PB, Jonggol/Bogor- Kepala Badan Nasional Pencarian dan Pertolongan (Basarnas) Marsekal Madya TNI M. Syaugi melakukan peninjauan pemasangan antena peralatan deteksi dini terbaru yang dimiliki Basarnas bernama LEOSAR dan MEOSAR, di Badiklat Basarnas di Desa Cariu Jonggol Kab. Bogor, Rabu (7/3).

Basarnas sendiri telah mengoperasikan peralatan deteksi dini (LEOLUT) sejak 1991 dan hingga saat ini masih berlangsung. Pengembangan sistem komunikasi deteksi dini Basarnas bermula dari sistem LEO SAR (Low Earth Orbit SAR) yang memiliki orbit polar bergerak dari kutub ke kutub dan mengitari bumi pada ketinggian 800-1000 km.

Tahun 2017, Basarnas membangun sistem deteksi dini terbaru dengan menggunakan orbit satelit MEOSAR (Medium Earth Orbit SAR) berada pada ketinggian 24.000 km. Disamping itu MEOSAR juga memiliki cakupan wilayah pendeteksian lebih luas serta hasil yang lebih cepat dan akurat dibandingkan LEOSAR.Deteksi Bahaya Dini, Basarnas Perkenalkan Meolut Teknologi Tercanggih

“Kita beli Meolut 2017, itu untuk mendeteksi apabila ada kecelakaan, baik di darat maupun di laut yang menggunakan , jadi jika terjadi kecelakaan di laut, Efod alat itu mengirim sinyal ke satelit,  kita bisa menangkap sinyal itu , namanya Meolot, sebelumnya kita punya Leo ( Low Earth Orbit),”kata Syaugi kepada awak media disela-sela kegiatan tersebut,

Bedanya jika Leo, “begitu ada sinyal membutuhkan agak lama untuk terdeteksi di kantor Basarnas, kita ingin tahu posisinya di mana, tergantung satelit, karena satelit yang mtch dengan Leo sedikit sekali, hanya bisa 1 hari, jadi baru besok menerimanya,”lanjutnya.

Dijelaskannya, alat Meolod ini sampai 5 menit, kita sudah buktikan sudah dicek, kita pesan baca pesan emergency, maksimal 5 menit sudah terdeteksi, faktor erronya kecil, sehinggga bisa mendeteksi sinyal.

“Agar kita diakui dunia luar yaitu Basarnas kita sudah mampu, untuk mengetahui posisi, sehingga pencarian kita lebih cepat,”tutup Kepala Basarnas diakhir kegiatan itu. (Mal)

 

 

 

loading...