PB Kalbar : Asosiasi Pengembang Perumahan Indonesia (APPERINDO), yang berkiprah dalam pengembangan perumahan menengah kebawah atau lebih dikenal dengan Masyarakat Berpenghasilan Rendah (MBR), telah melakukan secara total pengerjaannya, sesuai program yang dicanangkan oleh Presiden maupun Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat.

Salah satunya adalah seperti yang dilakukan oleh pengembang dari anggota APPRINDO dengan melaksanakan program sejuta rumah dengan nama Perumahan Istana Griya 1.

IMG-20171105-WA0305Perumahan Istana Griya 1 merupakan perumahan bersubsidi yang sudah mengantongi izin dan terletak di Kumpai Kecil, Desa Kuala Dua, kecamatan Sungai Raya kabupaten Kubu Raya provinsi Kalimantan Barat. Sementara ini , Pekerjaan dalam proses tahap 3 dari rencana 4 tahap. Dengan total pembangunan 3000 unit.

Namun amat disayangkan dalam pelaksanaannya dirusak oleh oknum yang tidak bertanggungjawab. Hal tersebut diungkapkan oleh Badarudin Alfaruq selaku marketing pengembang Perumahan Istana Griya I, Kubu Raya Kalimantan Barat, Jum'at (3/11).

Badarudin menjelaskan bahwa salah satunya dilakukan oleh segerombolan orang yang mengatas namakan perguruan Alfakar. Aksi penggerusakan terhadap perumahan yang tengah dibangun itu dilakukan oleh 70 hingga 100 orang dalam setiap harinya dengan menggunakan alat. palu, gergaji, cangkul, dan alat penggali tanah.

Badarudin juga mengatakan bahwa mereka melakukan aksinya dengan cara memagar kompleks pembangunan perumahan, menimbun akses jalan fasum perumahan dengan tanah galian. Selain itu mereka juga membuat parit dan memutus jalan dengan parit-parit tersebut. Nekatnya lagi kata dia, di areal perumahan tersebut sengaja diganjal dengan ditanami pohon kelapa sawit.

Bahkan oknum tak bertanggung jawab tersebut mendirikan pos sebanyak 3 titik. Bahkan gilanya lagi, pos.didirikan ditengah jalan perumahan. Dengan memasang tulisan bernuansa provokasi. Mereka sengaja memasang informasi dokumen palsu. Semisal, tanah ini seluas 40 Ha milik ahli waris Drs. Aliudin Saini. Lantas peta tanpa cap dan tanda tangan Badan Pertanahan Nasional (BPN), yang mengatas namakan peta dari kepolisian.

Masih menurut Badarudin, mereka berani melakukan aksi pengerusakan itu lantaran diduga dibekingi oleh oknum polisi di kawasan Kalimantan Barat.

Hampir setiap hari selama 2 minggu puluhan oknum aparat kepolisian mendatangi lokasi pengerjaan proyek Istana Griya 1 yang pada akhirnya menghambat  pembangunan perumahan untuk masyarakat berpenghasilan rendah ini.

IMG-20171105-WA0306Bahkan lanjut Badarudin, mereka sengaja memasang informasi dokumen palsu. Semisal, tanah ini seluas 40 Ha milik ahli waris Drs. Aliudin Saini. Lantas peta tanpa cap dan tanda tangan Badan Pertanahan Nasional (BPN), yang mengatas namakan peta dari kepolisian. Sertifikat tersebut hanya berdokumen peta bodong dan surat dari desa tahun 2006 dan 2017.

“Padahal Pihak Istana Griya 1 memiliki sertifikat yang tidak bermasalah,  kenapa dipermasalahkan?” ujar Badarudin kembali

“Kami berharap agar pihak kepolisian, dalam hal ini Mabes Polri melakukan tindakan tegas terhadap oknum anggota Polri yang turut terlibat di belakang aksi pengrusakan perumahan Perumahan Istana Griya I, Kubu Raya Kalimantan Barat,” pungkasnya.

Hal senada juga diungkapkan Sigit salah seorang marketing APPRINDO. Pembeli kami sudah memesan perumahan tersebut sebanyak 173 orang. Selain sudah memenuhi persyaratan pembelian, mereka juga sudah mengikuti prosedur KPR pada Bank BTN cabang Pontianak. Tapi akibat ulah oknum yang tak bertanggung jawab, walhasil tahap wawancara akhirnya mereka semua mundur alias membatalkan perjanjian mengambil rumah. Maklum karena mereka ragu dengan keabsahan perumahan. Akibat tindakan oknum perampas lahan. Para oknum tega memasang sederet baleho bernada fitnah. Oleh karena itu kami selaku marketing jelas mengalami kerugian dari pendapatan penjualan.

Dalam peristiwa ini pihaknya sudah mengadukan ke Presiden RI melalui surat tembusan Bupati, Gubernur dan Kementerian PUPR untuk meminta bantuan penyelesaian. (Red)

loading...