PB Jakarta : Percepatan pembangunan infrastruktur yang digalakan pemerintah dalam tiga tahun terakhir perlu diikuti oleh upaya memperkuat pengembangan industri untuk meningkatkan multiplier effect bagi pertumbuhan dan pengembangan pembangunan ekonomi. Peluang usaha yang tercipta dari pembangunan berbagai infrastruktur dari jalan, toll, pelabuhan dan bandar udara harus segera diisi oleh pelaku usaha agar akses pasar dalam yang kini kian terbuka bisa dioptimalkan untuk memperkuat struktur perekonomian nasional.

“Sinergi antar pelaku ekonomi, pemerintah daerah dan pemerintah pusat untuk memanfaatkan peluang yang tercipta dari pembangunan infrastruktur perlu segera ditingkatkan agar multiplier effect bisa lebih dirasakan secara luas. Kita perlu menjadikan pasar dalam negeri yang begitu besar untuk pengembangan kekuatan industri dalam negeri, terutama industri kecil,” kata Duta Investasi RI untuk Jepang, Rachmat Gobel dalam round table discussion (RTD) dengan tema Membangun Strategi Kebijakan Untuk Memperkuat Struktur Perekonomian Menuju Pertumbuhan 7%-8% per tahun: Bagaimana Peluang dan Potensi UKM dan UMKM?

Dalam RTD yang menghadirkan pembicara antara lain ekonom Faisal Basri, Ketua Umum Gaikindo Johanes Nangoi, Wakil Ketua Umum HIMKI Sobur dan Heru Santoso Sekjen Gabel, Eiichi Abe President Direktur PT Indonesia Epson Industry itu terungkap bahwa agenda pembangunan industri saat ini masuk dalam titik krusial agar Indonesia bisa masuk dalam kelompok negara berdaya saing tangguh.

IMG-20180111-WA0230“Dalam beberapa tahun terakhir, laju pertumbuhan industri selalu berada di bawah laju pertumbuhan ekonomi dan ini tidak sehat. Meskipun secara total value added sektor industri Indonesia berada di posisi ke 4 dunia, kita tidak boleh terkecoh karena secara per kapita nilai tambah sektor industri kita kalah dengan negara seperti Vietnam,” kata Faisal

Dia mengingatkan, tidak ada satupun negara di dunia yang mampu masuk ke kelompok negara maju tanpa didukung oleh sektor industri yang kuat. “Di samping itu, perlu diingat bahwa sektor industri merupakan penyumbang pajak terbesar sehingga tidak berlebihan bila menteri keuangan memberikan porsi anggaran yang lebih besar untuk pengembangan sektor industri ini,” kata Faisal.

Menurut Rachmat Gobel, peluang Indonesia untuk memacu pertumbuhan industri masih sangat terbuka, termasuk untuk menunjang laju pertumbuhan ekonomi ekonomi sampai 7%-8%.

“Tantangan dan hambatannya memang banyak (untuk mewujudkan pertumbuhan ekonomi 7-8%—Red). Tapi, peluang yang tersedia besar, tinggal kita mau tidak memanfaatkannya. Kekayaan sumber daya alam (SDA) dan jumlah penduduk atau pasar yang besar merupakan dua hal yang menjadi kekuatan Indonesia,”ujar Rachmat Gobel.

Menurut Rachmat Gobel, berdasarkan pengalamannya sebagai menteri perdagangan, dia  melihat masih banyak hal yang bisa dilakukan pemerintah untuk meningkatkan nilai tambah perekonomian nasional. Antara lain dengan menyiapkan UKM dan UMKM memanfaatkan peluang pasar dalam negeri yang besar maupun peluang pasar ekspor.

Rachmat mengatakan kebijakan pemerintah untuk memacu pembangunan infrastruktur mulai dari pelabuhan, bandara, listrik, pariwisata hingga jalan tol, bisa meningkatkan daya saing perekonomian Indonesia. “Diskusi kita hari ini adalah bagian dari upaya kita untuk sama-sama memikirkan bagaimana strategi kita  memanfaatkan pembangunan infrastruktur untuk memacu pertumbuhan ekonomi nasional yang tinggi,”katanya.

Ketua Umum Gaikindo Johanes Nangoi menyebutkan, pengembangan industri menengah kecil memang sangat dibutuhkan untuk mengisi kekosongan pasokan komponen. Di sektor otomotif, katanya, jumlah komponen mobil sampai 10.000 item yang diproduksi oleh pelaku pelaku industri tier 1 dan tier 5. “Ini perlu diisi oleh industri menengah kecil dalam negeri, dan saat ini yang sangat dibutuhkan adalah pengembangan tier 4 dan tier 5 agar industri otomotif nasional mempunyai daya saing yang kuat seperti Thailand,” katanya.

Tidak berbeda jauh dengan Nangoi, Heru Santoso dari Gabungan Elektronika menyebutkan, beberapa pelaku industri di sektor ini sudah mengembangkan model kerjasama dengan pelaku industri kecil menengah. Namun karena masih terbatas pada insiatif perusahaan, perjalanannya belum begitu pesat. “Dengan berbagai kendala, pelaku IKM membutuhkan waktu sekitar lima tahun untuk bisa mencapai standard produksi yang bisa memenuhi standar. Ini yang perlu ditingkatkan melalui kebijakan pemerintah agar proses bisa lebih cepat dan cakupan kerjasamanya bisa diperluas” katanya. (Dirawantara)

loading...