PB, JAKARTA – Tidak banyak pensiunan jenderal, terutama dari TNI yang sampai saat ini masih berani memposting dan menulis melalui dinding akun sosial media mereka terkait dengan data dan opini serta pendapat yang mereka miliki lalu dibagikan kepada khalayak ramai.

Salah satunya adalah mantan Kepala Staff Umum TNI, Letjen Purn. Johanes Suryo Prabowo, yang sampai saat ini tidak juga berhenti untuk mengingatkan seperti apa bangsa Indonesia saat ini di matanya.

Berbagai cerita yang dibagikan Suryo Prabowo rupanya membuat beberapa kalangan seperti kebakaran jenggot, bahkan saking tajamnya isi tulisan yang langsung menyebut ke “jantung” membuat Prabowo mendapatkan serangan dunia maya dari berbagai akun.

IMG_20170620_034912Bahkan serangan-serangan tersebut, sudah mengarah ke hal yang sangat kotor, karena dicampur dengan makian. Namun rupanya mantan Direktur Pengkajian dan Pengembangan Doktrin dan Lingkungan Strategis Mabes TNI AD ini tidak ambil pusing, bahkan terkesan dinikmati.

“Saya cuma menyampaikan kebenaran, didasarkan pada data dan fakta yang saya miliki. Kalau karena itu lalu saya dinilai (menjadi) haters, dengki, iri, provokator dan dianggap pengen nyari perhatian biar dikasi jabatan oleh pemerintah. Itu salah besar, sekali lagi saya cuma tidak mau dibohongi meski resikonya saya harus sendirian dan dibenci oleh pembela kebohongan, (lambang bintang 3) JSP” tulis Surya Prabowo tegas menanggapi berbagai macam tudingan yang diterimanya, sejak memuat tulisan-tulisannya ketika Ahok mencalonkan diri sebagai Gubernur DKI. Bahkan dalam beberapa kali, JSP juga menyerang langsung ke Ahok dan etnis tionghoa yang dianggapnya semakin sombong dan bertingkah berlebihan kepada NKRI.

“Minoritas jangan sok jago,” ujar Prabowo pada salah satu postingannya terkait dengan keberadaan beberapa warga dari etnis negara lain yang sudah menjadi WNI namun dianggap oleh Prabowo terlalu angkuh. Berikut salah satu tulisannya, terkait dengan ucapannya.

Pengikut agama MAYORITAS apapun, yang menganut faham “garis keras”, umumnya disebut sebagai kelompok “ekstrim kanan” (EkKa).

Dipihak yang beseberangan, kelompok sekuler (Nasionalis?) yang didalamnya ada MINORITAS, selalu kuatir, bila EkKa mendominasi kehidupan bernegara.

Dalam konflik bernegara seperti ini, tentu tidak bijak bila masih ada warga minoritas yang memilih seorang diktaktor dan provokator dari kelompoknya sebagai kepala daerah, dengan asumsi bisa melindungi kepentingannya.

Bagaimanapun juga, hanya kepala daerah yang berasal dari kelompok MAYORITAS nasionalis lah, yang bisa MENGAYOMI MINORITAS.
Maxim ini berlaku umum, terutama di Jakarta.

Letjen TNI (Purn) Johannes Suryo Prabowo

(Jall)

loading...