PB, JAKARTA – Rupanya pidato politik Anies Baswedan usai terpilih dan dilantik sebagai Gubernur DKI Jakarta, yang menceritakan kisah masa penjajahan kolonial Belanda dengan menyebut kata “Pribumi” rupanya dianggap sebagai bagian dari rencana oleh sebagian “musuh” Anies-Sandi untuk melakukan kerusuhan sosial.

Walaupun salah satu tokoh sosial masyarakat Jakarta yang juga beretnis dari suku Tionghoa, Zeng Wei Jian sudah berkali-kali menulis tentang persoalan kata Pribumi bukanlah sesuatu yang harus ditakuti, namun masih saja ada orang berusaha untuk memutarbalikkan fakta.

Seperti yang dilakukan oleh seorang pengguna sosial media dengan menggunakan nama Jamhari membagikan tulisannya yang bernada menghasut kepada orang-orang yang dianggap mempercayai jika kata “Pribumi” yang diucapkan Anies dalam pidatonya adalah sebuah peringatan akan terjadinya kerusuhan sosial.

Selamat pagi Indonesia, sebenarnya ide saya membentuk TARI ( Tionghoa Akar Rumput Indonesia) bukan tanpa alasan, karena isu kebangkitan pribumi yg dilontarkan Anies Baswedan ini adalah isu berbahaya, ini bukan saja sekedar isu, karena kalau sudah dibangkitkan isu Pribumi maka sasaran adalah Non Pribumi, celakanya non Pribumi ini sasarannya hanya ditujukan kepada WNI SukuTionghoa, suku yang secara politik paling lemah di Indonesia, kekhawatiran saya kerusuhan akan disulut dengan perlahan-lahan membangun sentimen, dan ini sudah dilakukan, jadi saudara2ku apakah kita WNI Suku Tionghoa hanya tinggal menunggu dijadikan tumbal??? Tidak saudara2ku tunjukkan Merah Putihmu, jangan sampai Tionghoa dijadikan Tumbal politik kotor, kejam di Indonesia ini, bangkit bersatu dengan kelompok masyarakat yang mencintai pluralisme dan melawanlah, berbuat atau tidak berbuat keluargamu ada dalam bahaya tumbal politik ini, mau bergerak atau berdiam diri saudaramu atau keluargamu, dirampok, diperkosa, dibunuh? Bergegaslah bersatu, sebelum semunya terlambat buat menjaga anak cucu kita, kita Indonesia, kita Pancasila.Hubungi Aku di WA 0878-7757-xxxx  (Nomor terakhir redaksi hilangkan) dan bergabung dgn ratusan kawan di group TARI 💪💪💪

Sementara Zeng Wei Jian sendiri hampir beberapa kali menuliskan tentang pengucapan kata Pribumi yang dipakai oleh Anies dalam pidatonya, “Saya akan sangat senang bila Pribumi bisa jadi tuan di negerinya sendiri. Saya kira, itu tujuan para pendiri bangsa Asia Afrika. Termasuk Indonesia. Itu juga beda antara merdeka dan terjajah. Menjadi tuan di negeri sendiri artinya berdaulat di semua aspek kehidupan. Ya politik, ekonomi, sosial, budaya dan sebagainya.”

Bahkan Zeng Wei Jian dengan lantang menyuarakan untuk menghentikan menggiring opini jika Anies melakukan perilaku rasis yang anti Tionghoa. Zeng Wei Jian juga mengingatkan bagaimana kisah perjalanan dari masa ke masa tentang adanya warga keturunan Tionghoa di Indonesia.

pidtao anies

Gelombang migrasi Tionghoa paling masif terjadi di era Gold Rush (1750). Ada yang cari emas sampe Amerika dan Kanada. Sebagian ke nusantara: Bangka, Borneo, Medan dan Jawa. Menurut Prof Liang Liji, nama “Jawadwipa” sudah ada dalam dokumen Dinasti Han tahun 131 SM.

Di era revolusi, pasca Dr Sun Yat Sen merobohkan Dinasti Qing (1911) sampai masa pra proklamasi Agustus 45, Tionghoa pecah tiga golongan.

Chung Hua Hui (CHH) Pro Belanda. Sin Po, THHK, (Totok atau Singke) berkiblat ke Tiongkok. Partai Tionghoa Indonesia (PTI) Pro Republik Indonesia.

Secara sosial kultural, saat itu Tionghoa pecah dua golongan: Totok dan Peranakan (Babah). Distingsinya di bahasa. Totok masih gunakan bahasa Tionghoa. Sedangkan peranakan gunakan bahasa lokal seperti Melayu, Jawa atau Sunda.

