PB PURWOREJO – Apa yang dialami oleh Fitri Ashari (23), warga RT 02/ RW 06, Desa Ketangi, Kecamatan Purwodadi ini bisa menjadi contoh salah satu diantara sekian banyak potret buram pilih kasihnya pelayanan kesehatan yang diterima masyarakat Kabupaten Purworejo. Fitri nyaris saja mengalami masa kritis dalam proses persalinannya karena hampir terlambat mendapatkan layanan kesehatan. Ironisnya, keterlambatan penanganan tersebut harus dialami karena Kartu Indonesia Sehat (KIS) yang dimiliki Fitri membuatnya tak bisa mendapatkan pelayanan secepatnya dengan berbagai alasan.

Istri dari Heri Supriyanto (25) ini sendiri telah melahirkan anak pertamanya di RSUD Tjitrowardjojo pada Sabtu (30/9) lalu. Namun hingga saat ini, Kartu Tanda Penduduk (KTP) milik sepasang suami istri ini masih ditahan pihak rumah sakit lantaran mereka belum mampu melunasi biaya persalinan sebesar Rp. 4.225.000,’.

Dikatakan, bahwa dirinya sebenarnya tidak tahu persis tentang biaya yang harus ditanggung dari persalinannya itu. Sedari awal, ia menganggap bahwa semuanya akan gratis dengan menggunakan KIS yang ia miliki.

Sementara itu, Heri, sang suami menjelaskan permasalahan itu muncul, awalnya, ketika si istri hendak melahirkan, ia telah mencari tahu seputar pembiayaan KIS. Dan ternyata informasi yang didapat, bahwa biaya persalinan menggunakan KIS ditanggung oleh pemerintah alias gratis.

Dikisahkan, fitri masuk rumah sakit hari Jumat (29/09) lalu dan sebelumnya juga telah ditanyakan tentang penggunaan KIS, ternyata memang diketahui gratis. Setelah di RSUD , fitri dikasih obat pacu agar lebih lancar melahirkan, tapi sampai hari Sabtu malam belum melahirkan juga.

Heri yang tidak tega melihat istrinya sekarat tak berdaya akhirnya meminta pihak rumah sakit untuk segera melakukan operasi. Namun, pihak rumah sakit memberikan persyaratan yang di luar dugaan. Pasien menggunakan KIS tidak bisa mendapatkan pelayanan secara cepat. Pasien harus menunggu sampai hari senin agar bisa ditangani, pasalnya dokter KIS saat itu sedang libur.

Namun ketika pasien sanggup membayar biaya persalinan itu, tiba-tiba dokternya ada dan fitri bisa dioperasi.

Heri pun menyesalkan tindakan rumah sakit yang seolah-olah mengabaikan pasien dengan jaminan KIS. “Sebagai seorang kepala keluarga yang hanya bekerja sebagai karyawan di sebuah percetakan dengan upah yang pas-pasan, saya sangat keberatan dengan biaya yang harus kami tanggung,”kata Heri.

Sementara pihak RSUD Tjitrowardojo saat dihubungi melalui humasnya menyatakan pihaknya akan segera memanggil keluarga pasien untuk diajak duduk bersama menyelesaikan persoalan itu. (Wardoyo)

loading...