Sumber : Dr. Suprayoga Hadi ( Direktur Jenderal  Pengembangan Daerah Tertentu)

 

PB-Jakarta : Kementerian Desa PDTT beserta Kementerian ESDM dan Kementerian Keuangan lakukan pertemuan softkick-off Program Indonesia Terang (PIT)  yang diadakan pada tanggal 8 Maret 2016. Pertemuan yang dihadiri oleh Menteri ESDM, Menteri Desa PDTT, dan Wakil Menteri Keuangan,  serta  dihadiri  oleh  pejabat  eselon  I  dan  II  dari Kementerian  PPN/Bappenas  dan  PLN tersebut, memberikan catatan penting dan kesepakatan dalam pelaksanaan dan pengembangan  PIT lebih lanjut.

Rasio elektrifikasi pada desa-desa tertinggal masih sangat rendah atau belum mencapai 40%.  Hal tersebut dikarenakan keterbatasan kapasitas  fiskal  di  daerah-daerah  tertinggal  dalam  memenuhi  sarana prasarana  energi listrik,  sehingga  memerlukan  upaya  khusus  dalam  mempercepat  upaya  pengembangannya. Tentunya dukungan dari Pemerintah Pusat beserta Pemerintah  Daerah,  serta  keterlibatan  PLN,  dalam  penyediaan  layanan  listrik  dengan  memanfaatkan  potensi energy baru dan terbarukan di daerah dan desa-desa tertinggal.

Selama ini Pemerintah Pusat telah banyak memberikan perhatian dalam rangka penyediaan  energy liistrik dan peningkatan rasio elektrifikasi,  tidak hanya dilakukan oleh Kementerian  ESDM,  namun  juga  beberapa  kementerian  lainnya,  seperti  Kementerian  Desa  PDTT,  Kementerian Kelautan  dan  Perikanan,  Kementerian  Koperasi  dan  UKM,  dan Kementerian Pertahanan.  Selain itu, pada tingkat daerah juga telah dikembangkan beberapa inisiatif local dalam  peningkatan  pelayanan  dan  rasio  elektrifikasi  oleh  Pemerintah  Provinsi  dan  Pemerintah  Kabupaten/Kota,  yang  didukung  melalui  beberapa  skim  pendanaan  dari  sumber  dana  transfer  daerah  seperti  DAK  Energi  Listrik  di  Provinsi,  memberikan  “earmarked” Dana Bagi Hasil yang diarahkan pemenuhan  kebutuhan  energi listrik di daerah.

warga-menggunakan-penerangan-lilin-ketika-membaca-al-quran-saat-_160301104545-680Pada tingkat desa,  melalui Dana Desa yang dialokasikan ke desa-desa, juga membuka lebih  besar  peluang  untuk dimanfaatkan  dalam  rangka  pembangunan  infrastruktur  energy di  tingkat  desa.    Ditambah  dengan  rencana  mobilisasi  Dana  Ketahanan  Energi, yang  dapat  dimanfaatkan  secara  optimal  dalam  memenuhi  rasio  eletrifikasi  pada  daerah-daerah  dan  desa-desa yang masih relative rendah.

Dalam pemenuhan  kebutuhan elektrifikasi di  tingkat desa,  khususnya pada daerah-daerah  tertinggal,  selain  pemenuhan  ketersediaan, juga  perlu  diperhatikan  lemahnya  kapasitas  dalam pengoperasian  dan  pemeliharaan sarana  prasarana  elektrifikasi,  yang  dikaitkan  dengan  permasalahan  keberlanjutan  dari  pelayanan  yang  tersedia  di  tingkat  masyarakat  pemanfaat,  yang  belum  dapat  menerima  pelayanan  yang  maksimal  dan  jangka  waktu  pelayanan  yang  masih  relatif terbatas,  yang disebabkan  masih  terbatasnya  cakupan  dan  kualitas pelayanan  kelistrikan  pada  desa-desa  tertinggal,  diperparah  dengan  kendala  dan  kesulitan geografis, serta system pengawasan dan pengendalian yang masih belum optimal.

Eksplorasi terhadap pemanfaatan  potensi sumber energi baru dan terbarukan juga belum  secara  maksimal  dilakukan,  khususnya  pada  daerah  dan  desa-desa  tertinggal,  sehingga belum sepenuhnya memberikan peluang pengembangan sumber energi baru dan  terbarukan  untuk  pemenuhan  kebutuhan  elektrifikasi  dengan  cakupan  dan  kualitas pelayanan  yang  maksimal  hingga  di  tingkat  masyarakat  pemanfaat.

Jenis  sarana  dan  prasarana elektrifikasi yang selama ini cukup banyak diminati oleh masyarakat pada daerah  dan  desa-desa  tertinggal  adalah  yang  bersumber  dari  energi surya,  dibandingkan  dengan sumber  EBT  lainnya  seperti  bayu  (angin) dan  mikro-hidro.

Pemenuhan  sarana  dan  prasarana PLTS yang selama ini diberikan kepada tingkat masyarakat di daerah dan desa-desa  tertinggal,  pada  umumnya  telah  dimaksimalkan  dalam  bentuk  off-grid  (komunal),  dibandingkan  dengan  solar  home  system  (SHAS)  yang  relatif berisiko  rendah  dalam  keberlanjutannya.

Oleh  karenanya,  disepakati  bahwa  dalam  mempersiapkan  tahapan  lebih  lanjut  dalam  pelaksanaan  PIT,  diperlukan  upaya  konsolidasi  dan  koordinasi  secara  lintas  kementerian/lembaga,  untuk  melakukan  kunjungan  lapangan , melakukan  pengumpulan  data  dan informasi  dari  tingkat  daerah,  termasuk  dalam menjaring  aspirasi  dari  tingkat  daerah  dan  masyarakat  untuk  menjadi  masukan  dalam  rangka  penyusunan  rencana  aksi  PIT  dalam  kurun  waktu  2016-2019.
Kantor-Kementerian-DesaSebelum  terjun  ke  lapangan,  terlebih dahulu akan dilakukan update dan pemantapan data dan informasi kebutuhan elektrifikasi  yang bersumber dari data statistik yang  telah tersedia dari  BPS maupun data dan informasi  kebutuhan  elektrifikasi  yang  bersumber  dari  kementerian/lembaga,  khususnya  dari  Kemendesa  PDTT  yang  diharapkan  dapat  memverifikasi  data  dan  informasi  yang  lebih  update dan akurat, terkait ketersediaan dan kebutuhan pelayanan elektrifikasi  di daerah dan  desa-desaa tertinggal.

Sebagai tindak lanjut dari pertemuan soft kick-off PIT, telah disepakati untuk menyusun suatu  kerangka  kerja bersama  antara  kementerian  ESDM  dan Kementerian  Desa  PDTT,  serta  dengan melibatkan kementerian/lembaga terkait, untuk dapat menyelenggarakan lokakarya  persiapan  dan  penyusunan  rencana  aksi  PIT  lebih  lanjut,  yang  akan dilaksanakan  pada  6  provinsi wilayah  kerja  sasaran  dari  PIT,  yaitu  Papua,  Papua Barat, Maluku, Maluku Utara,  serta NTB dan NTT, yang direncanakan pada minggu kedua Maret 2016, sesuai dengan terms of reference yang telah disusun  Satgas P2EBT. (Hefrizal)

loading...