PB Jakarta – Dalam rapat DPR dan Kapolri, Kamis (12/10), DPR mendesak agar Polri membantu Pansus Hak Angket melakukan panggilan paksa, termasuk memanggil paksa pihak KPK. Namun desakan DPR tersebut menurut Ketua SETARA Institute, Hendardi tidak relevan.

“Pemanggilan paksa ini tidak relevan,  karena proses yang sedang terjadi di Pansus DPR adalah proses politik dan domain hukum administrasi negara atau tata negara, dimana DPR sedang menjalankan fungsi ketatanegaraannya melakukan pengawasan. Sementara panggilan paksa hanya dibenarkan dalam konteks meminta pertanggungjawaban pidana atas suatu tindak pidana yang dilakukan oleh seseorang,” tegas Hendardi di Jakarta, Kamis (12/10/2017).

Penggunaan panggilan paksa sambung Hendardi, hanya relevan dalam konteks penegakan hukum pidana. “Maka wajar kalau Polri memberikan dukungan penangkapan dan panggilan paksa yang dilakukan oleh KPK karena KPK sedang menjalankan proses dalam sistem peradilan pidana,” ujarnya.

Menurut Hendardi, ketentuan dalam Pasal 204 UU 17/2014 tentang MD3 adalah cacat materiil karena mengadopsi mekanisme panggilan paksa dalam proses administrasi negara. “Apalagi tidak ada penjelasan detail mengenai bagaimana dan dalam situasi seperti apa panggilan paksa bisa dijalankan. Hal ini berbeda dengan mekanisme panggilan paksa dalam konteks peradilan pidana. Oleh karena itu, sebaiknya Polri tidak perlu menjalankan perintah Pasal 204 UU 17/2014,” ungkapnya.

Dia mengatakan bahwa keabsahan Pansus Angket KPK saat ini masih diproses dalam uji materiil di Mahkamah Konstitusi, karena itu pula ketidakterlibatan Polri dalam melakukan panggilan paksa harus diletakkan sebagai penghormatan terhadap proses yudisial yang sedang berlangsung di MK.

“Keterlibatan Polri dalam menjalankan mekanisme panggilan paksa sebagaima diminta Pansus Angket KPK hanya akan memperkuat legitimasi pembentukan dan kinerja Pansus Angket, padahal baik secara yuridis, politis, dan secara etis Pansus Angket tidak memiliki legitimasi kokoh. Sebaiknya Polri menunggu putusan Mahkamah Konstitusi yang sedang menguji keabsahan kerja politik Pansus Angket DPR ini,” pungkas Hendardi. (Beby Hendry)

loading...