PB, SURABAYA – Keberadaan pewarta yang bertugas melakukan peliputan di wilayah ‘Tepi Laut’ (sebutan populer Jurnalis Pokja Pelabuhan, red) tampaknya membuat risih ‘Pak Syahbandar’.

Pasalnya, saat para pewarta yang sudah terbiasa nongkrong di area Kantor Kesyahbandaran Utama Tanjung Perak Surabaya ini dikala senja, tiba-tiba diminta untuk menjauh dari pandangan.

Salah seorang petugas penjaga instansi pemilik keselamatan dan keamanan pelayaran tersebut, meminta pewarta agar menjauh dari pandangan seraya menyelip ujaran larangan nongkrong di areal lalu-lalang sang atasan.

“Karena Pak Syahbandar gak senang ada yang duduk-duduk saat sedang meninggalkan kantor. Jadi, jangan di sini,” ujar pegawai Dinas Provoost (DP) Kesyahbandaran tersebut, Selasa, (06/02).

Mendapat teguran itu, kecamuk dan kasak-kusuk pun menyeruak di dalam benak para jurnalis yang kebetulan tengah berdiskusi meteri peliputan sambil menikmati nuansa jelang senja di tepi dermaga.

Seorang pewarta Jurnalis Pokja Pelabuhan pun menggumam tentang kebijakan sekonyong-konyong tersebut setelah menyandarkan pikir hingga jauh ke belakang.

Jurnalis kelahiran Lamongan ini mengatakan, upaya menjauhkan pandangan dari penglihatan ‘bos’, sepertinya di luar kelaziman institusi pelayanan publik di ujung Surabaya tersebut.

Semenjak bertugas dan menempati pos Pelabuhan Tanjung Perak, jurnalis media online tersebut mengaku, belum pernah mengalami kikuk dengan perintah yang isunya baru dikumandangkan.

“Pagi tadi, kami semua di briefing untuk menjalankan perintah,” aku seorang DP lagi.

Menurutnya, keinginan atasan untuk jauh memandang dengan pandangan lepas tanpa terganggu penglihatannya tersebut diperuntukkan dan berlaku tanpa terkecuali.

Siapapun, mulai dari pengunjung, dinas luar hingga wartawan pun, sebisanya tidak kongkow dan berjubel di area kantor.

“Kalaupun ada yang berkepentingan, misalkan dari teman-teman pers, tetap dipersilakan, tapi harus melapor dulu dan didampingi petugas jaga,” tuturnya.

Menyusul perintah tak tertulis tersebut, gerutu pun bergemuruh di kalangan Jurnalis Pokja Pelabuhan yang diklaim menjadi mitra lama Kesyahbandaran maupun stakeholder di Pelabuhan Tanjung Perak.

Sayangnya, pelarangan yang kian santer dan menggumpal menjadi praduga itu belum mendapatkan keterangan resmi secara langsung dari Kepala Kantor Kesyahbandaran Utama Tanjung Perak Surabaya, Amiruddin.

“Seumur-umur saya bertugas menjadi wartawan dan lama di Tanjung Perak, baru ini ada larangan duduk-duduk. Sekarang kok jadi aneh. Ada apa ya?,” seloroh kuli disket media online berbasis arsip asal domisili kota pudak ini keheranan.

Sekadar nostalgia, jauh sebelum pekik larangan disuarakan, regulator yang berkantor di dermaga dekat muara pertemuan sungai Kalimas dengan lautan tersebut begitu enjoy dinikmati suasana berikut keramahannya.

Keberadaan pegawai, petugas agen pelayaran yang akrab disebut Dinas Luar hingga para jurnalis saling berbaur tanpa sekat dan bersama-sama menjadi satu keakraban.

(WP/sa/ms)

loading...