atau pertunjukkan juga akan senang membeli suvenir. Penikmat hiburan pun tentu akan hadir dari kota-kota sekitar Medan yang otomatis akan menggunakan layanan hotel,” jelasnya. Syahrul juga berharap ke depan pemerintah lebih dapat memprioritaskan usaha industri kreatif lokal, sehingga pertumbuhannya bisa menopang perekonomian. Seperti memudahkan perizinan juga kemudahan dalam memperoleh kredit.

“Pemerintah dan masyarakat sebaiknya saling kerja sama, jangan lebih memprioritaskan industri kreatif dari Ibukota saja. Misalnya, EO Jakarta lebih dipercaya dibanding EO lokal, padahal dengan tumbuhnya industri kreatif lokal maka pertumbuhan ekonomi Sumut juga semakin baik,” paparnya. Sementara itu, Ketua UKM Center Sumut Deni Faisal Mirza mengatakan, pertumbuhan industri kreatif di sektor UMKM Sumut dinilainya sepanjang tahun 2015 masih rendah. Sebab, pemerintah masih kurang memperhatikan tumbuhnya UKM-UKM yang baru.

“Kita lihat saja selama ini UKM yang itu-itu saja yang mendapat perhatian, begitu juga produk UKM yang itu-itu juga yang selalu dipamerkan. Padahal harusnya pemerintah sudah bisa menggali produk UKM yang baru sehingga usaha mikro kecil menengah (UMKM) di Sumut bisa lebih berkembang,” katanya. Selain itu, kata Deni, agar UMKM Sumut tahun depan bisa berkembang, maka pemerintah juga harus memperhatikan pangsa pasar, membantu pelaku UKM menemukan pasarnya.

Ini harus menjadi prioritas karena pada krisis perekonomian pun hanya UKM yang bisa bertahan. Apalagi tahun 2016 sudah menghadapi MEA. “Pemerintah juga harus menggandeng stakeholder sehingga investasi di Sumut ini bisa berkembang, pangsa pasar produk UKM juga bisa berkembang tahun depan,” sebut Deni.

Terpisah, pengamat ekonomi dari Universitas Islam Negeri (UIN) Sumut, Gunawan Benjamin, mengatakan, upaya untuk menumbuhkan industri kreatif di Sumut geraknya masih lambat dibanding di Jawa. Padahal, pertumbuhan industri kreatif ini bisa menopang pertumbuhan ekonomi Sumut yang lebih baik.

“Untuk tahun depan, industri kreatif di sektor pariwisata dan industri kreatif berbasiskan kemampuan masyarakat lokal ini masih berpotensi untuk dikembangkan. Apalagi menghadapi MEA, seharusnya pemerintah mampu mengembangkan sektor ini,” tutur Gunawan.

Sumber : lia anggia nasution (Sindo)

Editor : Putra

loading...