Golongan peranakan pecah dua kubu: Pro Belanda dan Pro Republik. Kelompok totok sekali pun menolak status sebagai “Indonesier”, namun mendukung kemerdekan RI. Semangatnya berasal dari spirit revolusioner Dr Sun Yat Sen melawan kolonialisme Eropa.

Otomatis, golongan totok bersama PTI berkonflik dengan peranakan Pro Belanda. Pasca kemerdekaan, Pro Belanda terserap menjadi WNI.

Pasca revolusi komunis Tiongkok, Tionghoa totok pecah dua. Ada yang bloking ke Red China melawan Pro Nasionalis Kuomintang.

Era tahun 1950-1965, Tionghoa berhaluan kiri dominan. Dekat dengan Sukarno, PKI dan Beijing. Motornya Baperki. Tionghoa anti komunis jadi marginal.

Soe Hok Gie anti Sukarno. Arief Budiman bergabung dengan MANIKEBU melawan Lekra.

Pasca G30S/PKI, Tionghoa Kiri kocar kacir. Ada yang kembali ke Tiongkok. Harapannya, sesama komunis akan saling melindungi.

Tapi alas, di Tiongkok sedang pecah Revolusi Besar Kebudayaan Proletar (RBKP). The Gang of Four Jiang Qing sedang berkuasa. Banyak kisah Tionghoa dari Indonesia malah dipersekusi di Tiongkok. Dituduh sebagai mata-mata asing.

Semasa Orde Baru, taipan Tionghoa mulai menggeliat. Di sisi politik, Tionghoa ngumpul di CSIS dan kelompok-kelompok agama. Ada Harry Tjan Silalahi, Sofyan Wanandi, PK Ojong dan sebagainya.

Reformasi buka pintu bagi generasi kedua Tionghoa Kiri. Mantan CGMI, Pemuda Rakyat, Baperki dan sebagainya berhimpun dalam 400-an ormas berbasis Tionghoa yang tiba-tiba lahir.

Semasa Ahok berkuasa, Tionghoa Kiri dan CSIS menyatu. Konflik ideology berakhir. Mayoritas Pro Ahok. Saya cuma tau Lieus Sungkharisma saja yang kontra Ahok.

Pasca Pilkada 2017, Anies-Sandi menang telak. Tionghoa prohok langsung bingung. Terlanjur buka front Anti ASA. Hanya kelompok pengusaha, pebisnis, tukang proyek yang lincah bermanuver. Langsung jilat-jilat Gubernur Baru.

Sebaiknya, Tionghoa melupakan Ahok. Start brand new life. Support Anies-Sandi demi kemajuan Jakarta. Jangan mau dihasut dan dikadalin dengan slogan “Anies Rasis”. Itu ngga benar. Jangan lagi berkonyol-ria dengan baju kotak-kotak dan kirim bunga. Jangan mau dimasukan ke dalam golongan kaum IQ 1-digit.

anies rs tionghoa

Bahkan untuk mendukung pernyataannya Zeng Wei Jian memperlihatkan foto dan juga menceritakan bagaimana sikap Anies terhadap salah satu pendukung keras Ahok dalam masa pilkada yang juga merupakan Ketua Ormas Tionghoa, Benny G Setiono ketika terbaring di Rumah Sakit dan dijenguk Anies. Bahkan ketika Benny meninggal, Anies bahkan masih sempat mengunjungi rumah duka tengah malam. Setelah mendengar kabar duka.

Dan ternyata menurut Zeng Wei Jian atau biasa dikenal dikalangan rekan-rekannya dengan nama Ken Ken, antara Benny dan Anies terjalin persahabatan walaupun akhirnya perbedaan pandangan politik hingga keduanya harus berseberangan.

Ternyata, saat Benny G Setiono dirawat di rumah sakit, Anies sempat menjenguk. Bila ada orang berkata “Anies Anti Tionghoa”, kemungkinan besar dia ngga kenal Anies. Atau bisa jadi, orang ini anggota klub IQ 1-digit. Kalo sudah begini, hastag “Anies Rasis” mesti diganti jadi #guagoblok.” tulis Zeng Wei Jian yang ditujukan kepada pendukung Ahok yang masih saja berusahan untuk membuat kekacauan dengan membuat tulisan dan anjuran kepada para sesama pendukung Ahok agar tetap tidak mempercayai apapun yang dikatakan dan dilakukan oleh Anies dan Sandiaga Uno.

(jall/sumber)

 

loading...