PB, Mataram – Kapolda NTB, Brigjen Pol. Drs. Umar Septono, tegas menyatakan sikap, bahwa panggilan tertinggi di dunia ini hanyalah milik Allah SWT, dan tidak ada yang boleh satupun makhluk atau apapun yang boleh menandingi panggilan tersebut.

Kapolda mengatakan hal tersebut, terkait dengan kesibukan kita sebagai manusia dalam kehidupan sehari-hari terkadang mengalahkan seruan nama Allah sebagai yang terbesar dan tertinggi.

“Kesibukan kerja kita di dunia, termasuk shopping, rapat, semuanya harus dihentikan, karena (harus memenuhi) panggilan paling tinggi yang hanya satu….Allahu Akbar, Allahu Akbar….mau panggilan yang mana lagi yang lebih tinggi ?” Tanya Kapolda kepada Masyarakat Desa Seteluk Atas, Kabupaten Sumbawa Barat.

Kapolda menyerukan dan mengingatkan kepada seluruh warga dalam sebuah acara pembangunan Mesjid oleh anggotanya, Brigadir Kepala Nurlana, yang juga sekaligus menghibahkan tanah miliknya untuk dibangun mesjid.

Rupanya video yang diunggah ke youtube ini, cukup membuat pendengarnya merasakan sebuah gema yang menggelegar hingga ke relung hati.

“Saya sampai tidak kuasa menitikkan airmata ketika melihat sendiri video yang diucapkan oleh seorang Kapolda, bahkan pengorbanan anggota Polisi yang menghibahkan tanahnya sekaligus mendirikan mesjid, membuat diri ini sangat kecil dihadapan mereka,” ujar Tundra Meliala, pemerhati sosial yang juga sebagai salah satu tokoh dari Alumni Universitas Gunadarma.

“Saya memahami betul bahwa amanah itu dari Allah yang sangat menakutkan, bukan membanggakan, bukan untuk kegagahan dan dihargai oleh umat yang lain, karena jabatan dan pangkatnya atau harta dan titelnya, tapi harus dalam ketakutan, Innalillahi Wainna Ilaihirajiun,” ujar Kapolda tegas.

Kapolda yang dikenal oleh anggotanya dan masyarakat NTB paling sering dan suka melakukan shalat berjamaah, bahkan kisah di Festival Senggigi dimana Kapolda terpaksa meninggalkan acara karena harus melaksanakan shalat Ashar berjamaah, dan dengan terpaksa meminjam sepeda motor anggotanya untuk mencari mesjid, karena padatnya pengunjung.

Bahkan kisah Kapolda yang pernah menolong korban kecelakaan tabrak lari, hingga Kapolda sendiri yang mengangkat korban serta meminta kepada supir mobil APV yang kebetulan melintas agar bersedia untuk mengantarkan 3 orang korban ke rumah sakit Bhayangkara, ajudan Kapolda yang sempat menceritakan kisah tersebut, mengatakan jika biaya pengobatan seluruh korban, ditanggung oleh Kapolda.

(Jall/sumber)

loading...