PB, JAKARTA – Dengan modal nekad dan dijanjikan iming-iming sebesar 15 persen dari jumlah dana sebesar, USD 300.000, seorang ibu rumah tangga berinisial RSD alias Atun, membuat sebuah perusahaan baru bernama PT. Jerminggo Global Internasional, dengan menggunakan sebuah Kartu Tanda Penduduk (KTP) milik orang lain.

Dengan bermodalkan KTP palsu tersebut, RSD juga membuat rekening perusahaan. RSD tidak bekerja sendiri, namun dengan beberapa rekannya yang berposisi di Singapura dan Indonesia, mereka menguras dana milik seorang pemilik rekening di Bank DBS Singapura.

Pelaku utama di Singapura, dengan mengatasnamakan sebagai pemilik rekening dari PT. Green Palm Capital Corporation. Lalu dengan menggunakan sebuah dokumen transfer palsu, dalam bentuk PDF, mulai melakukan permintaan ke pihak DBS Singapura untuk melakukan pengiriman transfer dari rekening pemilik perusahaan.

Selain memalsukan isi dokumen transfer, termasuk memalsukan tanda tangan pemilik rekening, dana sebesar USD 950.000 atau setara dengan Rp. 12.350.000.000,- di transfer oleh Bank DBS Singapura kepada 4 buah rekening berbeda di Indonesia, dan salah satunya adalah rekening atas nama PT. Jerminggo Global Internasional.

Dari hasil penangkapan dan penyidikan oleh tim Direktorat Pidana Ekonomi Khusus, (Ditipideksus) Mabes Polri, pada tanggal 29 September 2016, PT. JGI menerima transfer di BRI (tbk) sebesar USD 300.000. Dari hasil penyelidikan juga ditemukan, pengajuan transaksi pada rekening tersebut, dengan cara memalsukan aplikasi transaksi (Telegraphic Transfer Form) dengan menggunakan copy paste tandatangan pemilik rekening.

Sementara itu pihak Bank DBS Singapura sama sekali tidak ingin disalahkan, walaupun telah dikonfimrasi terkait dengan prosedur transfer yang tidak dilakukan oleh pemilik rekening, seperti melakukan cross check ulang kepada pemilikm rekening terlebih dahulu sebelum melakukan transfer dengan jumlah yang cukup besar.

“Ada keganjilan yang kami temukan pada Form Telegraphic Transfer, dimana perbedaan bentuk dan ukuran huruf dibandingkan dengan form asli, dan FTT yang dibuat ternyata berasal dari hasil copy apste dari bentuk PDF.” ujar Kanit III Subdit 2 Perbankan, AKBP Karijan, SH. mewakili Kepala Subdit II Perbankan Direktorat Tipideksus Bareskrim Polri.

Berkas penyidikan dan penyelidikan yang dilakukan sudah lengkap dan pada tanggal 3 Januari 2018, berkas dan RSD alias Atun diserahkan kepada pihak Kejaksaan Agung, yang kemudian dilimpahkan ke kantor Kejaksaan Negeri Jakarta Timur untuk dilakukan penyidikan lanjut oleh pihak Kejaksaan.

“Kami baru menerima berkasnya, dan masih ada waktu selama 20 hari untuk melakukan pemeriksaan ulang terkait dengan isi BAP yang sudah dikirimkan dari kepolisian, dan kasus ini dilimpahkan oleh pihak Jaksa Penuntut Kejagung ke Kejari Jakarta Timur,” ujar Kepala Seksi Pidana Umum Ahmad Muchtar, kepada media ini di ruangannya.

Terdakwa dikenai Pasal 85 Undang-Undang Nomor 3 tahun 2011 tentang Transfer Dana dan atau Pasal 263 ayat (2) KUHP dan Pasal 3 Undang-Undang Nomor 8 tahun 2010 tentang Pencegahan dan Pemberantasan Tindak Pidana Pencucian Uang. dengan ancaman hukuman selama 5 tahun penjara.

Rupanya jaringan pembobol Bank Internasional ini sangat profesional, karena dari laporan yang diberikan oleh pelapor selaku korban yang mengalami kerugian, transfer bukan hanya dilakukan ke Indonesia, namun juga ke beberapa rekening di China dan Hongkong, hingga total kerugian mencapai hingga USD 1,860,000.00.

(jall)

loading...