PB, Jakarta- Sekolah Staf dan Komando Angkatan Laut (Seskoal) dalam hal ini Direktorat Pengkajian Strategi dan Operasi (Ditjianstraops) menggelar Round Table Discussion (RTD) di Hall B, Gedung R.E Martadinata, Seskoal, Bumi Cipulir, Jakarta Selatan, Senin (10/10).

Kegiatan tersebut dibuka oleh Wadan Seskoal Laksma TNI Sulistiyanto, S.E, M.M, MSc mewakili Komandan Seskoal Laksamana Muda TNI Arusukmono Indra Sucahya, S.E, M.M dengan dihadiri para Pejabat Utama Seskoal, Patun dan Dosen, para peserta dari Kotama-kotama TNI AL Wilayah Barat serta perwakilan Pasis Dikreg Seskoal Angkatan ke-54 TP 2016.

rtd1-seskoalDirektur Pengkajian Strategi dan Operasi (Dirjianstraops) Kolonel Laut (P) Agus Priyatna, S.T. yang juga adalah Kepala Pusat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (KA P3M) sebagai pemapar, mempresentasikan hasil penelitian Seskoal tentang Efektivitas Pengamanan Perairan Selat Malaka dalam Menghadapi Ancaman Keamanan Laut, dengan para penanggap/narasumber Danlantamal IV Tanjung Pinang Laksma TNI Supriyanto Irawan, S.E dan Asisten Operasi Gugus Keamanan Laut Wilayah Barat (Guskamlabar) Kolonel Laut (P) Jaya Darmawan dan bertindak selaku moderator Letkol Laut (KH) Riduan, S.Ag., M.M.

Pokok pembahasan adalah sejauh mana efektivitas pengamanan perairan Selat Malaka yang telah dilakukan oleh TNI AL dalam hal ini Koarmabar sebagai Kotama Operasi di Wilayah perairan barat Indonesia terhadap ancaman keamanan laut di Selat Malaka dan bagaimana upaya-upaya TNI AL dalam hal ini Koarmabar dalam menghadapi permasalahan tersebut.

Komandan Seskoal Laksamana Muda TNI Arusukmono Indra Sucahya, S.E, M.M dalam amanat tertulisnya mengatakan, ancaman keamanan di laut yakni ancaman bersenjata atau tidak bersenjata berasal dari dalam maupun luar negeri serta dapat pula bersumber dari kejahatan terorganisir lintas Negara yang dilakukan oleh aktor-aktor non-negara/pihak-pihak tertentu dengan memanfaatkan kondisi dalam negeri yang tidak kondusif.

Ancaman keamanan di laut diantaranya ancaman tindakan kekerasan berupa perompakan, ancaman navigasi berupa perusakan/pencurian sarana bantu navigasi, ancaman terhadap sumber daya alam berupa penangkapan ikan secara illegal dan pencurian kekayaan laut serta pencemaran di laut dan perusakan ekosistem laut dan ancaman tindakan pelanggaran terhadap hukum di laut berupa pelanggaran pelayaran, penyelundupan senjata/amunisi/bahan peledak/bahan lain yang dapat membahayakan keselamatan bangsa, pengangkutan kayu/bahan tambang/mineral secara illegal serta imigran gelap.

Lebih lanjut dikatakan Laksamana Bintang dua ini, Koarmabar sebagai Kotama Operasi di wilayah barat Indonesia dalam menyikapi situasi tersebut telah menggelar operasi rutin berupa operasi mandiri maupun operasi patroli terkoordinasi (Patkor) dibawah kendali operasi Guskamlabar dan Guspurlabar.

“Untuk mendukung kecepatan aksi penindakan terhadap tindak kejahatan di Selat Malaka dan sekitarnya Koarmabar telah menerbitkan Telegram Pangarmabar tentang Wester Fleet Quick Respons (WFQR),” ujarnya.   (Mal/Pen Seskoal)

 

 

loading...