PB, JAKARTA – Terkait dengan pernyataan Presiden Joko Widodo tentang dirinya sedang diserang oleh lawan politiknya terkait dengan lesunya daya beli masyarakat membuat beberapa tokoh justru menganggap jika Jokowi terlalu “cengeng”  dengan mengatakan jika dirinya sedang diserang lawan politiknya terkait daya beli yang menurun drastis.

Bahkan netizen juga ikutan mengejek Jokowi jika yang dimaksud dengan lawan politik Jokowi adalah Badan Pusat Statistik atau biasa dsingkat dengan BPS sebagai lawan politiknya, dikarenakan yang mengeluarkan data lesunya daya beli masyarakat justru melalui BPS.

Selain BPS, sepertinya dua orang anak buah Jokowi masuk dalam kelompok yang disebut oleh Jokowi, yaitu, Menteri Perdagangan, Enggartiasto Lukito dari Partai Nasdem dan Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal, Thomas Trikasih Lembong alias Tom Lembong.

Seperti kita tahu beberapa waktu lalu kedua menteri tersebut mengeluarkan pernyataan jika kondisi daya beli masyarakat memang sedang lesu, bahkan Tom lebih “sadis” lagi menyerang Jokowi dengan mengatakan jika, kebijakan pemerintahan saat ini dijalankan secara misterius, dikarenakan nilai Investasi meningkat tajam, tapi anehnya daya beli justru menurun.

Dari hasil kajian lembaganya, Tom Lembong menemukan penurunan daya beli yang sangat signifikan dibandingkan dengan beberapa tahun sebelumnya, dimana indikator daya beli masyarakat dilihat dari penjualan ritel yang biasanya turun pada kisaran 12% hingga 14%, namun pada tahun 2017 mencapai hanya 3%, hingga tingkat inflasi yang berada pada teritorial 4% pada bulan Juli 2017 justru berada di bawah pertumbuhan ritelnya.

Bahkan kenaikan harga di beberapa kebutuhan mendasar rumah tangga, seperti listrik dan juga bahan bakar minyak, menjadi salah satu indikator utama dalam penurunan daya beli masyarakat, namun ada salah satu alasan yang sangat mendasar yang diungkapkan oleh salah satu tokoh pemuda dari ormas Gerakan Pribumi Indonesia, Bastian T. Simanjuntak.

Bastian mengatakan jika masuknya investor yang disebut oleh Tom Lembong meningkat mungkin ada benarnya, namun masuknya investasi tersebut justru menjadi sebuah cerita baru dalam pertumbuhn ekonomi ketika para tenaga kerja yang diambil justru dari China.

Bastian justru merasa heran dengan pernyataan Tom Lembong, karena hal ini juga menjadi salah satu pemicu turunnya daya beli masyarakat yang mencapai 3%, karena para TKA asal China yang digaji oleh perusahaan hingga blasan juta rupiah, justru tidak memanfaatkan uangnya di Indonesia, namun dihabiskan di negara asal mereka.

“Gaji mereka sudah pasti dimasukan ke rekening bank milik China, bukan bank yang ada di Indonesia, apalagi mereka kebanyakan tinggalnya di dalam areal perusahaan yang secara tidak langsung urusan makan dan lainnya menggunakan subsidi dari perusahaan,” ujar Bastian.

Bahkan menurut beberapa sumber redaksi menyebutkan jika para pekerja dari luar tersebut, menggunakan barang-barang yang didatangkan dari negara mereka melalui kapal yang masuk, seperi sabun dan odol untuk kebutuhan sehari-hari, dan persoalan tempat tinggal sumber redaksi membenarkan pernyataan Bastian jika mereka lebih banyak yang berdiam diri di lokasi perumahan, bukan di masyarakat langsung.

“Ketika masih ramainya pertambangan, sebelum adanya aturan larangan ekspor langsung, penduduk sekitar pertambangan mengalami peningkatan ekonomi yang cukup baik, pekerja berbelanja di warung milik penduduk, dan tempat tinggal mereka sewa di rumah-rumah penduduk,” ujar Ahmad yang berdomisili di Provinsi Sulawesi Tenggara, dan sempat bekerja di salah satu perusahaan tambang di wilayah Kolaka Utara.

Maka tidaklah heran jika saat itu pertumbuhan ekonomi dari desa ke kota cukup tinggi, bahkan banyak keluarga dari para pekerja ini liburan ataupun berbelanja hingga ke kota-kota besar di Jakarta dan Bandung, karena selain penduduk setempat, juga banyak pegawai berasal dari daerah lain.

“(pekerja tambangnya – red) Bukan dari negara lain,” ucap Ahmad sambil tersenyum pahit, ketika menyebutkan jika pertumbuhan ekonomi bisa meningkat tajam karena uang gaji yang mereka terima dihabiskan di Indonesia, bukan di negara lain.

Sementara itu Fadli Zon, wakil ketua DPR RI dari Partai Gerindra justru merasa heran dengan pernyataan Jokowi yang menyebut jika dirinya diserang lawan politik, terkait isu daya beli menurun, karena dari hasil pertemuan dengan masyarakat yang mereka terima membenarkan jika mereka merasakan daya beli menurun drastis.

“Ini murni isu ekonomi, bukan isu politik, jadi jangan merasa diserang dengan isu politik dengan persoalan daya beli yang turun,” ujarnya,pada Kamis (5/10/17) di areal kompleks parlemen, Jakarta.

Sementara itu, Partai Demokrat justru menantang Jokowi, melalui Wakil Ketua Dewan Pembina Partai Demokrat Agus Hermanto menantang Jokowi untuk membuktikan jika dirinya hanya diserang dengan menggunakan isu daya beli masyarakat sedang menurun.

“Jokowi silahkan membuktikan apa yang disampaikannya (jika daya beli masyarakat turun hanya isu),” ujar Agus di Senayan beberapa hari lalu. Agus bahkan membandingkan ketika SBY menjadi presiden yang mampu meningkatkan pertumbuhan ekonomi, 6-7 persen. Sementara Jokowi hanya mampu menaikkan pertumbuhan ekonomi dikisaran 4-5 persen.

(jall)

loading...