PembawaBerita.com – Menarik ketika Sekretariat Negara, atas persetujuan dari Presiden Joko Widodo, pada hari Rabu (15/6) sekitar pukul 12.00 wib menyodorkan surat bernomor : R-20/Pres/06/2016 kepada DPR RI, melalui Ketua Ade Komarudin, tentang penegasan jika Jokowi menunjuk satu nama untuk menjadi Kapolri menggantikan Jenderal Badroidin Haiti, yang akan memasuki masa pensiun pada tanggal 1 Agustus 2016 nanti.

Komisaris Jenderal Polisi, Drs, Muhammad Tito Karnavian, MA, PhD, yang saat ini menjabat sebagai Kepala Badan Nasional Pemberantasan Teroris (BNPT) setelah menduduki jabatan sebagai Kapolda Metro Jaya DKI Jakarta.

Penunjukan Komjen Pol. Tito Karnavian yang asli kelahiran Palembang, dianggap sebagai salah satu kejutan dari pemerintah, dikarenakan Tito adalah satu-satunya Polisi berpangkat Komjen yang berasal dari lulusan Akpol tahun 1987, sementara sesama lulusannya masih ada yang menyandang bintang satu.

Selain itu, Tito dianggap melangkahi para seniornya, ada Noer Ali (Akpol 1981), Dwi Prayitno (1982), Budi Gunawan (1983), Budi Waseso (1984), Putut Eko Bayususeno (1984), Syafruddin (1985), Suhardi Alius (1985), dan Ari Dono Sukmanto (1985).

Menariknya ini dikarenakan pengajuan nama Tito kepada DPR RI apakah akan mendapat sedikit pertimbangan dari Komisi III DPR RI yang akan melakukan fit and proper test, dan hal ini akan berlarut, hingga masa jabatan Badroidin habis, lalu kekosongan itu akan di isi secara otomatis oleh Budi Gunawan yang saat ini menjadi Wakapolri.

Budi Gunawan sendiri adalah calon Kapolri ketika bersama-sama Badroidin Haiti dicalonkan, namun persoalan yang ditimbulkan oleh KPK membuat nama Budi Gunawan, mantan ajudan Presiden Megawati, ditolak oleh masyarakat luas.

Jika seandainya Jokowi mengajukan nama Budi Gunawan mungkinkah keributan itu akan kembali menggema di berbagai lini masyarakat, terutama di sosial media.

Jika memang Jokowi ingin mengajukan Budi Gunawan namun tanpa menimbulkan keresahan seperti lalu, maka cara mengajukan nama Tito Karnavian adalah salah satu strategi yang tepat.

Dikarenakan bisa saja surat Jokowi akan dikembalikan oleh DPR RI, karena menginginkan nama lainnya, mengingat masih ada nama-nama yang menyandang pangkat Komjen dan juga senior Tito yang juga tidak kalah hebatnya dengan Tito selama menjadi Polisi.

Jika hal itu terjadi, maka sudah dipastikan calon Kapolri akan kembali digodok karena DPR RI masih menginginkan nama lainnya, dan bisa ditebak, hingga masa akhir Badroidin turun, secara otomatis Budi Gunawan naik mengisi kekosongan kursi puncak Polisi Republik Indonesia.

Tapi kesemuanya hanyalah sebuah prediksi dan hasil mengais dari beberapa puing-puing ingatan penulis terkait dengan cerita yang bertebaran di berbagai timeline, soal Budi Gunawan memegang rahasia Joko Widodo bisa menjadi Presiden RI.

Namun apakah benar rahasia itu ada ? Mengingat kedekatan Budi Gunawan dengan Ketua Umum PDIP Megawati Soekarnoputri, yang juga menjadi pengusung Jokowi sejak menjadi Walikota Solo, Gubernur Jakarta hingga Presiden RI, maka bisa saja ada, bisa juga tidak.

Jadi kuncinya ada di DPR RI, jika secara bulat menerima Tito Karnavian sebagai calon tunggal Kapolri, maka prediksi dan puing-puing itu akan disimpan dan dipelajari kembali, namun sebelumnya akan ditutup rapat dan digembok.

Sebagai lulusan Akpol tahun 1983, Budi Gunawan sendiri saat ini memang sudah mendekati masa pensiunnya di tubuh kepolisian, yang diperkirakan tersisa beberapa bulan lagi, namun dipastikan Budi Gunawan akan mendapatkan jatah kursi di kabinet Jokowi.

Yang jadi pertanyaan mungkinkah PDIP akan berdiam diri melihat jagoannya tidak juga di apresiasi oleh Jokowi untuk menduduki kursi Kapolri.

Namun kita tetap berdoa, apapun yang terjadi, semoga semuanya bisa menjadikan NKRI tetap berdiri dan tidak akan disusupi pengkhianat negara, yang ingin menghancurkan bangsa ini…….Amin…Wassalam.

 

Penulis : Jalu Jazz Pamone (Jurnalis)

IMG_20160121_210814

loading...