PB, JAKARTA – Rupanya keinginan pemerintah untuk melanggengkan UU Pemilu pada tanggal 20 Juli 2017 lalu, terkait dengan jumlah ambang batas yang harus dipatuhi oleh parpol sebanyak 20 kursi atau 25 suaran nasional, dianggap sebagai salah satu cara untuk mempertahankan kekuasaan Presiden Joko Widodo alias Jokowi 5 tahun periode berikutnya.

“Perasaan takut dan yakin jika dalam pilpres berikutnya tidak akan bisa memenangi kembali kedudukannya sebagai presiden, membuat Jokowi menyetujui pemerintahannya untuk memberlakukan sistim Presidential Threshold 20 persen, pada pilpres berikut,” ujar Yakub A. Arupalakka salah satu tokoh nasional saat ini, yang kerap melakukan aksi untuk melawan pemerintahan yang dianggap sudah gagal mensejahterakan rakyat.

“Bagaimana rakyat bisa sejahtera, ada pembeli gabah yang berani membeli harga tinggi di petani, malah di permasalahkan, alasannya merusak harga beras, sementara urusan garam saja harus impor karena tidak bisa mengendalikan peredaran dan produksi garam dengan baik,” ujar Yakub yang merasa jika persoalan mahalnya harga garam saat ini, karena campur tangan mafia perdagangan di Indonesia, yang dianggapnya  berada di sekeliling pemerintahan.

Keheranan Yakub dikarenakan Negara Indonesia memiliki prosentase jumlah lautan yang justru lebih luas dibandingkan daratan, namun garam juga harus impor, “Naik tadi pagi, ijin impornya sudah ditandatangan, kenapa tidak melakukan pengawasan distribusinya sampai dimana macet hingga harus mahal,” ujarnya sambil menambahkan jika dirinya tidak habis pikir dengan cara berpikir pemerintahan saat ini.

Yakub mengatakan demikian dikarenakan kebijakan pemerintah yang sebelumnya, sedikit banyak justru mengeluarkan kebijakan untuk melakukan penyelidikan, dimana kesalahannya ketika harga sebuah komoditas mahal, beda dengan pemerintahan sekarang yang justru langsung main impor. Bahkan Yakub juga menyinggung soal keinginan pemerintah untuk memakai dana haji karena sudah bingung soal hutang yang menumpuk untuk biayai pembangunan.

Yakub mengingatkan jika pemerintahan sebelumnya justru tidak pernah berpikir untuk memakai dana calon jamaah haji, namun berbagai persoalan krisis yang muncul bisa ditangani dengan baik, “Karena para pemimpin yang memegang tampuk kepemimpinan saat itu lebih condong membela rakyatnya, bukan partainya apalagi harus membela para menterinya,” ucap Yakub dengan nada sedikit tinggi karena menahan emosi.

Kembali pada persoalan ambang batas 20 Persen, ketika Jokowi mengomentari ucapan Prabowo Subianto yang menganggap jika UU Pemilu baru adalah lelucon gila yang akan membuat rakyat kesulitan untuk bisa ikut menentukan masa depan mereka, hanya karena pemimpin yang seharusnya dipimpin atas hasil pilihan mereka, harus dihalangi dengan aturan untuk kepentingan mereka sendiri.

“Sistim Presidential Threshold 20 persen sebelumnya dikarenakan pemilu yang tidak serempak, dimana anggota MPR dan DPR RI dipilih lebih dulu, kemudian presiden, tapi jika dilakukan secara bersamaan sudah jelas-jelas kemana arahnya dan siapa yang mendapatkan keuntungan dari UU itu ? jadi sebaiknya Jokowi belajar dulu kenapa dipakai waktu lalu dan tidak ribut, tapi dipakai sekarang malah ribut,” terang Yakub yang mendukung jika Presidential Thresholdnya 0 persen.

Bahkan Yakub sendiri berjanji akan berdiri di depan nanti, jika nantinya Yusril Ihza Mahendra yang berencana akan melakukan perlawanan terhadap lolosnya UU Pemilu dalam sidang di Mahkamah Konstitusi, Yusril sendiri beranggapan jika UU Pemilu tersebut, sangat cacat hukum dan tidak layak untuk diterapkan.

“Saya yakin Yusril bisa mematahkan argumen anggota DPR yang memaksakan diri menyetujui Threshold 20 persen, dan jika nantinya ada dukungan secara moral kepada Yusril dan timnya, saya akan berdiri di depan untuk memberikan orasi,” ujar Yakub yang tidak pernah kapok untuk melakukan demo dan orasi.

Yakub sendiri pernah merasakan hantaman dari pihak keamanan ketika secara tidak sengaja, berhasil lolos ke dalam gedung KPK dengan alasan untuk mencharge sound system tunggal yang biasanya dipakai untuk demo. Ketika berada di dalam gedung, dan merasa jika isi baterey soundnya sudah cukup, Yakub mencoba mengetes suara soundnya, namun tanpa sadar Yakub yang masih terbawa suasana demo di luar gedung KPK, langsung meneriakkan “TANGKAP AHOK”.

Bisa dibayangkan suara Yakub yang begitu keras dan lantang di dalam gedung KPK, hingga akhirnya membuat suasana di dalam gedung KPK gaduh, sementara pihak keamanan yang kaget bukan kepalang, langsung memiting leher Yakub bahkan ada yang sempat melakukan pemukulan ke arah wajahnya, namun berhasil ditangkis.

(jall)

loading...