PB, Jakarta – Berbeda perasaan Ketua Umum Partai Priboemi, H. Muhardi, terasa ada yang hilang, ketika suasana Indonesia, melalui layar kaca, maupun ketika menyaksikan suasana Kota Jakarta. bagi Muhardi jika saat ini, Baik Indonesia maupun Jakarta, telah kehilangan sebuah makna dari peristiwa besar. “HARI KESAKTIAN PANCASILA”

Bahkan perasaan itu bagi Muhardi selaku Pribumi, sebuah perasaan dengan kenyataan yang tidak bisa digambarkan bagaimana rentetan peristiwa berdarah, yang dinamakan pemberontakan oleh Partai Komunis Indonesia yang dikenal sebagai Gerakan 30 September PKI (G30SPKI).

Bagi Muhardi dan Partai Priboemi, Pancasila yang memiliki dua kali penghargaan dalam satu tahun, Tanggal 1 Juni diperingati sebagai Hari Kelahiran Pancasila, dan 1 Oktober menjadi Hari Kesaktian Pancasila.

“Seharusnya dua kejadian ini, bisa memperkuat dan menanamkan rasa keindahan kepada seluruh masyarakat Indonesia, juga kepada pejabat negara maupun di daerah,” ujar Muhardi yang menyaksikan jika kedua hari bersejarah tersebut, hanya dijadikan sebagai acara seremonial belaka, tanpa adanya sebuah “Rasa” yang seharusnya bisa ikut dirasakan oleh masyarakat Indonesia.

Pancasila di masyarakat saat ini oleh Muhardi, bukan lagi sebuah “sesuatu” bagi masyarakat, khususnya kaum muda, apalagi sampai bisa merasakannya, bagaimana Pancasila itu seharusnya menjadi salah satu pegangan untuk diterapkan di lingkungan sendiri.

“Saya ingin kita sama-sama jujur, berapa dari kita semuanya yang bisa dan menghafal bunyi lima dasar Pancasila ?” Tantang Muhardi.

Tantangan Muhardi bukan sekedar olok-olok, beberapa kali tayangan yang ditampilkan Televisi, sebagian besar yang ditantang untuk menghapal pancasila tidak pernah selesai.

Bahkan untuk membuktikan ucapannya, Rabu (28/9/2016)malam lalu, di Taman Ismail Marzuki, Muhardi memanggil dua orang pria, dan menantang mereka untuk membacakan lima dasar di dalam Pancasila, dan salah satunya lupa pada sila ketiga, sementara yang lainnya terhenti di sila keempat karena tidak ingat sama sekali.

“Mereka-mereka itu (tidak hafal Pancasila) sebenarnya sudah mewakili sebagian besar masyarakat Indonesia,” ujar Muhardi, bahkan dirinya tidak kaget, ketika seorang artis yang bisa dikatakan memiliki rasa kebangsaan mungkin sudah hampir hilang, hingga dengan seenaknya menjadikan isi Pancasila sebagai mainan dan bahan olokan.

Saat ini Muhardi sedikit berharap kepada para pengajar di sekolah-sekolah, dan dimulai dari yang terendah, mungkin PAUD, agar dibuat sebuah permainan namun isi dan tujuan permainan tersebut untuk menumbuhkan rasa memiliki kepada Pancasila itu.

Muhardi mengungkapkan, jika saat ini Partai Priboemi sendiri sedang mempersiapkan diri sebagai salah satu partai yang akan menerapkan isi pancasila dengan lebih baik lagi, bahkan program-program khusus untuk lebih mengenalkan isi pancasila kepada masyarakat sedang di godok.

Bukan hanya Pancasila yang harus segera ditanamkan kepada masyarakat Indonesia sejak dini, namun juga UUD 1945 yang asli agar segera kembali diterapkan, karena UUD saat ini sudah mulai digerus dan secara pelan-pelan ingin dihancurkan.

“Sampai saat ini, merubah salah satu isi dari UUD terkait dengan Presiden Indonesia harus warga negara Indonesia Asli, artinya pribumi, justru dirubah dengan menghilangkan kata “Asli”, dan itu artinya siapapun yang memiliki KTP Indonesia bisa seenaknya menjadi Presiden,” sambut Muhardi.

Muhardi ingin agar MPR bisa dan DPR agar bisa memberikan kesempatan kepada seluruh warga negara selaku Warga Negara Kesatuan Republik Indonesia.

“Apakah Mereka Setuju Menghilangkan Kata asli dari UUD tersebut ?”

(Jall)

loading...