Pb, Surabaya – Sidang praperadilan kasus dugaan korupsi dana hibah Kadin Jatim La Nyalla Mattalitti resmi digelar di ruang Cakra kantor Pengadilan Negeri Surabaya, Jalan Arjuno, Selasa (5/4/2016).

Sidang yang diketuai hakim Ferdinandus itu dihadiri oleh kuasa hukum La Nyalla sebagai pemohon, dan Kejaksaan Tinggi Jawa Timur sebagai termohon.

Agenda sidang perdana ini adalah pembacaan permohonan praperadilan yang dibacakan secara bergantian dari kuasa hukum La Nyalla (Abdul Salam, Fahmi Bachmid, Sumarso, M Maruf dan Togar M Nero).

Permohonan praperadilan yang dibuat tim penasehat hukum La Nyalla sebanyak 21 halaman dengan 56 poin, yang berisikan tentang keberatan terhadap rencana pemeriksaan tersangka dan penetapan status daftar pencarian orang (DPO) oleh termohon (kejaksaan).

“Kami mohon kepada Yang Mulia agar memerintahkan Termohon untuk tidak melakukan tindakan-tindakan yang berkaitan dengan proses penyidikan dan upaya paksa sebelum perkara a quo diputus,” kata Fahmi Bachmid.

Bachmid juga menyatakan bahwa tindakan Termohon yang menerbitkan surat perintah upaya paksa termasuk memasukkan Pemohon dalam daftar pencarian orang (DPO) tidak sah dan tidak mempunyai kekuatan hukum mengikat.

Setelah menerima pembacaan surat permohonan praperadilan dari Pemohon, sidang hari ini ditutup dan dilanjutkan kembali pada Rabu, Kamis, dan Jumat pekan ini, agenda putusan sidang dijadwalkan pekan depan.

“Untuk besok, agenda sidang mengenai jawaban dari Termohon (Kejaksaan). Kamis, agenda sidang mengenai replik dan duplik. Jumat agenda sidang mengenai pembuktian. Dan Selasa agendanya tetang putusan sidang,” kata hakim ketua Ferdinandus.

Dari pihak Kejati Jatim yang dihadiri Rhein E Singal, Ahmad Fauzi dan Kotrieskhie Narendra. Usai sidang, Rhein E Singal mengatakan, pihaknya menghormati proses jalannya sidang. Untuk sidang besok, Termohon sudah siap memberikan jawaban.

“Kita sudah siap memberikan jawaban. Kita ajukan jawaban besok, untuk bisa dinilai apakah jawaban kita sesuai atau tidak,” tandasnya.

La Nyalla Mattalitti ditetapkan tersangka oleh Kejaksaan Tinggi Jawa Timur terkait penggunaan dana hibah Kadin tahun 2012 sebesar Rp 5,3 milliar untuk pembelian IPO Bank Jatim pada pertengahan Maret 2016. Dia dijadikan DPO, hingga kini masih dicari. (Han/Son)

loading...