” Ingatan Mereka Akan Kekejaman PKI Tak’kan Terhapuskan. Trauma Demi Trauma Yang Siapapun Tak Ingin Mengalaminya. Mereka Hanya Ingin Berbicara Kepada Kita. Maka Itu Dengarkanlah………..” (Ayat – Ayat Yang Disembelih)

PB, Jakarta – Maraknya para pendukung dan penikmat faham komunis yang keluar dari “sarangnya” untuk menunjukkan eksistensinya di masyarakat secara luas, menjadikan para kalangan saksi mata atas kekejaman pengikut PKI ketika mereka sedang berjaya, di bawah kepemimpinan Muso dan DN Aidit.

Para pendukung keberadaan faham komunis yang mengatasnamakan kebebasan, seperti jaringan liberal yang rajin mempertanyakan baik secara langsung maupun melalui sosial media, soal tidak diterimanya faham yang tidak percaya adanya Tuhan ini, di Bumi Indonesia, mendapat jawaban tegas dan keras, bahkan dari Menteri Pertahanan dan Keamanan Ryamizard Ryacudu, yang mengingatkan jika para pendukung komunis ingin eksis, silahkan keluat dari NKRI.

Bukti kekejaman para pendukung dan pengikut PKI akhirnya dirangkum dalam sebuah buku yang diberi judul “Ayat – Ayat Yang Disembelih.” 

2016_5_15_4_54_45_952_AM_12016_5_15_4_55_42_594_AM_1

Buku yang memuat kesaksian dari beberapa warga Indonesia yang langsung mengalami kekejaman PKI yang dikenal sadis, seakan mengembalikan memori kelam dalam hidup para penutur cerita.

Daftar isi buku yang memuat cerita dari pengalaman, terangkum dalam 38 kisah yang dengan membaca judul ceritanya saja kita sudah dibuat merinding.

Darwis Sibua, tokoh muda Malut, di Jakarta, sempat menyanyangkan buku ini hanya mendapatkan cerita dari, Pulau Sumatera hingga Pulau Bali, sementara keberadaan PKI juga sampai di Maluku dan Maluku Utara, bahkan ada sebuah desa di Pulau Tidore Maluku Utara, yang dikenal sebagai desa yang memiliki pengikut PKI.

“Semoga buku ini bersambung dan penulis bisa sampai ke wilayah Maluku dan Maluku Utara, karena cerita tentang perilaku para pengikut PKI ini bukan hanya ada di Jawa,” ujar Darwis berharap.

Buku ini menceritakan kekejaman PKI yang dituturkan dengan gaya bercerita, dan dimulai dari tahun 1926 hingga tahun 1968, dengan mengangkat cerita para saksi mata yang masih hidup dari Jakarta, Solo, Ngawi, Madiun, Magetan, Ponorogo, Blitar, Kediri dan Surabaya, yang berjumlah 30 orang mulai dari korban, sahabat, kerabat dan keluarga korban.

2016_5_15_4_55_2_651_AM_1 2016_5_15_4_56_6_516_AM_1

 

 

 

 

 

 

 

 

Salah satu yang masih hidup dan sekaligus menjadi korban dan saksi, Budayawan dan Sastrawan Senior, Taufiq Ismail, yang menuturkan kisahnya ketika berhadapan dengan PKI.

Setelah saya ikut menandatangani Manifest Kebudayaan yang melawan LEKRA, lembaga kebudayaan yang berhaluan komunis, saya dituduh kontra revolusi. Tuduhan ini jika digambarkan jaman sekarang, jauh lebih menakutkan dibanding tuduhan teroris. Akibatnya, Saya tidak jadi kuliah di Amerika karena visa tidak keluar. Gaji saya sebagai dosen langsung distop. LEKRA juga merancang seni ludruk yang sangat menghina IIslam seperti ; “Matine Gusti Allah ( Matinya Tuhan Allah)”, “Sunate Malaikat Jibril (Disunatnya Malaikat Jibril)” 

Dan masih beberapa lagi mereka menceritakan bagiamana seorang Ulama Besar Indonesia Buya Hamka, harus menerima penyiksaan setiap hari, yang diceritakan salah satu murid Buya, Kyai Cholil Ridwan,

Bahkan salah satu saksi, menceritakan bagaimana para pengikut PKI sebelum pecahnya pemberontakan di Madiun, PKI sudah mulai melakukan pembersihan terhadap TNI lalu disusul Polisi dan aparat pemerintah, lalu membunuh Ulama dan Santri.

2016_5_15_4_56_26_365_AM_1 2016_5_15_4_56_59_982_AM_1

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Bahkan yang paling sadis, ketika PKI membunuh Kapolres Ismiadi dengan cara diseret dengan Jeep Willis sejauh 3 kilometer, seperti diceritakan, Kusman Sesepuh dari Magetan.

“Kesaksian sejarah atas kekejaman PKI di waktu lalu, bukan cerita karangan, saya yakin masih banyak cerita-cerita kekejaman PKI yang tidak bisa digali oleh penulis, bisa jadi karena rasa trauma itu masih sangat membekas di sebagian warga,” ujar Heikal Safar, pendiri Heikal Center, yang sangat menentang keras lahirnya kembali PKI di Indonesia.

Heikal Center sendiri sangat mendukung jika literatur terkait dengan cerita kekejaman PKI yang sangat tidak manusiawi, semakin diperbanyak, mengingat banyak saksi mata, telah memasuki usia senja, agar bisa menjadi pelajaran dan bukti bagi generasi berikutnya, termasuk dengan filem yang menunjukkan keganasan PKI ketika melancarkan aksinya di 30 September 1965.

2016_5_15_4_57_33_483_AM_12016_5_15_4_57_49_589_AM_1

Bahkan Heikal meminta agar faham komunis lebih pantas untuk tidak berada di Indonesia, “PKI adalah sebuah kesalahan yang pernah di alami oleh bangsa ini, dan jangan lagi terulang,” Tegas Heikal, yang berencana untuk ikut memesan buku yang akan dijadikan literatur bagi anggota Heikal Center, agar dapat menambah wawasan kepada generasi berikutnya.

Buku yang dijual dengan harga Rp. 75.000 (belum termasuk ongkos kirim) dengan cara melakukan pembayaran terlebih dahulu ke pemilik Rekening BCA ; 4971-1100-219 atas nama ; Meirna Kusumo Wardani.

Kemudian bukti hasil transfer dilampirkan ke email ; bukusoco@gmail.com atau melalui WhatsApp dan telepon ke nomor ; 0811-1746-555.

(Jall)

Catatan : www.pembawaberita.com tidak ikut bertanggung jawab atas apapun yang terjadi terkait dengan pemesanan buku (lengkapnya cek di www.aksikejipki.com)

loading...