PB Jakarta – Tak ada jaminan sebuah kawasan berlabel konservasi sekalipun lepas dari ancaman keTak ada jaminan sebuah kawasan berlabel konservasi sekalipun lepas dari ancaman kerusakan. Seperti yang baru saja terungkap soal rusaknya hutan di Taman Nasional Gunung Gede Pangrango (TNGGP). Penyebabnya adalah cacing sonari. Sejenis cacing kalung ini sedang ramai – ramainya dicari karena nilainya yang fantastis.rusakan. Seperti yang baru saja terungkap soal rusaknya hutan di Taman Nasional Gunung Gede Pangrango (TNGGP).

Penyebabnya adalah cacing sonari. Sejenis cacing kalung ini sedang ramai – ramainya dicari karena nilainya yang fantastis. Bahkan seorang pedagang asongan, Didin (48), terancam hukuman 10 tahun penjara setelah kedapatan mengambil cacing sonari di kawasan Taman Nasional Gunung Gede Pangrango (TNGGP), Kabupaten Cianjur, Jawa Barat.

Pihak TNGGP menyatakan warga Kampung Rarahan, Desa Cimacan, Kecamatan Cipanas itu melanggar aturan perundang-undangan karena pengambilan cacing telah menyebabkan kerusakan di dalam zona inti dan zona rimba kawasan TNGGP.

Pelaksana tugas (Plt) Balai Besar Pangrango, Adison, menjelaskan pihaknya mengamati keadaan sebelum menangkap pencari cacing sonari yang dilakukan secara berkelompok tersebut. “Permasalahan diperkirakan dimulai sekitar September 2016. Saat itu, salah satu kabid kita melaporkan ada perusakan hutan kawasan zona inti di ketinggian 2.500 mdpl,” ujar Adison di Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Jawa Barat.

Untuk mencapai ke lokasi tersebut, ujar Adison, para pencari cacing menempuh perjalanan kurang lebih 8 jam. Padahal, untuk pendaki pemula untuk ke lokasi tersebut membutuhkan waktu hingga 15 jam. “Biasanya mereka menginap 3-4 hari. Tetapi, ketika kita berpatroli lagi mereka sudah tidak di lokasi. Melihat kerusakannya mustahil dilakukan hanya satu orang saja,” tuturnya.

Dalam memburu cacing ini, ucap Adison, pencari cacing menggali tanah dan menebang pohon. Setidaknya terdapat lima titik di zona inti dan zona rimba TNGGP rusak akibat penebangan itu. “Luasnya jadi sekitar 20 hektare dengan ketinggian berbeda-beda,” tuturnya

Seperti diketahui, TNGGP yang ditetapkan sebagai kawasan konservasi tahun 1980, menempati posisi penting antara lain sebagai hulu DAS Citarum, Ciliwung, Cisadane, dan Cimandiri. Sehingga kawasan TNGGP menjadi tumpuan lebih dari 30 juta penduduk di wilayah Jawa Barat dan DKI Jakarta sebagai penyuplai air bersih.

Menurut data dari TNGGP, di tahun 1970 UNESCO telah menetapkan kawasan dengan luas 24.270 hektar ini sebagai salah satu cagar biosfer di Indonesia. Di kawasan tersebut juga terdapat 6 zonasi yang salah satunya adalah zona tradisional yang memberikan ruang pemanfaatan bagi masyarakat sekitar kawasan.

Adison mengatakan, kasus perburuan cacing sonari di kawasan hutan TNGGP telah menyebabkan kerusakan hutan hingga mencapai 20 hektar di zona inti dan zona rimba. Dirinya mengaku butuh waktu sekitar 6 bulan pihaknya mengungkap kasus kerusakan hutan akibat pencarian cacing sondari di zona inti tersebut. Pihak TNGGP menduga 1800 – 2300 pohon ditebang dengan bekas galian tanah sehingga berpengaruh besar terhadap kondisi lingkungan.

“Kami menemukan oknum yang bertugas sebagai penadah cacing. Dari keterangan pelaku, kami menduga kasus cacing sonari ini dilakukan oleh kelompok sindikat dengan jumlah 10 sampai 60 orang dengan menggunakan alat khusus,” kata Adison.

Karena harga cacing di pasaran sangat pantastis, bila dijual dalam bentuk basah–cacing tersebut dihargai Rp50.000 per iket. Sementara jika dalam keadaan dikeringkan harganya bisa menembus angka Rp5 juta per kilogram. Oleh karena itu, banyak dari pelaku yang membawa perbekalan banyak lengkap dengan alat yang memadai.

“Cacing sonari besar, seukuran belut. Cacing ini termasuk cacing unik karena hanya bisa hidup di ketinggian tertentu. Jika malam hari cacing sonari bisa mengeluarkan suara seperti sonar,” paparnya.

Menurut Adison, cacing sonari juga memiliki banyak khasiat diantaranya dijadikan obat untuk types, meningkatkan vitalitas dan bahan kosmetik. Selain itu, cacing sonari disinyalir sebagai pakan pembesaran trenggiling. “Karena sudah ada pembesaran trenggiling. Trenggiling dijadikan bahan untuk narkoba,” ucapnya.

Dia mengatakan kasus ini telah dilaporkan ke pihak kepolisian dengan tuduhan perusakan lingkungan, pembalakan, serta perburuan dan perambahan. Aksi pelaku dinilai melanggar Pasal 78 ayat 5 dan atau ayat 12 Jo Pasal 50 ayat 3 huruf e dan atau huruf m Undang-Undang Nomor 41 Tahun 1999 tentang Kehutanan dengan hukuman 10 tahun penjara. (***)

loading...