PB, JAKARTA – Ketegangan yang terjadi antara KPK dan Anggota DPR RI yang menggulirkan Angket KPK membuat kedua pihak saling mencari kebenaran terkait perlu dan tidaknya dibuat angket KPK.

Pihak DPR RI mencoba untuk menunjukkan kepada KPK yang telah berusaha mengumpulkan ratusan guru besar dan dosen dari berbagai perguruan tinggi untuk mendukung mereka agar persoalan keberadaan angket KPK dianggap “ilegal”.

DPR RI mendatangkan pakar hukum tata negara Yusril Ihza Mahendra dalam rapat dengar pendapat umum, soal angket KPK yang semakin memanas, Senin (10/7) kemarin.

Dalam penyampainnya, Yusril mengatakan jika Angket KPK bukanlah hal yang terlarang, dikarenakan KPK dibentuk dengan menggunakan Undang-Undang maka untuk pelaksanaan pengawasan terhadap UU itu maka DPR RI dapat melakukan angket terhadap KPK.

“Namun apa yang diangket itu tidak akan saya jawab, karena itu bukan kewenangan saya, tapi secara hukum tata negara, karena dibentuk dengan UU, maka untuk menyelidiki sejauh mana UU pembentukan KPK itu sudah dilaksanakan di dalam praktek maka DPR dapat melakukan angket terhadap KPK,” ujar Yusril di hadapan Anggota Pansus Angket KPK. Sambil menambahkan jika angket juga dapat dilakukan terhadap kebijakan pemerintah.

Hal ini tentunya akan semakin membuat KPK meradang, mengingat Yusril bukanlah seorang yang gegabah dalam memberikan pernyataan, karena selama ini, Yusril selalu dapat memenangkan argumennya,baik secara langsung dalam persidangan maupun tidak.

Sementara itu, Wakil Ketua DPR RI, Fahri Hamzah, meminta kepada KPK untuk menyebutkan nama anggota DPR RI yang telah menerima suap E KTP, agar proses “Kehormatan” para anggota dewan tersebut dapat diproses di Mahkamah Kehormatan Dewan.

Bahkan yang membuat Fahri semakin jengkel dengan kinerja KPK dikarenakan beberapa orang yang telah menerima suap, ditengarai sudah mengembalikan uang suap tersebut, namun anehnya mereka tidak ditahan. Menurut Fahri hal tersebut sudah  jelas jika mereka mengakui telah menerima suap.

Bahkan Fahri Hamzah memuji seorang Yusril Ihza Mahendra dan juga secara tidak langsung menyinggung ratusan guru besar yang dikumpulkan oleh pendukung KPK untuk melawan Pansus Angket KPK.

Memang profesor waras tinggal sedikit…” tulis Fahri Hamzah melalui akunnya @Fahrihamzah

loading...