Pembawa Berita – Mengomentari berita terkait laporan Tim Advokasi Bhinneka Tunggal Ika (Taktik) yang diwakili oleh Reinhard Parapat dan Relawan Basuki Tjhaja Purnama Mania (Batman) yang diwakili oleh Imanuel, yang melaporkan Yuzron Iza Mahendra dan mengancam akan melaporkan Letjen Purn. Suryo Prabowo terkait ucapannya di Media Sosial.

Menurut Reinhard dan Imanuel ucapan mereka mengandung unsur SARA, maka saya berpendapat bahwa laporan dan ancaman Reindhard dan Imanuel sangatlah berlebihan, arogan, dan semakin memperkeruh permasalahan.

Sebelumnya Yusron menyindir Basuki Tjahja Purnama (Ahok) dalam akun twitternya @yusronIhza_mhd dengan kalimat “Mohon Ahok tidak arogan dalam memerintah, kasihan cina-cina lainnya yang miskin,” dan juga sindiran Letjen Purnawirawan Suryo Prabowo di sosial media dengan kalimat “Kalau sayang dengan teman-teman atau sahabat dari etnis tionghoa, tolong diingatkan agar jangan ada etnis tionghoa yg sok jago ketika berkuasa atau dekat dengan penguasa”

Yusron dilaporkan atas dugaan menebar kebencian sebagaimana yang tertuang dalam Pasal 154 KUHP dan pasal 28 ayat 1 Undang-Undang Nomor 11 tahun 2008 tentang Informasi Teknologi dan Informatika serta Pasal 4 Undang-Undang Nomor 40 tahun 2008.

Menurut pendapat saya Reindhard dan Imanuel sangatlah keliru, Pasal 154 KUHP konteksnya adalah tentang menyebarkan kebencian kepada pemerintah, dan pasal tersebut sudah di cabut oleh MK yang dibacakan oleh Ketua MK Jimly Asshidiqie di Gedung MK pada tanggal 17 Juli 2007.

Sedangkan UU No 11 2008 pasal 28 ayat 1 tentang penyebaran berita bohong tidak memiliki makna yang berhubungan dengan ucapan Yusron dan Suryo, kemudian pasal 4 UU No 40 2008 tentang menunjukan kebencian terkait etnis.

“kalimat mana yang menunjukan kebencian? justru baik Yusron maupun Letjen Suryo memberikan peringatan terhadap ancaman kerusuhan sosial yang dapat memakan korban masyarakat tionghoa lainnya yang tidak berdosa.

Reinhard juga mengatakan bahwa istilah cina sudah di ganti tionghoa. Menurut Bastian, “masa sih ucapan terhadap etnis tertentu saja harus di atur-atur oleh pemerintah?” “Mau itu dikatakan cina, chinese, tionghoa, sah-sah saja, coba anda pikir apa bedanya Cina dengan China? Bagaimana cara memanggil orang Tionghoa yang berasal dari negara China?” “Apa bedanya dengan panggilan untuk orang tionghoa warga negara indonesia?”

“Sementara dalam propaganda Basuki sendiri, sering mengatakan dengan lantang “Saya Cina”.

“Oleh karena itu sudahlah, tidak usah dibuat eksklusif seperti itu”. Apapun etnisnya sebagai bangsa indonesia, kita harus jujur berbhineka tunggal ika, jangan teriak-teriak bhineka tunggal ika namun dalam hatinya sangat rasis. “Tidak boleh ada perlakuan khusus terhadap salah satu etnis.”

Pasca kerusuhan Mei 1998, memang ada berapa peraturan perundang-undangan yang di perjuangkan oleh aktifis-aktifis tionghoa, ada yang dicabut, ada juga yang di buat baru untuk lebih memberikan keleluasaan bagi WNI etnis Tionghoa secara politik, ekonomi, sosial dan budaya.

Hartarti Murdaya adalah salah satu politisi yang turut memuluskan peraturan perundang-undangan tersebut, dengan tujuan untuk menghilangkan diskriminasi terhadap etnis tionghoa.

Menurut saya upaya tersebut boleh-boleh saja, namun jangan sampai kebablasan, harus juga dipertimbangkan dampak ekonomi, politik, sosial, budaya pada masyarakat pribumi asli.

Secara Geopolitik harus juga di waspadai ancaman pengkolonian dan menguasaan segala sumber daya ekonomi yang dilakukan oleh negara China di indonesia.

Selain itu harus tetap dijaga prinsip kebebebasan berbicara di muka umum, jangan sampai pada akhirnya justru menjadi pasal-pasal karet yang membungkam kebenaran dan membungkam suara masyarakat pribumi asli.

Bagi saya wajar jika Yusron dan Letjen Purn. Suryo Prabowo memberi peringatan seperti itu, karena memang kenyataanya ada permasalahan hubungan antara sebagian masyarakat etnis tionghoa dengan masyarakat pribumi asli.

Masyarakat etnis tionghoa pun masih banyak yang rasis terhadap pribumi asli dengan alasan ekonomi, kelas sosial dan budaya, terjadi kesenjangan ekonomi yang begitu tinggi, masih adanya diskriminasi terhadap pekerja pribumi, perbankan yang tidak memihak kpd masyarakt kecil yang mayoritas pribumi, konglomerat2 hitam yang mayoritas etnis tionghoa membawa kabur devisa keluar negeri, semakin tidak terbelinya rumah oleh rakyat miskin menengah yang mayoritas pribumi, ditambah lagi ucapan-ucapan Basuki yang sangat kasar dan kotor, serta kebijakan-kebijakan Basuki yang beberapa kali menggusur paksa warga pribumi jakarta tanpa memberikan uang penggantian.

Atas dasar kenyataan-kenyataan tersebut sangatlah benar dan wajar apa dikatakan oleh Yusron dan Letjen Purn. Suryo, banyak masyarakat pribumi saat ini memendam perasaan, ini adalah ancaman nyata yang bisa meledak kapanpun, seperti bom ranjau, jika salah menginjak bisa langsung meledak. Jangan dianggap enteng.

Saya menghimbau agar orang-orang seperti Reinhard dan Imanuel janganlah ikut-ikutan “sok jago” dengan melaporkan Yusron dan Letjen Suryo ke Mabes polri, Jangan sedikit-dikit lapor polisi, lapor menteri, kelakuan kalian sangat mirip dengan Basuki. Lihat latar belakang permasalahannya, jangan memperkeruh suasana, jangan sampai kalian justru menjadi provokator memperuncing permusuhan antara etnis tionghoa dan masyarakat pribumi asli.

” SALAM PRIBUMI INDONESIA “

FB_IMG_1459660961060_1

 

Bastian P Simanjuntak
Presiden,

Gerakan Pribumi Indonesia (GEPRINDO)

 

loading...