PB, INTERNASIONAL – Gelar Wiesel Award yang diterima oleh Aung San Suu Kyi dari US Holocoust Memorial Museum tahun 2012 lalu secara pasti, kamis (8/3/19), akhirnya dicabut kembali oleh pihak pemberi award dikarenakan desakan atas tindakan Aung San Suu Kyi membela dan membiarkan terjadinya pembantaian kemanusiaan yang terjadi terhadap etnis Rohingya yang diperkirakan sudah memakan korban mati hingga ribuan nyawa dan mengakibatkan lebih dari 600 ribu warga Rakhine dari suku Rohingya mengungsi keluar dari negaranya akibat tindakan yang dilakukan oleh militer Myanmar.

Sebelumnya pihak Oxford University,yang sempat memberikan penghargaan Freedom of  The City Of Oxford atas jasanya yang dianggap sebagai “Oposisi terhadap opresi dan kepemimpinan militer di Burma” pada tahun 1997 juga sudah mengambil tindakan dengan mencabut foto Aung San Suukyi dari kampus Oxford sebagai bagian tidak diterimanya Suu Kyi lagi sebagai bagian dari penerima penghargaan.

Dari dalam negeri Indonesia sendiri sudah mendesak ke berbagai pihak yang telah memberikan penghargaan dan award kepada Suu Kyi agar segera dicabut, bahkan desakan yang paling kencang ditujukan kepada pihak pemberi Nobel Perdamaian kepada Suu Kyi agar segera dicabut, karena dianggap tidak pantas.

Alhamdulillah Allahu Akbar.. Doa kita semua pun diijabah AllahSWT…” tulis Fahira Fahmi Idris Wakil Ketua Komite III DPD RI, dari senator Jakarta yang lantang “berteriak” mengecam tindakan militer dan pembelaan Aung San Suu Kyi terhadap pembantaian etnis muslim Rohingya, melalui akunnya @fahiraidris.

Fahira Idris, yang juga dipercayakan oleh rekan rekannya sebagai Ketua Umum Bang Japar, mengucapkan syukur atas tindakan yang dilakukan oleh pihak US Holocoust Memorial Museum yang dengan berani dan tegas mencabut kembali penghargaan yang sudah diberikan sebelumnya. Dan harapan terakhir tinggal menunggu keputusan dicabutnya hadiah nobel perdamaian dari Aung San Suu Kyi.

(jall)

loading...