PB Jakarta : Menghadapi era Globalisasi yang diiringi dengan perkembangan  teknologi digital, dengan munculnya berbagai ancaman dalam bentuk dunia baru. Seperti cyber war, proxy war, asymmetric wars, cyber terorisme, Cyber espianage, dan lain-lainya, para pakar di Bidang Intelijen menghadiri dan menjadi pembicara saat launching dan bedah buku yang berjudul “Intelijen di Era Digital, Prospek Tantangan Membangun Ketahanan Nasional” karya Ngasiman Djononegoro, yang diadakan di Menara Batavia, The President Lounge di Jl.KH.Mansyur KV.126 Tanah Abang Jakarta Pusat, Rabu, ( 20/1/18 ).

Sejumlah tokoh penting yang hadiri seperti : Jendral TNI (Purn) Prof. Dr.Hendro Priyono, ST SH, MH (Kepala Badan Intelijen Negara 2001-2004) sebagai Keynote Speaker dan delapan penulis yakni Prof. Krisnadi (pakar politik dan keamanan CSIS), Laksama Madya TNI Arie Soedewo. SE, MH (Kepala Badan Keamanan Laut), Marsekal Muda TNI Kisenda Wiranata Kusuma, MA (Kepala Badan Intelijen Strategis TNI), Komjen Pol. Drs. Lutfi Lubihanto, MM (Kepala Badan Intelijen dan Keamanan Polri), Dr.Wawan H. Purwanto (Pengamat Inteljen), Prof. Dr. Marsudi Wahyu Kisworo, (Rektor Perbanas Institute / Tenaga Ahli Pertahanan Siber Kemhan RI), Dr. Eko Sulistyo (Deputi 4 Kantor Staf Presiden RI), Drs.Heri Haryanto Azumi  (Sekjen PB MD Hubbul Wathon).

IMG-20180110-WA0225Buku ini ditulis dengan pendekatan ilmiah populer. Terdiri dari 4 bab, buku ini mencoba mengupas isue -isue penting sekaligus genting dalam dunia intelijen.

Sebagai catatan dalam satu dasawarsa
pertama abad 21. jumlah orang yang berhubungan dengan internet diseantero dunia melesat dari 350 juta ke 2 milyar dan tahun ini diperkirakan mencapai sudah 6 milyar lebih. Ini berarti ditahun tahun mendatang dunia sudah dalam genggaman digital. Siapa yang menguasai digital berarti menguasai dunia.

Intelijen sebagai garda terdepan dalam menjaga NKRI harus memahami dengan sepenuhnya tentang ancaman dunia baru ini. Dengan kehadiran buku ini diharapkan dapat memberikan gambaran jelas kepada insan Intelijen Indonesia,  tentang bagaimana prospek dan tantangan membangun ketahanan nasional di era digital.

IMG-20180110-WA0223Sinopsis  Intelijen Di Era Di Gital

Di era digital ini, aneka kejahatan terus berdatangan, baik berskala lokal dan global maupun transnasional yang tidak mengenal batas dan waktu. Dukungan kecanggihan teknologi zaman ini adalah perangkat lunak (software) dan perangkat keras (hardware) yang sangat canggih. Peperangan yang dulunya dididik dengan senjata, peluru, pembunuhan, pengeboman dan sebagainya kini telah bergeser seiring dengan perkembangan teknologi. Kini peperangan telah memiliki model baru yang jauh berbeda dengan peperangan konvensional.

Bayangkan kelompok teroris, perbankan hingga profile terhadap orang atau perusahaan melakukan aksinya dengan dukungan digital. Tak hanya itu penyebaran informasi hoax bernada SARA dapat berlangsung melalui perangkat digital. 

Bahkan sepanjang tahun 2017 lalu,  tercatat ada 205.502 158 tangan-tangan cyber yang menyerbu pertahanan digital Indonesia.  Serangan ini mulai mulai dari serangan hoax, penegasan terhadap KPU, peretasan  website pemerintah dan BUMN, hingga serangan lain yang langsung menembus ke masyarakat.

IMG-20180110-WA0226Diera digital sekarang juga muncul istilah low intensity wars  (perang intensitas rendah), network centric warfare  (perang berpusat pada jejaring), fourth generation wars (perang generasi keempat), non-conventional/hybrid wars. (perang nonkonvensional ), dan asymmetric wars (perang asimentris).

Karena itu Intelejen dituntut mampu beradaptif di berbagai dinamika dan perkembangan digital. Karena perang di era digital berlangsung saat dunia dalam keadaan sunyi dan senyap. Jika dulu dalam gerakan penyusunan agen Inteljen terhadap suatu negara melalui jalur darat, diabad informasi sekarang penyusupan Inteljen  melalui dunia cyber. (Suwondo S)

loading...