PB, Jakarta – Kesedihan Ketua Umum Partai Republiku Indonesia melihat saudaranya sesama pribumi harus saling sikut dan saling hantam hanya karena sebuah provokasi, yang justru merugikan bangsa pribumi ini.

Kesedihan dan tuduhan Muhardi bukan tanpa alasan, sebuah foto yang beredar memperlihatkan bagaimana akun milik Feri Yanto yang memerintahkan temannya agar bersiap membawa senjata tajam.

“Sebuah rahasia bukan menjadi rahasia jika diketahui oleh orang lain, apalagi sampai menuliskan ke publik untuk rekan mereka,” ujar Muhardi, yang juga mantan Ketua Umum Partai Priboemi.

Menurut Muhardi, Feri sepertinya sudah diprovokasi oleh para penguasa, dan bukan tidak mungkin mereka tidak tahu, karena postingan itu sudah disebarkan sejak tanggal 20 Maret 2016.

Dan seharusnya pihak atasannya sudah melaporkan hal ini ke kepolisian jika mereka memang perduli dengan kondisi karyawannya, karena dipastikan jika memang terjadi maka demo 22 maret sudah diseting agar berdarah.

Berikut isi postingan Feri melalui akun facebooknya.

” saya mengajak rekan2 dari pool

ME,MT,MJ,JE,JU,BDE,BDULL,LR,YD,OE,TJ,TT,GDD,MW,K, Dan semua pool sejabodetabek, untuk mebgahdiri demo besar2an pada hari selasa 22 maret 2016, di dpan istanah negara. Jangan lupa bawa benda tumpul dan tajam, kalau perlu bom molotop, antisipasi kalau uber dan grab lewat langsung bantai” 

IMG-20160322-WA0009_1_1Kemudian Feri kembali mengingatkan dalam komentarnya pada postingannya ;

“Buat lw pengguna dan supir grap car juga uber, lw liat nanti tanggal mainnya. Mampus lw anjing lw….bangsat “

Sementara itu Presiden Gerakan Pribumi Indonesia (Geprindo) Bastian P. Simanjuntak juga ikut marah, menurutnya kondisi ini memang sengaja dibuat oleh para warga keturunan khususnya para pengusaha kaya.

“Ahok yang dibiarkan bebas berkata dan berbuat semaunya itu semua hanya setingan agar kita sesama pribumi menjadi lemah dan saling hantam, apalagi beredarnya foto milik Feri yang sengaja mengajak rekannya membawa sajam dalam demo,” marah Bastian, kepada penguasa yang terkesan diam.

Bastian mengatakan penguasa disini adalah mereka yang juga termasuk para pemilik perusahaan, selain pemerintah sendiri, “Apa sulitnya menyelesaikan persoalan mereka (rebutan penumpang antar taxi) ?” tanya Bastian heran.

Menurut Bastian seharusnya pihak terkait memanggil para pemilik perusahaan mulai mengatur dengan dibicarakan secara baik, bukannya malah membiarkan akibatnya sesama pengusaha berusaha memprovokasi satu dengan lainnya, dengan alasan yang sangat riskan, kesejahteraan.

Muhardi melanjutkan jika ini menjadi bukti, jika saat ini masyarakat pribumi sengaja dibuat menjadi lemah dengan cara di adu domba sesama pribumi, seperti pada jaman Belanda dengan politik Devide et Impera.

Bastian kembali mengingatkan era perdagangan bebas di antara sesama anggota Asean, atau Masyarakat Ekonomi Asean (MEA) yang akan segera diberlakukan.

“Pengusaha etnis Cina bisa dikatakan sudah menguasai hampir semua lini ekonomi di Asean, dan ini menjadikan mereka lebih mudah menguasai pasar Asean melalui negara bonekanya Singapura,” ujar Bastian mengingatkan, dimana Singapura para penduduk pribuminya sudah menjadi warga negara kelas dua, di tanahnya sendiri.

(Jalu)

loading...