PB, Papua – Walaupun harus hidup dalam keterbatasan dengan dunia tekhnologi, namun kegembiraan selalu bisa saja diciptakan dan kegembiraan itu memang harus dilakukan secara bersama.

Demikian ungkapan, Darwis salah satu tokoh pemuda asal Maluku Utara yang sudah menetap di Jakarta, sejak memulai bisnis batu bacan sekitar dua tahun lalu.

img_20161029_130455 img_20161029_125017Darwis yang juga dikenal sebagai salah satu tokoh pemuda Islam pada kejadian beberapa tahun silam di Maluku Utara, merasa bangga dengan keberadaan Ormas Islam, Bulan Sabit Merah Indonesia di Papua, khususnya di Wamena Puncak Jaya Wijaya.

“Tidak mudah untuk terjun dalam lingkungan yang segalanya sangat terbatas, namun saya angkat topi buat mereka yang BSMI Papua, dengan gigih dan sabar untuk selalu berada disamping umat Islam Papua,” ujarnya.

Dari beberapa postingan yang juga disematkan kepada redaksi pembawaberita.com, melalui akun @BsmiJayawijaya tampak hampir dalam setiap kegiatan keagamaan, kegiatan nasional seperti Sumpah Pemuda, juga dilaksanakan, dengan gembira.

img_20161029_125008Para pengajar dan juga pembimbing, yang datang silih berganti, bahkan terkadang beberapa pegawai negeri yang berasal dari instansi pemerintah, baik daerah maupun pusat, juga ikut terlibat dan tidak mau berdiam diri melihat rekan sesama muslim yang mau hidup hingga ada yang tidak kembali sampai bertahun lamanya, demi mendampingi dan mengajari ilmu kepada masyarakat di Puncak Jayawijaya.

Seperti yang dilakukan oleh salah satu wanita bernama Anggita Fathimah Siregar, salah satu lulusan Fakultas Manajemen Ekonomi dari Universitas Bina Nusantara Jakarta, yang awalnya hanya penasaran, justru tanpa dia rasakan sudah menjalani kehiudpan selama 3 tahun.

img_20161029_125000Bukan hanya Anggita dokter, guru, dan banyak lagi lulusan dari Universitas berbagai Universitas di Indonesia, lainnya. Bahkan terkadang, profesi dan disiplin ilmu yang mereka pelajari, harus bisa menyesuaikan dengan keadaan dan kondisi.

Seperti yang dilakukan oleh para dokter dan guru dari BSMI, yang harus mau turun kelapangan, walaupun bukan untuk mengobati pasien atau mengajar, tapi bersama warga membangun dan memperbaiki fasilitas sarana jalan.

(Jall)

loading...