Proyek pembangunan Rel Kereta Api Cepat yang dicanangkan oleh Presiden Joko Widodo beberapa bulan lalu, seakan-akan sedang menggambarkan kemajuan yang dicapai oleh kedua daerah sebagai pemberhentian kereta cepat tersebut, Jakarta – Bandung.

Walaupun saat ini proyek yang sempat menuai masalah, dengan munculnya tenaga kerja dari negara China, yang bahkan secara terang-terangan menggunakan baju loreng yang mencerminkan jika sipemakai adalah anggota tentara, yang ketahuan oleh anggota TNI AU yang kebetulan lahan milik mereka dilewati oleh rel kereta api yang dianggap oleh Jokowi sebagai sebuah karya prestigius. Walaupun harus menggunakan uang hasil utang.

Yang menarik, baik dari warga biasa sampai dengan tokoh nasional justru mempertanyakan urgensinya apa hingga Jokowi memaksa untuk dibangun rel kereta api cepat yang melintasi daerah-daerah sepanjang Jakarta – Bandung.

Para tokoh nasional bersama dengan warga dunia maya, justru meminta agar Jokowi seharusnya fokus dengan peningkatan ekonomi rakyat, karena masih banyak daerah-daerah di Indonesia yang membutuhkan pembangunan infrastruktur jalan dan perhubungan untuk mencapai sebuah kabupaten atau kota di satu propinsi. Contohkan saja Pulau Halmahera, sebuah pulau yang terbesar di Provinsi Maluku Utara, dimana sempat terbetik kabar jika akan dibangun sebuah rel kereta api yang akan mengelilingi pulau Halmahera untuk mencapai daerah-daerah yang masih sulit untuk di akses, atau mungkin di Kalimantan atau Sumatera Utara yang akhirnya diketahui ada sebuah desa yang sampai saat ini, masyarakatnya tidak mengetahui apa itu pemerataan pembangunan, karena akses untuk ke daerah tersebut, bukan hanya dikatakan sulit, namun juga bertaruh nyawa, karena harus melewati sebuah tebing yang hanya bisa dilakukan dengan jalan kaki. Apalagi klo menyebut Papua….!!!

Setelah semua kisah cerita yang bermunculan dan bahkan menjadi pokok persoalan utama, di dunia maya, persoalan Kereta Api Cepat hilang bak ditelan bumi, seakan-akan tidak begitu penting untuk dibahas. Namun penulis dikagetkan oleh sebuah tulisan hasil postingan dari sebuah akun yang memakai nama @nicelamb, ” Ternyata proyek kereta cepat jkt-bandung utk kepentingan proyek mikarta james riyadi,bukan utk kepentingan rakyat.”

Tulisan @nicelamb ini mengomentari postingan dari sebuah akun milik penulis terkenal @ZaraZettiraZR yang menyinggung soal Kereta Cepat yang dianggapnya hanyalah sebuah pemborosan, “Simpelnya kalo saya mah sebagai rakyat : mendingan ga punya kereta Cepat drpd negara ngutang pajak2 dan tarif pada naek 😜”

Proyek Meikarta digagas oleh seorang Konglomerat keturunan etnis Tionghoa alias Cina, James Riyadi yang dikenal sebagai salah satu orang terkaya di Asia. James ingin mewujudkan sebuah kota yang nantinya akan menandingi Metropolitan Jakarta. Dan proyek ini sedang mulai berjalan, diperkirakan akan menelan biaya hingga trilyunan rupiah, dengan melintasi berbagai daerah yang sebagian besar masuk Provinsi Jawa Barat.

Menariknya, hubungan antara pembangunan jalur yang dilalui Kereta Api Cepat (KAC) ini, justru melewati wilayah-wilayah perumahan elit dan juga tentunya akan melewati mega proyek Meikarta, apakah protek ini dipaksakan karena adanya tekanan dari para konglomerat yanb menguasai perekonomian dan uang di Indonesia ? Tentu saja kita gak bisa menjawab secara gamblang dan terbuka, karena diperlukan data dan bukti nyata, namun sebagai orang awam rasanya tidak terlalu sulit untuk mengetahui itu.

Karena secara tidak langsung, sebagai pusat pemerintahan dan juga sebagai sebuah pelabuhan masuk untuk pelayaran Internasional, Jakarta sudah tentu sangat dibutuhkan, tidak mungkin tidak, karenanya kondisi perumahan dan perkantoran elit di luar Jakarta sudah tentu membutuhkan sebuah akses yang cepat, karena untuk mengharapkan jalan tol saat ini sudah tidak bisa diandalkan 100 persen, lihat saja berapa banyak angkutan bus yang disediakan oleh pengembang bagi pemilik rumah-rumah mewah di kawasan yang mereka bangun, agar bisa menuju ke Jakarta tidak terlambat atau tidak lagi mengeluarkan ongkos banyak, dan yang pasti bisa tidur sebentar bagi yang semalam lembur di rumah.

Ketika saya sedang menulis ini, tiba-tiba sebuah postingan masuk ditujukan kepada saya sambil bertanya apakah benar jika pusat pemerintahan akan dipindahkan ? Saya langsung bereaksi dengan pertanyaan ini, karena saya sedang menulis keberadaan sebuah kota eksklusif dan modern maka secara otomatis pikiran saya langsung melayang jika memang benar akan dipindahkan, maka kemana lagi kalau bukan ke sebuah lokasi yang sudah siap dengan segala fasilitasnya kalau bukan ke Meikarta.

Dan yang pastinya James Riyadi tidak akan memberikan secara cuma-cuma tanpa mendapatkan keuntungan, paling tidak keuntungan itu adalah sebuah fasilitas dari negara, atau kalau tidak mungkin akan mendapatkan subsidi, yang entah seperti apa, tapi yang pasti tidak diperuntukkan bagi rakyat kelas kebawah yang saat ini sedang berjuang untuk membayar listrik dan tiket kereta api yang subsidinya dicabut.

Oleh ; Jall Pomone ( Jurnalis )

loading...