PB, SURABAYA – Mahalnya harga garam yang sudah mencapai hingga 200 persen, seharusnya bisa membuat warga untuk berhati-hati ketika muncul secara tiba-tiba harga jual garam lebih murah dari harga garam yang sedang menajak tinggi, kecurigaan tersebut perlu dilaporkan ke pihak yang berwenang, terutama Badan Pengawasan Obat dan Makanan atau langsung ke pihak kepolisian.

Kejadian awal berasal dari wilayah Kawasan Pesisir Timur Surabaya, yang menemukan beberapa bungkusan garam yang mencurigakan yang mirip dengan tawas yang ditaruh diantara tumpukan garam lokal. Dan tidak berselang lama kemudian, kehebohan berlanjut di Kabupaten Lamongan, ketika warga menemukan beberapa batu kristal putih yang sangat mirip dengan tawas. Akibatnya bisa diduga kehebohan tersebut menjalar dengan cepat.

Ketua Asosiasi Petani Garam Rakyat Indonesia, M. Jakfar Sodikin membenarkan jika batu kristal putih itu, juga garam, namun garam tersebut berasal dari Australia, “Itu jenis garam impor dari Australia dan jenis itu tidak mudah hancur, walaupun ditekan dengan tangan,” ujarnya sambil menambahkan, jika garam impor dari Australia tersebut dibuat dengan cara tekhnologi berbeda dengan garam lokal.

Akibatnya garam Australia tersebut lebih padat dan keras, bahkan dipasaran bentuknya lebih besar, dan jika dimasukkan ke dalam air tidak mudah larut dan bertahan lama, “Akhirnya masyarakat menyebutnya batu kristal, atau dicurigai tawas, karena warnanya sangat putih, menyerupai tawas.” ujar Jakfar.

Garam hasil olahan secara mekanik ini, memiliki kandungan NaCl hingga 97-99 yang dianggap membahayakan bagi masyarakat, karena batas NaCl yang layak untuk dikonsumsi masyarakat memiliki batas kandungan hingga 94,7 persen. Sementara kandungan NaCl 97-99 diperuntukkan bagi konsumsi industri, atau biasa disebut garam industri, sementara untuk masyarakat disebut dengan garam konsumsi.

Dicurigai peredaran garam industri impor dari Australia ini, berawal ketika ijin impor garam konsumen sebanyak 75 ribut ton yang dikantongi PT. Garam. Lalu Direktur Utama PT. Garam, Achmad Boediono melakukan penipuan untuk mengeruk keuntungan besar, dengan cara memanggil perusahaan penghasil garam dari India dan Australia, yang diketahui ternyata menjual garam industri, yang harganya jauh lebih murah Rp. 400/kg jika dibandingkan dengan garam konsumen yang mencapai Rp. 1200/kg.

Bahkan Achmad juga memerintahkan untuk merubah hasil laboratorium dimana kadar kandungan NaCl mencapai 99 persen dirubah menjadi 94,7 persen. Dan tidak sampai disitu, untuk lebih meyakinkan masyarakat, Achmad juga memerintahkan untk mengganti kemasan yang ditulisi garam yang berbahan baku lokal.

Kasus Achmad sendiri bukan hanya memanipulasi kandungan NaCl dan kemasan, namun Achmad juga tidak memberikan hak petani garam sebesar 10 persen yang diambil dari biaya masuk garam impor. Dimana dana 10 persen itu memang diperuntukkan bagi petani garam lokal agar mereka bisa bersaing dengan garam impor.

Sekedar untuk diketahui, garam industri yang mirip dengan tawas atau disebut batu kristal, bukan hanya diperuntukkan bagi industri makanan dan minuman, namun juga dipakai untuk keperluan pabrik kaca, pabrik kertas bahkan hingga pengeboran minyak.

Sementara itu hasil dari penyelidikan dari kasus Achmad Boediono, ternyata impor garam industri dari Australia sudah beredar, bahkan kemasan garam yang biasanya dikeluarkan PT. Garam yang bertuliskan Garam Beryodium dengan merek dan cap SEGI TIGA “G” agar dilihat dan perhatikan dengan seksama, karena kemasan yang sudah diganti ternyata sudah beredar sebelum kasus tersebut terungkap. Bahkan kehebohan masyarakat di Jawa Timur terjadi karena garam industri hasil penipuan Achmad Boediono sudah sampai dan terlanjur beredar di Jawa Timur.

(jall)

 

 

loading...