PB, Jakarta – Kondisi terkini yang semakin memanas, menjelang 4 November yang akan menjadi sebuah titik penting bagi umat Islam yang menuntut agar seorang Basuki Tjahaja Purnama yang jelas-jeas sudah menista Al Quran dan menghina Ulama, tidak dibiarkan bebas.

Seperti yang diutarakan oleh Ketua Umum FPI, Habib Rizieq Syihab, jika bukti dan saksi serta desakan secara Nasional dan Internasional, agar pihak kepolisian harus segera melakukan tindakan hukum secara tegas dan adil terhadap Ahok.

Bahkan beberapa contoh yang juga dikategorikan sebagai penistaan agama, seperti di Bali oleh seorang ibu rumah tangga, yang tidak memerlukan waktu hingga berminggu lamanya langsung ditahan.

Sementara Ahok yang sudah jelas-jelas, bahkan lengkap dengan bukti serta saksi, justru bebas menertawakan setiap orang yang marah dan menginginkannya untuk ditahan.

“Bisa anda bayangkan saat ini Ahok sedang tertawa puas karena berhasil mengerjai Jokowi, yang notabene seorang presiden, yang harus menghadap Prabowo tanpa di agendakan terlebih dahulu,” ujar Abdullah Kelrey, Presidium Nusa Ina Institute.

Kedatangan Jokowi serta Luhut Binsar Pandjaitan secara mendadak ke kediaman Prabowo, dianggap oleh Dullah sebagai bagian dari lobby agar prabowo, yang dikenal sangat dekat dengan para ulama dan habib, untuk ikut mendinginkan suasana.

Suasana panas yang dimaksud oleh Dullah, selain memang Jakarta sedang memasuki masa kampanye, juga karena pihak umat Islam yang dikabarkan berdatangan dari berbagai penjuru Indonesia ke Jakarta untuk menyatukan suara agar Ahok ditangkap atau dihukum secara Islam.

“Mau saja Jokowi menjadi pesuruh Ahok untuk mengurusi keselamatan dan keberadaannya. Apa susahnya sih ? Kan tinggal bilang ke Kapolri agar Ahok ditangkap, pasti semuanya beres dan tidak akan ada aksi,” ujar Dullah jengkel,

Menurut Dullah dalam beberapa kejadian, sejak usaha Ahok untuk bisa mendapatkan PDIP, Jokowi sudah mirip dengan calo, yang selalu berusaha untuk bisa memberikan jalan mudah bagi Ahok, walaupun itu harus mengorbankan jabatannya sebagai presiden.

“Masih ingat kan Rapimnas Golkar, ketika Jokowi mau saja nganterin Ahok ke rumah Megawati, dan akhirnya kebetulan satu tujuan, mereka bertiga ke lokasi acara bersama satu kendaraan,” ujar Dullah yang tidak habis pikir dengan perilaku Jokowi.

Bagi Dullah Jabatan Presiden yang diemban Jokowi, saat ini sudah tidak lagi memiliki nilai sakral, karena terbukti dalam beberapa kejadian bahkan sampai urusan hukum yang sudah jelas bersalah, masih saja dibela oleh Jokowi.

“Kalau dihitung-hitung, kebijakan dari seorang Jokowi sebagai Presiden, lebih banyak yang menguntungkan buat Ahok, dibandingkan untuk masyarakat Indonesia,” ujar Dullah sambil menyebut beberapa yang sangat tidak menguntungkan, sambil mengingatkan kembali soal impor Cangkul dari Cina.

“Yang ada malah rakyat rugi, coba saja lihat, uang yang dikumpulin buat naik haji, malah diminta juga untuk membiayai infrastruktur pemerintah,” ujar Dullah yang menganggap Presiden Indonesia kali ini bukan Presiden seluruh lapisan Masyarakat Indonesia, tapi Presiden untuk Kepentingan segelintir orang Indonesia.

(Jall)

loading...