PB, JAKARTA – Pria yang biasa dipanggil rekan-rekannya dengan sebutan Mamang saja ini tampak kebingungan usai turun dari kendaraan angkutan Metromini jurusan Blok M-Lebak Bulus, tujuannya ingin naik Bus luar kota dengan tujuan Sukabumi.

Mamang bersama dua orang rekannya kebingungan karena mereka baru saja “dipaksa” turun di di lampu merah yang berada di perempatan dari arah Pondok Indah ke Lebak Bulus, tujuan Mamang adalah menuju Terminal Lebak Bulus.

Karena dari keterangan kondektur Metromini yang mengatakan jika akan balik ke Blok M maka penumpang dengan terpaksa turun dan berjalan kaki menuju ke Terminal. Sejatinya terminal Lebak Bulus berada tidak jauh dari lokasi perempatan lampu merah.

Karena lahan terminal Lebak Bulus yang sudah direbut oleh kepentingan Mono Rail Transway maka lokasi terminal dipindahkan semakin jauh dari perempatan tempat Mamang turun, sekitar 2 kilometer mereka bertiga berjalan kaki menuju Bus Luar Kota yang menuju ke Sukabumi.

“Perasaan dulu nggak sejauh ini, kok tambah jauh rasanya,” ujar Mamang kepada dua orang rekannya yang tampaknya hanya bisa pasrah dengan kondisi yang mereka belum tahu sebelumnya. Bahkan mereka bertiga sempat kebingungan karena ternyata Terminal yang dicari tidak ada papan penunjuk atau papan lokasi terminal.

Lokasi terminal yang berada tepat dibelokan yang akan menuju ke arah Ciputat rupanya mirip pangkalan mobil liar, karena hanya diberi dinding seng dan itupun tanpa ada papan penunjuk, apalagi berharap akan adanya ruang tunggu penumpang. Maka ketika hujan sudah tentu harus menumpang di beberapa warung yang kebetulan didirikan secara darurat oleh pengurus anggota perhimpunan pengurus bus antar Kota.

Suryadi salah satu pengurus mengatakan keopada media ini jika kondisi mereka memang sangatlah memprihatinkan, karenanya beberapa tempat mereka bangun untuk memberikan kesempatan kepada penumpang untuk menunggu bus berangkat, itupun harus berdesakan dengan opengunjung lainnya yang akan minum kopi.

“Kami terpaksa harus membangun semua ini, karena kasihan penumpang yang masih akan menunggu,” ujarnya mendampingi Kepala Terminal Lebak Bulus Supri Hartono yang kebetulan mengajak Suriyadi untuk memberikan keterangan kepada media ini.

Supri sebelumnya menjadi Kepala Terminal Kalideres dan baru saja 2 bulan dipindahkan ke Terminal Lebak Bulus. Supri tidak banyak memberikan keterangan selain mempersilahkan kepada media ini untuk meninjau atau mendengar langsung dari pihak pengurus agar tidak memberikan informasi yang salah.

“Saya tidak menyangkal jika para penumpang sering mengeluh soal ruang tunggu, namun saya hanya bisa meminta kepada para pengurus untuk bisa bekerjasama,” ujarnya sambil menambahkan jika saat ini selain di sekitar tempat kami wawancara, juga ada lokasi lahan kosong yang berjarak sekitar 200 meter untuk menampung Bus Antar Kota yang akan mengangkut penumpang.

terminal lebak bulus

Menurut Suryadi mereka sempat melakukan pembicaraan dengan Gubernur DKI Jakarta ketika masih dipegang oleh Joko Widodo, dan dijanjikanakan segera diberikan tempat yang layak untuk menjadi terminal pengganti yang lama, namun kenyataannya mereka malah terlantar di atas lahan milik MRT.

“jadi bukan tidak mungkin saatnya nanti mereka akan dipindahkan lagi, tapi tidak tahu kemana,” ujarnya karena lokasi milik MRT sudah tentu akan dipakai untuk kepentingan MRT. Sementara janji dari Jokowi terminalk pengganti akan dibangun di sekitar lokasi yang berdekatan dengan Stadion Lebak Bulus. Namun ternyatra lokasi tersebut malah dipakai oleh MRT.

Terminal Lebak Bulus selama ini banyak melayani penumpang dengan tujuan Jawa Barat dan jalur selatan Pulau Jawa, dengan jumlah armada bus setiap harinya mencapai hingga 250 armada maka sekitar 8.000-9.000 penumpang yang menggunakan jasa terminal.

terminal lbulus

Dengan kondisi yang sangat terbatas saat ini, maka banyak penumpang yang berceceran di pinggir jalan untuk naik ke Bus, bahkan ketika memasuki hari raya, kemacetan yang terjadi di sekitar jalan yang menghubungi ke arah terminal tidak bisa dihindari, karena banyak penumpang yang terpaksa naik dan turun di pinggir jalan karena di dalam terminal sudah sangat sempit dan tidak lagi dapat menampung jumlah penumpang yang akan berangkat.

“Kami hanya berusaha agar tidak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan, karena kenyamanan penumpang sangatlah utama,” ujar Supri yang memilik anggota sebanyak 15 orang dan itupun sudah termasuk dengan petugas kebersihan.

Para pengurus meminta kepada Gubernur baru DKI Jakarta agar Anies-Sandi bisa memberikan mereka tempat yang layak untuk melayani masyarakat yang menggunakan jasa mereka, “Mungkin di sekitar kali Pesanggrahan dibangun terminal yang layak untuk melayani para penumpang,” ujar Koko yang juga salah satu pengurus Perusahaan Otobus yang juga ikut dalam pertemuan dengan Jokowi beberapa tahun lalu bersama Suryadi.

“Penumpang yang naik di pinggir jalan, bukan hanya bisa menyebabkan kemacetan, namun juga sangatlah berbahaya karena mereka bisa saja terserempet kendaraan lain,” ujar Suryadi yang dibenarkan oleh Koko yang pernah melihat seorang wanita yang harus menyeret anaknya yang masih kecil sementara beberapa barang miliknya harus diselamatkan agar bisa naik ke Bus.

Akhirnya para pengurus terkadang juga menjadi petugas portir barang agar bisa membantu para penumpang yang terpaksa harus naik dari pinggir jalan karena lokasi terminal yang sudah sangat penuh dengan penumpang lainnya.

(jall)

loading...