PB, SOLO – Ketika diwawancarai oleh salah satu stasiun televisi, Ketua PB NU Said Aqil Siradj mengatakan jika kebudayaan adalah infrastruktur agama, hal ini diucapkan Said ketika menghadiri pernikahan Putri Presiden Joko Widodo yang dilaksanakan pada, Selasa (8/11/2017) di Gedung Graha Saba Buana Solo, Jawa Tengah.

Ucapan Said Aqil ini menjawab permintaan dari reporter televisi terkiat dengan pesan pesan yang harus disampaikan oleh Said Aqil kepada generasi muda, terutama di kalangan NU. Dan Said Aqil meminta kepada generasi muda agar menjadikan kebudayaan adalah infratsruktur agama, yang tentunya Agama Islam yang dimaksud oleh Said Aqil.

Hal ini sudah tentu yang dimaksudkan oleh Said Aqil, untuk mendukung pernyataan sebelumnya, ketika dirinya menyetujui pernikahan yang dilakukan dengan mencampurkan antara Agama Islam dan kebudayaan adat jawa, dimana menurutnya kebudayaan adalah prasana untuk menjadi penunjang utama bagi terselenggaranya suatu proses dalam Agama Islam, yang kemudian menjadi Islam Nusantara.

Pernikahan itu ibadah dan sudah dilaksanakan sesuai dengan syariat Islam, tapi tidak mengenyampingkan budaya, selebihnya itu acara pentingnya adalah budaya, jika sudah menyatu antara Islam dan budaya, maka dua duanya menjadi kuat, itulah ciri khas tipologi Islam nusantara,” ujar Said Aqil usai mengikuti prosesi pernikahan Kahiyang dan Bobby.

Secara tidak langsung Said Aqil menyebutkan jika seluruh prosesi pernikahan Kahiyang dan Bobby dan disetujui oleh kedua belah pihak, mengedepankan prosesi pernikahan secara Islam nusantara, bukan layaknya prosesi pernikahan secara Islam yang mengedepankan Al Quran dan Sunnah Rasul.

“Jadi yang dimaksud oleh Said Aqil jika Presiden Jokowi mendukung proses pernikahan dengan sistim Islam Nusantara, bukan Islam yang diajarkan melalui Al Quran dan Sunnah Rasul,” ujar Darwis salah satu tokoh muda muslim asal Maluku Utara.

Sementara itu perdebatan soal Islam Nusantara, sampai saat ini masih berlangsung, bahkan guru besar filologi Islam UIN Jakarta Oman Fathurrahman, dalam sebuah diskusi yang diselenggarakan di Makassar pada tanggal 22 April 2015 lalu, yang menyetujui adanya Islam Nusantara, menyebutkan jika Islam Nusantara itu berasal dari hasil pengamatan yang dilakukan oleh seseorang atau kelompok yang kemudian dicoba untuk dikembangkan dalam masyarakat Nusantara.

“Padahal yang kita maksud bukan Islam yang normatif tapi Islam empirik yang terindegenisasi,” ujarnya merumuskan kalimat untuk menceritakan munculnya Islam Nusantara. Sebagai hasil dari sebuah interaksi dan konstektualisasi yang kemudian terindigenisasi.

Menurut Darwis, tentunya hal ini berbeda dengan dengan Islam yang dianggap sudah normatif dimana, Islam yang dimaksud adalah Islam yang sudah sesuai dengan kaidah Islam yang berpegang pada Al Quran dan Hadish Rasulullah. Dan menurutnya, persoalan infrastruktur Agama Islam bukanlah kebudayaan, tapi mengacu pada Rukun Islam dan Rukun Iman. Berikut Video Said Aqil ketika diwawancarai.

aya

loading...