Pembawaberita.com – Sekarang sudah masuk September… bulan depan Oktober, Anies-Sandi dilantik. Tapi sejak Mei lalu mereka menang dari Ahok-Djarot, belum ada tanda-tanda mereka punya Program yg jelas. Ada janji-janji, tapi mungkin janji-tinggal-janji. Di Dunia Tinju, ada yg dikenal slow starter… mungkin Anies-Sandi salahsatunya…

Ya, apa boleh buat… daripada mendapat Cina-Mending! Akibatnya memang riskan… Pertama, Mafia2 Cina seperti mendapat angin untuk “silahkan berbuat”, termasuk kalau “mau negosiasi”… masih ada waktu sampai 20 Oktober. Juga bagi Djarot… u/ melanjutkan Program Ahok yg belum selesai…

Sekiranya Anies-Sandi sedikit ofensif, belum tentu MA memenangkan Pulau G… Begitu, lho! Tapi tidak apalah… dari 17 Pulau menjadi 3 Pulau, termasuk C dan D dari Jokowi, tidak akan membikin Podomoro dan Sedayu menjadi bangun… mereka sekarat. Hampir dipastikan mereka batal melanjutkan reklamasi! Sebaiknya Anies-Sandi juga tidak termakan suap!

Tapi masih banyak pekerjaan lain, selain menenggelamkan. pulau-pulau Giant Sea Wall, mimpi gilanya Jokowi itu. Pertama adalah soal kemacetan Jakarta. Temenku dari Jerman bilang, kalau di negara maju, bekerja itu “From 9 To 5″… seperti Dolly Parton bilang… tapi di Jakarta “From 5 To 9″… Kok bisa hidup ya, di Indonesia…

Trans-Jakarta gagal di tangan Ahok. Dia bukan Mass Rapid Bus… waktunya tidak jelas… rutenya ngawur… tidak efisien… sehingga tidak menarik bagi penumpang mobil pribadi! Padahal tracknya sudah khusus… pakai pembatas beton… yang merusak jalannya orang lain… dan bikin macet.

Di Frankfurt tidak perlu pembatas, sehingga kendaraan lain masih bisa bermanuver… Hidupkan pula bis-bis biasa, yang digabung menjadi SATU USAHA BIS Trans-Jakarta, dengan sistim monopoli dan penggajian tetap… bukan setoran terbanyak. Sudah sering ke luar negeri, tapi banyak yang cuma MENIRU SEPERTI MONYET PUN GAK BISA…

Anies-Sandi harus MENJEBOL pembatas beton! Di Dishub ada Industri Beton Pembatas yang menjadi GAJI EXTRA orang-orang Dishub dan pabrik-pabrik semen2 Cina. Juga BONGKAR Beton Pembatas Jalur Lambat dan Cepat… yang tidak perlu… Sekali masuk terjebak kemacetan… dan menghabiskan anggaran. Biarkan jalan lebar-lebar dengan 4-5 jalur!

Yang penting dibuat adalah Jalan Samping… Kota dibangun dengan Super Block… tiap satu block ada 4-5 bangunan, lalu ada jalan samping. Dengan cara itu, akan terbuka wilayah-wilayah baru untuk Penghunian dan Pusat Bisnis! Silahkan membangun di sana!

Lalu jalan-jalan Layang ditambah… dan Lampu lalu lintas menjadi tidak perlu. Lha sudah ada jalan layang, kok lampu merah-hijau-kuning masih dipasang terus… Dasar goblog! Bahkan ada jalan layang, tapi orang dilarang masuk… persis di depan Mabes Polri…!

Tempat-tempat parkir harus dibangun… bisa Parking Lot, bisa Parking Ramp. Dilarang parkir di pinggir jalan… Toko-toko kecil digabung menjadi satu bangunan besar bertingkat… maka akan tersedia banyak lahan untuk parkir dan jalan samping. Lantai satu dan dua untuk usaha2 kecil dan bengkel-bengkel. Warung2 Tegal, Warung-warung Kejut, Tenda-tenda Sore dan Orang2 Asongan ditaruh yang usaha di situ… trotoar hanya untuk orang jalan!

Dari mana biayanya? Dari Pemda DKI dan masyarakat. Anies-Sandi mencanangkan Program Tahun Tata Kota Nasional 30 tahun lewat Perda… Siapa pun Gubernurnya harus menjalankan ini… dan bisa ditiru untuk *seluruh Indonesia*. Setelah 30 tahun akan jelas wajah Jakarta dan kota2 di Indonesia berubah menjadi seperti di Eropa…. Tanpa ini, 100 tahun lagi Jakarta tetap akan seperti sekarang, bahkan TAMBAH RUSAK!

Pembiayaan dibagi menjadi 10 tahunan. Siapa pribadi dan pengusaha yang mau membongkar dan membangun sesuai program dibantu 60% oleh Pemda… 10 tahun kedua, dibantu 30%… 10 tahun ke tiga, tidak dibantu! Tidak perlu ada pulau-pulau Reklamasi… tidak perlu ada Meikarta… tidak perlu ada pikiran *Cina Berambisi Menjajah NKRI*. Mari membangun Indonesia bersama! NKRI bukan milik James Riady, TW, Aguan, Eka Tjipta… bukan pula milik Ciputra dan lain-lain.

Dan Anies-Sandi jangan lupa, membikin rumah untuk Ribuan Kepala Keluarga yg rumahnya DIGUSUR dan DIHANCURKAN Ahok. Tahun 90-an, saat Jembatan Layang menuju Pluit dibangun Radinal Muchtar, Soeharto sadar belum bisa membangun perumahan untuk warga DKI… mungkin mereka korban urbanisasi. Sehingga Soeharto membiarkan warga tinggal di bawah kolong Jembatan, antara lain, di Kalijodo. Bersama dengan warga Kampung Pulo, Luar Batang dan lain-lain, Kalijodo DIHANCURKAN Ahok dan Djarot… dan Jokowi diam saja. Maka adalah tanggungjawab Anis-Sandi untuk membangunkan rumah-rumah bagi mereka yg tergusur: RUMAH, bukan Rusunawa! Karena mereka PRIBUMI yang BERHAK atas Rumah Tapak dan BEBAS dari PBB. Ini bukan soal RAS, bukan pula soal yang KUAT harus MENANG. Tapi ini adalah soal KEPEMILIKAN REPUBLIK. Siapa yang menjadi Pemilik Republik ini harus boleh mempunyai hak-hak istimewa yang TIDAK SEWENANG-WENANG. sedang yang lain-lain, Asing dan Aseng, boleh dan punya hak, tapi harus tahu diri dan TIDAK MENGINJAK KEPALA. Di mana-mana di Dunia begitu…! Imigran harus tahu diri, minoritas harus tahu diri…. jangan ingin punya hak sama atau lebih…. dan semua harus Pancasilais!

Juga Anies-Sandi. Pikiran ini bernaksud mengingatkan mereka, untuk jangan sampai disuap Mafia-mafia Asing dan Aseng, yg pasti siap MENGGANAS!

@SBP

sbp

(JUDUL ASLI ; *EKONOMI RAKYAT…. (XII)*)

loading...