PB Kolaka – Kamis, 15 Maret 2018, hari dimana perjuangan terasa lebih berat dari hari biasa.

Kamis pagi ini, aku harus berdebat dengan keadaan karena merupakan jadwal mengajarku di sekolah.

Mama melarang aku untuk pergi karena hujan semalam yang lumayan deras yang pasti telah mengubah jalanan menuju sekolahku menjadi seperti kubangan kerbau.

Maklum saja, sekolah tempatku mengajar, SD-SMP Satap 1 Anawua ada di ujung batas, di ujung Bumi Mekongga, Kabupaten Kolaka. Berbatasan langsung dengan Kabupaten Bombana.

Akses jalannya lumayan karena kalau di musim penghujan beceknya minta ampun segingga sering aku terjatuh karena licinnya jalan.

Kalaupun kemarau, debunya luar biasa karena  bisa membuat warna baju berubah seperti warna tanah.

Namun aku nikmati semua itu karena aku percaya hasil tak akan menghianati perjuangan dan jerih payahku.

Di hari Kamis pagi ini, meski dengan kondisi langit yang gerimis, aku nekat untuk pergi.

IMG-20180315-WA0122Karena jika aku tak pergi, tak akan ada yang menemani para siswa di sekolah.

Maklum, teman-teman seprofesiku sedang ada kegiatan Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) di luar daerah.

Dengan semangat yang tinggi seperti semangat Bung Tomo ketika memimpin perlawanan Arek-arek Suroboyo melawan tentara sekutu, aku berangkat menuju sekolah.

Jalanan di mana sering tergenang air dan lumpur berhasil kulewati meskipun akibatnya sepatu yang kukenakan harus kotor karena terkena lumpur.

Perjuanganku tak sampai disitu meskipun hujan yang kian lama kian lebat membuatku tak punya pilihan lain selain harus menembus hujan itu, karena tak ada tempat untuk berteduh.

Alhasil, badanku basah kuyup, namun aku harus tetap melanjutkan perjalanan, karena memang tak ada tempatku berteduh.

Maklum perjalanan ke sekolah melewati kebun-kebun dan bukan perumahan atau perkotaan seperti beberapa diantara kalian.

Sesampainya diriku di sekolah, para siswa tercengang melihat kondisiku yang serba berantakan.

Mungkin mereka heran melihat tekadku yang kuat untuk mengajar hari ini.

Kondisi badan yang basah kuyup membuatku tak bisa mengajar seperti biasa.

Hanya mengajari siswa lagu-lagu kebangsaan guna persiapan upacara pada hari Senin pekan depan, tentunya dalam keadaan badan basah.

Setelah jam pelajaran usai, aku pun memutuskan pulang meski dengan kondisi hujan yang belum juga reda.

Kepulanganku kembali harus berhadapan dengan jalanan yang super becek.

Jalanan yang licin membuat ban motorku yang memang sudah gundul membuatku tergelincir sehingga pakaian yang aku kenakan pun harus robek akibat terjatuh.

Sering aku berfikir, bagaimana jika ternyata aku tak mampu kembali ke rumah? Bagaimana jika aku tak bisa lagi berjumpa dengan keluarga dan siswa-siswaku esok hari? Bagaimana jika orang-orang menemukanku dalam keadaan tak bernyawa, karena kecelakaan akibat medan jalan yang begitu ekstrim?

Kondisi upah yang tergolong sangat minim memang membuatku agak kesulitan untuk segera memperbaiki kerusakan-kerusakan yang terjadi pada kendaraanku.

Bahkan, sebenarnya untuk makan pun, jika hanya mengandalkan gaji yang minim itu, rasanya tak kan cukup.

Tekad kuat untuk mencerdaskan anak bangsalah yang membuatku seperti ini.

Meski pemerintah pusat dan daerah terbilang acuh tak acuh dengan kesejahteraan kami, para guru honorer yang mengabdi di daerah tertinggal seperti ini.

Aku sadar, apa yang aku alami saat ini belum sebanding dengan perjuangan guru-guru jaman dahulu yang harus mengayuh sepeda berkilo-kilo meter jauhnya hanya untuk mencerdaskan murid-muridnya.

Belum lagi di tengah minimnya penghasilan, kami harus berhadapan dengan ancaman kriminalisasi dan hukuman dari orang tua siswa seperti yang banyak terjadi di daerah-daerah lain.

Aku berharap, di masa mendatang, kami sudah lebih diperhatikan oleh segenap pemangku kepentingan di negeri ini.

Dari Desa Anawua, Kecamatan Toari, Kabupaten Kolaka, Sulawesi Tenggara, untuk INDONESIA.

Penulis: Iga Eryani

loading...