PB, JAKARTA – Harga garam yang meroket tinggi, yang ditengarai akibat perbuatan para mafia perdagangan di Indonesia yang memperebutkan ijin kuota impor garam yang selama ini hanya dikuasai dan dimiliki oleh perusahaan milik BUMN,  PT. Garam akhirnya berbuah, dengan dilaporkannya Dirut PT. Garam, Achmad Boediono ke polisi akibat melakukan penipuan isi permintaan garam yang seharusnya mengimpor garam konsumen namun di ganti dengan garam industri.

Selain itu, Achmad dan kelompoknya juga mengganti hasil pemeriksaan kadar dalam kandungan garam, NaCl yang seharusnya 99 persen pada garam industri, kemudian dirubah menjadi 94,7 persen sebagai batas tertinggi kandungan NaCl pada garam konsumen. Lalu pada kemasan garam produksi PT. Garam, konsumen dibohongi dengan tulisan menggunakan bahan baku lokal, yang aslinya impor dari perusahaan pembuat garam di Australia dan India.

Bahkan garam konsumen “palsu” produksi PT. Garam sudah beredar di masyarakat, hingga akhirnya membuat heboph masyarakat Surabaya dan Lamongan, Jawa Timur yang menemukan beberapa bentuk garam yang mirip tawas dan menyebutnya “Batu Kristal” karena ketika di masak dalam air tidak langsung larut sepeti garam biasanya, bahkan ketika dihancurkan dengan tangan sangat keras, karena garam industri dibuat dari hasil tekhnologi dan hanya dipergunakan untuk produksi makanan dan minuman, serta pembuatan kaca dan plastik bahkan juga dipakai dalam sebuah pengeboran minyak.

Hasilnya, para mafia perdagangan berhasil memaksa pemerintah untuk menerbitkan ijin untuk mengimpor garam kepada 27 perusahaan swasta, namun ke 27 perusahaan tidak disebutkan, sementara dari hasil penelusuran pembawaberita.com ditemukan untuk wilayah Jawa Timur saja, ada 7 buah perusahaan yang selama ini menyerap garam dari petani, yaituSumatraco Langgeng Abadi, Cheetam Garam Indonesia, Saltindo, Unichem, Budiono Bangun, Susanti Megah, dan Garindo Sejahtera Abadi.  Dan dipastikan ke tujuh perusahaan tersebut juga ikut mengantongi ijin mengimpor garam.

Namun tidak semua warga mengeluhkan mahalnya garam, terbukti seorang warga di Kalimantan Utara, yang biasa disapa Pak Alimin, akhirnya bisa menikmati tambahan ekonomi rumah tangganya, ketika merasa jika persoalan garam ini akan mengganggu keadaan ekonominya, maka Pak Alimin mencoba untuk membuat garam sendiri, dengan cara sangat tradisional, hingga akhirnya usaha kerja keras Pak Alimin akhirnya membuahkan hasil.

Garam yang diproduksi oleh Pak Alimin bukan hanya untuk memenuhi kebutuhan garam di dapurnya, tetapi kebutuhan ekonomi lainnya juga ikut teratasi, karena hasil produksi garamnya yang mulanya untuk dipakai sendiri, ternyata diminati oleh warga sekitar, hingga akhirnya Alimin memproduksi lebih lalu dijual kepada masyarakat sekitar dengan harga yang sangat murah, Rp. 4000/kilogram, jika dibandingkan dengan harga garam saat ini Rp. 16 ribu/kilogram.

(jall)

loading...